Persiapan Menyambut Paskah

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Sebentar lagi segenap umat percaya akan merayakan Paskah. Saat ini ada beberapa gereja yang sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyambut hari Jumat Agung dan Paskah. Bagi orang Kristen, Paskah adalah hari yang penting -- hari di mana Kristus bangkit mengalahkan maut. Kristus sudah mati untuk menebus dosa manusia yang percaya kepada-Nya, dan pada hari yang ketiga Ia bangkit dari maut. Kebangkitan-Nya memberi hidup yang penuh makna dan harapan. Bagaimana orang percaya mempersiapkan diri dalam menyambut Paskah? Matius 26:1-29 memperlihatkan empat macam sikap manusia dalam persiapannya menyambut Paskah.

1. Menyambut Paskah dengan Kebencian

Rupanya ada orang-orang yang menyambut Paskah dengan kebencian. Kelompok pertama ini diwakili oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Menjelang Paskah, mereka justru berkumpul di istana imam besar Kayafas dengan maksud merundingkan rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia. Orang-orang semacam "imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi" yang anti-Kristus itu, masih ada pada dunia dan zaman kita. Mereka membuat rencana dan melakukan tindakan destruktif untuk menentang Yesus dan pengikut-pengikut-Nya. Tentu saja bentuknya tidak sama dengan 2000 tahun yang lalu. Ekspresi yang timbul ke permukaan juga beraneka ragam. Mulai dari teror mental terhadap orang beriman, penghancuran gereja, isu-isu yang merugikan kekristenan dan mempermalukan nama Tuhan, hingga produk hukum yang sangat membatasi dan berusaha "mematikan" derap langkah pemberitaan firman Tuhan. Anak-anak Tuhan janganlah mudah terpancing untuk membalasnya dengan kebencian ataupun tindak kekerasan. Ingatlah ajaran Tuhan Yesus: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah untuk mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:45) Meskipun telah tergantung di atas kayu salib, Yesus masih menyempatkan diri bagi mereka yang telah menyalibkan Dia -- "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34) Camkanlah ajaran Alkitab: "Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik untuk semua orang!" (Roma 12:17)

2. Menyambut Paskah dengan Pengkhianatan

Ada juga orang yang menyambut Paskah dengan pengkhianatan. Kelompok kedua ini diwakili oleh Yudas, salah seorang dari kedua belas murid Tuhan Yesus, yang menjual Gurunya. Arti nama Yudas yaitu terpuji, tetapi sayang perbuatannya sungguh tidak baik. Ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yohanes 12:6). Menjelang hari raya Paskah, ia pergi kepada imam-imam kepala untuk menjual Yesus. Yudas hanya memikirkan keuntungan sendiri. Dengan imbalan tiga puluh uang perak ia mengkhianati Tuhan Yesus. Ia tega menjual Guru dan Tuhannya demi kepentingan dirinya. Bukankah pada masa kini juga terdapat para "pengkhianat" seperti Yudas? Bentuk yang paling sederhana dan pribadi adalah "saudara-saudara" yang "menjual" Tuhan Yesus karena iming-iming materi, jabatan, pasangan, atau masa depan yang lebih baik. Bentuk yang lebih kompleks dan menyesatkan adalah guru-guru palsu yang menawan banyak orang dengan "teologi kemakmuran" dan "filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus" (Kolose 2:8), atau menggantikan Injil Kristus dengan "injil lain" (Galatia 1:6-9). Mereka tega mendukakan hati Yesus demi kepentingan pribadi dan golongannya.

3. Menyambut Paskah dengan Rutinitas

Kelompok ketiga diwakili oleh para murid. Sesuai dengan tradisi Israel, murid-murid hendak mempersiapkan perjamuan Paskah bagi Tuhan Yesus. Tetapi hal ini mereka lakukan hanya sebatas rutinitas. Oleh karena kurang meresapi pengajaran dan pernyataan Tuhan Yesus tentang penderitaan yang akan ditanggung-Nya, maka mereka lebih memerhatikan pelaksanaan rutinitas Paskah daripada pribadi Kristus. Akibatnya Paskah itu tidak membawa perubahan apa-apa. Tidak ada perubahan hati dan pembaruan hidup. Melalui perjamuan Paskah yang dihayati murid-murid secara tradisi itu, justru Tuhan Yesus mengisinya dengan makna yang sesungguhnya. Ia menjelaskan makna pengurbanan-Nya, yaitu tubuh-Nya diserahkan dan darah-Nya dicurahkan untuk pengampunan dosa. Ia menetapkan bahwa Perjamuan Kudus harus tetap dilakukan oleh murid-murid-Nya sebagai peringatan dan pemberitaan akan Dia. Bisa saja pada saat ini, kita pun menyambut Paskah dengan segala kegiatan rutin tanpa penyesalan dosa, pertobatan, dan pembaruan hidup. Kita ikut kebaktian Jumat Agung, Paskah, dan Perjamuan Kudus, namun tiada perubahan berarti dalam hidup kita. Kita masih sama seperti yang kemarin -- suka pada "perbuatan daging" (Galatia 5:19-21). Janganlah kita menyambut Paskah hanya sekadar rutinitas. Biarlah di dalam hati ada kerinduan untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang telah mati dan bangkit, serta dijamah oleh-Nya. Kiranya Paskah membawa perubahan hidup dan pertumbuhan iman bagi kita.

4. Menyambut Paskah dengan Kasih

Betapa mengharukan tindakan wanita yang datang untuk mengurapi Tuhan Yesus. Hal itu dilakukannya karena kasih. Tindakan mengurapi Tuhan Yesus itu dilakukannya karena ia telah mendengar pemberitahuan tentang kematian-Nya yang telah dekat. Menjelang perayaan Paskah, sudah empat kali Tuhan Yesus memberitahukan tentang kematian-Nya (Matius 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:2). Cinta kasihnya kepada Tuhan Yesus yang menggerakkannya melakukan pengurapan itu. Wanita itu berani membayar harga demi pelayanan kasih terhadap Guru dan Tuhannya. Jika dihitung dari segi nominal, apa yang dipersembahkan wanita itu tidaklah kecil nilainya, yaitu 300 dinar (gaji seorang buruh selama setahun). Tetapi pelayanan wanita itu berharga di mata Tuhan, bukan semata-mata karena mahalnya minyak narwastu, melainkan karena kasihnya. Motivasi kasih yang membuatnya berani menanggung segala risiko yang terburuk demi melakukan pelayanan yang terbaik untuk Tuhan.

Paskah kali ini hendaknya membuat kita benar-benar menyadari, mengetahui, dan mengalami kasih Tuhan yang panjang, lebar, tinggi, dan dalam. Biarlah kasih Tuhan itu memperteguh kasih kita kepada-Nya, dan kasih itu juga kita wujudkan dalam pelayanan yang menjadi berkat bagi sesama. Oleh karena itu, kita harus senantiasa wawas diri dan memohon pimpinan-Nya. Marilah kita menyambut Paskah dengan kasih Tuhan. Kasih Tuhan itu kita wujudkan dengan hidup yang memuliakan Dia dan menjadi saluran berkat bagi sesama.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Cyber GKI
Judul asli artikel : Persiapan Menyambut Paskah (Kebencian, Pengkhianatan, Rutinitas Atau Kasih?)
Alamat URL : http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=118
Penulis artikel : Pdt. Andreas Loanka, M.Div
Tanggal akses : 30 Maret 2011
Umum: 
Kategori: 

Komentar