JEFF STRUECKER – PENYINTAS ‘BLACK HAWK DOWN’ BERKATA YESUS ADALAH SATU-SATUNYA JALAN

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Jeffrey D. Struecker lahir pada tanggal 7 Maret 1969 di Fort Dodge, Iowa, mendaftar di Angkatan Darat Amerika pada bulan September 1987 pada usia 18 tahun. Dia berdinas selama sepuluh tahun di pasukan khusus Resimen Ranger ke-75 dalam posisi mulai dari Spesialis Pengintaian Ranger hingga Sersan Peleton. Jeff Struecker terlibat aktif dalam berbagai operasi militer yang melibatkan pasukan Ranger, di mana pada tahun 1989 ikut dalam invasi Amerika di Panama (Operasi Just Cause) dan operasi militer koalisi membebaskan Kuwait dari pendudukan Irak (Saddan Husein) dalam Operasi Desert Storm pada tahun 1991. Selanjutnya dia juga terlibat dalam operasi militer pembebasan Irak tahun 2003 dan perang menggulingkan rezim Taliban di Afghanistan tahun 2001-2004.

Pada pertempuran di kota Mogadishu Somalia tahun 1993, Jeff Struecker berusia 24 tahun berpangkat Sersan dan menjadi komandan regu yang ditugaskan memimpin satu Gugus Tugas sebagai bagian dari Resimen Ranger ke-75. Dia memimpin konvoi 3 kendaraan mobil Humvee untuk membawa prajurit Ranger Todd Blackburn yang terluka kembali markas melewati hujan peluru yang dahsyat.

Jalannya pertempuran yang spektakuler ini diabadikan dalam film “Black Hawk Down”, di mana Jeff Struecker diperankan oleh Brian Van Holt.

Atas jasa-jasa pengabdian dan kepahlawanannya selama terjun dalam berbagai pertempuran yang hebat, Jeff Struecker mendapat penghargaan dari pemerintah Amerika berupa ‘Medali Bintang Perunggu’ dan dua buah ‘Oak Leaf Cluster.’

---

Musibah ini diawali pada tahun 1992 ketika Amerka berusaha menyediakan makanan untuk para pengungsi yang mengalami bencana kelaparan parah di Somalia pada saat negara itu diperintah oleh tujuh panglima perang. Salah satu panglima perang bernama Mohammed Farrah Aidid, menentang bantuan internasional dan bahkan membunuh 24 tentara Pakistan pada saat mereka membagikan makanan.

Pada tahun 1993, AS bertindak berdasarkan resolusi PBB dan mengirim satuan tugas militer untuk menangkap atau membunuh Aidid dan penasihat utamanya. Setelah melakukan tujuh misi, mereka sudah menangkap hampir semua tokoh pimpinan gerombolan Aidid.

Pada tanggal 3 Oktober 1993, mereka menerima petunjuk bahwa dua pemimpin utama bertemu di sebuah bangunan di markas Aidid, jadi mereka memutuskan untuk menjalankan misi penangkapan pada hari Minggu sore yang menentukan itu.

Pasukan Ranger dalam Delta Force yang terlibat dalam misi dengan kode Operasi Gothic Serpent mulai mengalami masalah ketika ada seorang Ranger PFC Todd Blackburn yang gagal turun tali dari helikopter dan jatuh ke 20 meter ke tanah dengan kepada lebih dahulu. Helikopter yang ditumpanginya oleng karena menghindari tembakan RPG yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh dari ketinggian.

Sementara pasukan Ranger lainnya mengamankan lokasi dan pasukan Delta Force berusaha menangkap dua orang letnan penting dari Mohammed Farrah Aidid. Upaya selanjutnya untuk menyelamatkan ranger yang jatuh menyebabkan dua helikopter ditembak jatuh dan 18 orang Ranger tewas.

Jeff Struecker memimpin iring-iringan mobil Humvee ke posisi di masing-masing mengepung keempat sudut bangunan. Jeff Struecker kemudian menyelamatkan Todd Blackburn, yang tidak sadarkan diri dan berdarah melalui hidung dan mulutnya, kemudian membaringkannya ke Humvee yang akan mengantarnya kembali ke markas.

Dia menyopir melalui gang-gang sempit yang penuh dengan lubang, dengan kecepatan lambat 25-30 kilometer per jam supaya tidak menguncang-guncang Todd Blackburn yang terluka.

“Ketika berbelok di tikungan, seluruh kota secara serempak dipenuhi dengan tembakan gencar," kata Struecker. “Kami ditembak dari 100 arah yang berbeda, mulai - dari atap, dari gang dan dari pintu dan jendela. Ada granat beroket (RPG) dan semua tembakan senapan otomatis AK-47 dari jarak 6 meter sampai 9 meter. ”

Apa yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Aidid telah mengumpulkan seluruh milisi bersenjata untuk datang berkumpul di kota Mogadishu, berjaga-jaga dan mengamankan pertemuan dua pimpinan puncak itu.

Penembak belakang, sersan Dominick Pilla terbunuh oleh tembakan milisi yang sudah menunggu untuk menyergap.

“Ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat sepertinya seluruh bagian belakang kendaraan saya telah dicat warna merah oleh darah Dominick Pilla,” kata Jeff Struecker. "Saya pikir saya akan mati di saat-saat berikutnya, tetapi kemudian saya ingat bahwa saya memikul tanggung jawab sebagai pimpinan dan harus tetap tenang jika akan mengeluarkan orang-orang saya dari sana dengan selamat."

Iring-iringan mobil Humvee berhasil melepaskan diri dari sergapan milisi di kota dan kembali ke markas. Para tenaga medis dan ahli bedah berlarian ke tandu Todd Blackburn. Sementara itu Jeff Struecker bersyukur kepada Tuhan bahwa dia telah keluar hidup-hidup.

“Saya telungkup di atas kap Humvee, benar-benar merasa kelelahan. Saya berkata, 'Tuhan, saya tidak percaya saya selamat dari semuanya itu. Saya tidak percaya ada berhasil yang selamat melewati semuanya itu,” kata Struecker. "Ada ribuan milisi Somalia bersenjata yang baru saja kami lewati."

Pada saat itu, komandan peleton memberi tahu Jeff Stuecker bahwa helikopter Black Hawk telah ditembak jatuh, dan dibutuhkan team mobil Humvee untuk menyelamatkan pilotnya. Seorang pasukan khusus menasihati Jeff Struecker untuk mencuci darah yang berceceran di dalam Humvee terlebih dahulu, supaya tidak membuat takut pasukan yang akan ikut pergi.

“Saya mengambil ember, spon, dan sikat, dan mulai membersihkan semua darah Dominick Pilla dari belakang mobil Humvee,” kata Jeff Struecker.

Saat dia mencuci Humvee, dia mengalami ketakutan yang sangat hebat seperti yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Saya benar-benar yakin bahwa saya akan mati," katanya. “Setiap jalinan syaraf di tubuh saya berkata, 'Tidak, Jeff, jangan lakukan ini. Ini gila. Itu bunuh diri. Kamu akan terbunuh jika kembali lagi ke sana."

"Saya berpikir bahwa karena saya seorang pimpinan, saya tidak saja akan membuat diri saya terbunuh tetapi saya akan membuat setiap orang yang ada di dalam team saya akan terbunuh jika kembali ke sana," katanya. "Akan ada 10 kantong mayat lagi besok pagi jika saya kembali ke sana."

Tapi kemudian dia ingat bahwa dia adalah seorang pasukan Ranger, yang memiliki sumpah -- untuk tidak pernah meninggalkan kawan yang terluka jatuh ke tangan musuh.

Sebagai seorang Kristen, dia mulai berdoa ...

“Tuhan, saya dalam masalah besar sekarang, dan saya butuh bantuan-Mu karena saya yakin bahwa saya akan mati malam ini,” katanya.

Tuhan kemudian mengingatkan Jeff tentang Renungan Harian yang barusan dia baca di Alkitab mengenai Tuhan Yesus di Taman Getsemani. Di sana Tuhan Yesus berkata, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:422)

"Yesus, Anak Allah yang tidak berdosa dan yang sempurna, berjalan ke tangan musuh dan dengan rela menyerahkan nyawa-Nya sehingga dosa Anda dan dosa saya dapat dihapus sekali dan untuk selamanya," kata Jeff Struecker.

“Di belakang mobil Humvee itu saya berdoa, ‘Bukan kehendak saya Tuhan, tapi kehendakMu yang jadi.’”

“Dan pada waktu itu, Tuhan Yesus sekali dan secara total mengangkat lenyap rasa takut saya. Saya sama sekali tidak khawatir tentang apa yang akan terjadi pada saya malam itu.”

Tuhan tidak memberi jaminan bahwa dia akan selamat, tetapi dia sangat yakin bahwa jika dia meninggal, sebelum tubuhnya jatuh ke tanah maka jiwanya akan diangkat ke Surga.

“Saya menyadari jika saya bisa pulang ke rumah keluarga saya di Georgia atau pulang ke rumah Bapa di Surga, maka saya tidak akan kehilangan apa pun karena Juruselamat saya Yesus Kristus telah menjamin keselamatan saya,” kata Jeff Struecker. "Itu memberi saya kedamaian yang melimpah untuk pergi dan kembali ke jalanan berulang kali sepanjang malam."

Sementara itu, puluhan pasukan Rangers dan Delta Force berjuang untuk hidup mereka, sepenuhnya dikelilingi oleh ribuan milisi bersenjata. Para penembak jitu Ranger dan helikopter memuntahkan peluru untuk menahan para milisi yang berusaha menyerbu tentara AS.

Jeff Struecker kembali ke medan perang, bermanuver menghindari ban-ban terbakar dan menghindari tembakan gencar di setiap belokan. Setelah peluru RPG yang ditembakkan milisi memantul di kap mobil Humvee dan meledak di dinding, orang-orang bersenjata menembaki dia dengan AK-47 dari jarak dekat, tetapi secara ajaib tidak ada orang di dalam mobil yang terluka.

Dia berhasil menemukan setengah dari pasukan AS yang ada di kota dan mengangkut mereka kembali ke markas dengan selamat. Keajaiban demi keajaiban silih berganti.

Untuk menyelamatkan kelompok tentara kedua, tentara Pakistan dan Malaysia bergabung dalam upaya itu. Pada pukul 11.30 malam konvoi berangkat lagi untuk menyelamatkan sisa pasukan yang masih tertinggal.

Secara keseluruhan, korban pada pasukan AS adalah 18 tewas dan 73 luka-luka. Pasukan AS kemudian meninggalkan wilayah itu tak lama kemudian dan Aidid kemudian terbunuh dalam pertempuran ketika hendak menguasai Somalia.

Goncangan melanda Washington, di mana Les Aspin, menteri pertahanan AS, mengundurkan diri karena telah menolak permintaan tank dan kendaraan lapis baja untuk mendukung misi tersebut. Presiden Bill Clinton dikritik secara luas karena memerintahkan tentara AS meninggalkan wilayah tersebut sebelum tujuan tercapai dan karena gagal mengenali hubungan antara kekuatan Aidid dan Al-Qaeda.

---

Apa yang paling memengaruhi hidup Jeff Struecker adalah bukanlah ribuan milisi bersenjata Somalia yang menyerang mobil Humvee-nya, atau hujan peluru dan granat beroket (RPG), ketika ia berusaha menyelamatkan para prajurit Ranger dalam operasi militer yang gagal di Mogadishu. Yang paling berdampak baginya adalah ketika dia kembali ke pangkalan militer, ketika teman-temannya satu persatu datang untuk bertanya kepadanya tentang ‘kematian’ dan ‘kehidupan setelah kematian’.

"Hal itu mengubah hidup saya selamanya," kata Struecker di Liberty University dalam video yang diposting di YouTube.

“Saya akan tetap menjadi sersan di resimen Ranger hari ini jika itu bukan karena apa yang saya lihat pagi harinya setelah baku tembak semalaman. Bukan ceceran darah atau lubang peluru yang berdampak pada saya. Akan tetapi yang mengubah hidup saya adalah para prajurit, yang banyak di antaranya adalah pejuang paling tangguh di dunia. Mereka satu-persatu datang menemui saya dan berkata, ‘Jeff, apa yang terjadi pada sahabatku yang baru saja meninggal semalam?’ ‘Jeff, apa yang terjadi padaku jika aku naik helikopter atau Humvee besok dan aku tidak pulang?’ "

“Hampir semua dari mereka berkata, 'Jeff, ada sesuatu yang kulihat berbeda pada dirimu semalam, dan aku ingin tahu apa itu,'” katanya. “Selama 24 jam berikutnya, di depan saya ada orang-orang yang datang dalam antrian panjang untuk bertanya kepada saya tentang Yesus Kristus karena mereka dapat melihat perbedaan yang Tuhan buat ketika saya ditembaki dari segala penjuru dan ketika peluru-peluru beterbangan.”

Saran yang dia berikan malam itu lebih banyak mengubah karier Struecker daripada semua pelatihan Ranger yang keras yang dia telah jalani. Ketika dia melihat ada kesempatan untuk memengaruhi hidup orang lain, Jeff Struecker kemudian menjadi pendeta untuk teman-teman Ranger yang sama di Divisi Airborne 82, sebuah posisi yang dipegangnya selama lebih dari satu dekade.

Setelah menasihati sejumlah besar kawan-kawan yang terguncang oleh kematian, Struecker menyadari bahwa Tuhan memiliki sesuatu yang lebih besar baginya daripada “mendobrak pintu dan mengarahkan peluru kepada musuh-musuh negara,” katanya.

"Sebelum malam itu, saya pikir kita bisa mengubah dunia melalui kekuatan militer dan kekuatan nasional," kata Jeff Struecker. "Tapi saya menyadari sesuatu di Mogadishu, Somalia: Hanya ada satu kekuatan yang cukup besar untuk mengubah dunia, dan itu adalah Roh Kudus dari Allah yang Hidup melalui Anak-Nya Yesus Kristus." (Translate,edit/ Michael Ashcraft & berbagai sumber)

---

(Lukas 17:33) “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.”

* * * * *