Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c
PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Dasar yang Kokoh |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P01 |
Pelajaran 01 - DASAR YANG KOKOH
Daftar Isi
- Rumah Apologetika
- Pengertian Apologetika Alkitabiah
- Kepentingan Apologetika
Doa
DASAR YANG KOKOH
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan dan siap
sedialah pada segala sesuatu untuk memberi pertanggungan jawab
kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu
tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah
lembut dan hormat." (1 Pet. 3:15)
Kehidupan yang taat pada firman Tuhan adalah seperti rumah yang
dibangun di atas dasar yang teguh. Akhir dari khotbah Tuhan Yesus di
atas bukit berkata:
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia
sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas
batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di
atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan
tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang
mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan
datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah
rumah itu dan hebatlah kerusakkannya." (Mat. 7:24-27)
Tuhan Yesus menunjuk pada suatu fakta yang nyata, yakni kekuatan
fondasi menentukan kemampuan rumah itu untuk dapat bertahan dari deras
dan kuatnya angin yang menerjang. Jika seseorang membangun rumahnya di
atas pasir, rumah itu akan runtuh; tetapi jika ia membangunnya di atas
batu yang kokoh, rumah itu akan tetap berdiri teguh, walaupun
diterjang angin badai yang dahsyat. Mempelajari pelajaran-pelajaran
ini seperti membangun sebuah rumah di mana kita akan tinggal tenang
ketika ada hujan dan angin dari orang-orang tak percaya yang menyerang
rumah tersebut karena kita yakin bahwa kita membangun dasar rumah kita
dari batu yang kokoh -- firman Kristus.
Sebelum meletakkan dasar, sebaiknya kita mengetahui rumah macam apa
yang akan kita bangun. Karena itu, mari kita mulai dengan memikirkan
dasar ini.
A. Rumah Apologetika
Istilah "apologetika" sering kali disalahmengerti karena biasanya
dipakai saat kita bersalah kepada seseorang dan kita merasa perlu
mendatangi orang tersebut untuk meminta maaf. Namun dalam
pelajaran-pelajaran berikut, istilah ini akan dipakai secara terbatas
untuk pengertian khusus.
Kata "apologetika" berasal dari bahasa Yunani "apologia". Kata ini
sering dipakai dalam literatur non-Kristen dan Kristen (Perjanjian
Baru). Contohnya, "The Apology of Socrates" adalah sebuah catatan
pembelaan Socrates yang disajikannya dalam sidang di Athena. Justin
Martyr, dalam "Apology"nya, berusaha memberikan pembelaan untuk
saudara-saudara seimannya dari tuduhan orang-orang tidak percaya.
Pada waktu Paulus berdiri di hadapan banyak orang di Yerusalem, ia
berkata, "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah apa yang
hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." (Kis. 22:1).
Berapologetika, dalam hal ini berarti memberikan pembelaan; jadi
"apologetika" adalah studi yang mempelajari bagaimana mengembangkan
dan menggunakan pembelaan itu secara langsung.
Apologetika memang merupakan suatu bidang yang mendapatkan perhatian
secara khusus dari berbagai agama dan filsafat. Tetapi dalam
pelajaran-pelajaran ini, perhatian kita hanya akan ditujukan pada
pembelaan kebenaran kristiani yang telah diwahyukan kepada manusia
melalui firman Tuhan dalam Alkitab. Apologetika semacam ini disebut
"apologetika Kristen", yakni pembelaan filsafat hidup Kristen terhadap
berbagai bentuk filsafat hidup non-Kristen (Cornelius Van Til,
Apologetics). Karena itu, kita tidak akan mempelajari apologetika
secara umum, namun hanya apologetika yang berkaitan dengan
kekristenan. Sesuai dengan analogi yang telah diberikan di atas, rumah
yang akan kita bangun dalam pelajaran-pelajaran berikut ini adalah
rumah apologetika Kristen.
B. Pengertian Apologetika Alkitabiah
Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai fondasi kokoh yang harus
mendasari setiap area kehidupan kita, fondasi kokoh itu adalah firman
Allah. Firman Allah adalah satu-satunya fondasi yang dapat memberikan
kekuatan yang kita butuhkan untuk tetap berdiri teguh di tengah badai
dosa yang dahsyat dan menghancurkan. Alkitab Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru adalah firman Allah. Merupakan pengakuan umum semua
orang Kristen bahwa Alkitab adalah:
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
(2 Tim. 3:16, 17)
Alkitab adalah penuntun berotoritas yang mutlak bagi setiap orang
percaya; tanpa Alkitab, kita hanya akan menerka-nerka pikiran Allah,
tetapi dengan Alkitab, semua petunjuk dan pimpinan Allah dalam setiap
aspek kehidupan menjadi pasti dan jelas. Seperti pemazmur katakan:
"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Maz.
119:105)
Tidaklah cukup kalau hanya menyebutkan Alkitab sebagai fondasi untuk
berapologetika karena orang percaya yang tidak terlatih pun tahu bahwa
otoritas Alkitab merupakan hal yang terpenting dalam kebutuhan
pembelaan iman. Serangan terbesar dalam iman Kristen ditujukan kepada
Alkitab itu sendiri. Alkitab sering kali dituduh mengandung banyak
kesalahan dan hanya memunyai sedikit otoritas yang tidak berbeda
dengan tulisan literatur lainnya. Karena kita harus sering membela
keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, hubungan apologetika
dengan Alkitab kadang-kadang disalahmengerti. Sebagai firman Tuhan,
Alkitab adalah fondasi di mana kita membangun pembelaan kita dan juga
merupakan salah satu kepercayaan yang harus kita pertahankan. Dua
peran Alkitab ini yang kadang kita lupakan.
Ada orang-orang Kristen yang memiliki pandangan yang keliru mengenai
karakter Alkitab sebagai fondasi dan cenderung membangun pembelaan
mereka hanya di atas dasar hikmat dan kemampuan berpikir manusia.
Firman Tuhan ditempatkan sebagai atap dari bangunan yang didukung
oleh apologetika mereka. Kesulitan untuk mendukung firman Tuhan
dengan bangunan yang didasarkan pada hikmat manusia sebagai otoritas
yang tertinggi, sering kali menjadi terlampau berat.
Pembangun-pembangun rumah semacam itu mungkin akan menutup mata dan
mengatakan hal yang sebaliknya atau menyangkalinya, tetapi kehancuran
rumah tidak dapat dihindarkan, bagaikan rumah yang dibangun di atas
pasir.
Sebagai pengikut Kristus, kita harus selalu ingat untuk membangun
pembelaan iman Kristen kita di atas fondasi yang kuat, yaitu Alkitab.
Dengan demikian, tidak akan ada beban yang terlampau berat untuk
ditunjang dan tidak akan ada angin yang terlalu kencang untuk ditahan.
Apologetika harus membela Alkitab dengan ketaatan secara mutlak kepada
prinsip-prinsip pembelaan dan petunjuk yang diwahyukan oleh Alkitab
sendiri.
Peranan Alkitab sebagai penuntun dalam berapologetika dapat terlihat
dengan jelas dalam 1 Pet. 3:15:
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap
sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada
tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang
pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut
dan hormat.
Pada konteks sebelumnya, Petrus menulis tentang penderitaan yang harus
dihadapi orang-orang Kristen pada masa itu. Petrus tahu bahwa dalam
masa penderitaan, serangan-serangan dari dunia yang berdosa sering
kali dapat membuat kita lupa bahwa kita sedang melayani Kristus dan
harus tetap percaya dan taat pada-Nya. Petrus berharap para pembaca
suratnya akan memberikan tanggapan yang tepat atas
pertanyaan-pertanyaan yang para penganiaya mereka mungkin akan
lontarkan. Karena itu, Petrus memberikan petunjuk untuk mempersiapkan
diri menghadapi penderitaan itu dengan memohon supaya mereka memunyai
sikap yang tepat terhadap Kristus.
Kita harus memerhatikan dengan saksama bagaimana Petrus menyusun
petunjuk dalam ayat-ayat berikut ini. Pertama, Petrus berkata,
"Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" dan kemudian ia
menambahkan, "siap sedialah pada segala waktu untuk memberi
pertanggungan jawab ...." Sebelum pembelaan atau jawaban diberikan,
Kristus harus dikuduskan terlebih dulu sebagai Tuhan yang memerintah
dan mengatur setiap segi kehidupan kita.
Perhatikanlah bahwa kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam
hati kita. Ini tidak berarti hanya emosi saja yang harus didasarkan
pada Kristus, sementara pikiran kita bebas melakukan apa yang
dikehendakinya. Tidak juga berarti bahwa ke-Tuhanan Kristus harus
tinggal hanya dalam hati kita yang terdalam dan tidak pernah
memengaruhi jawaban-jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan dari
dunia. Firman Tuhan mengajarkan bahwa hati adalah pusat personalitas
kita, yang darinya "terpancar kehidupan" (Ams. 4:23). Hati tidak hanya
memerintah emosi, tetapi juga pikiran dan setiap aspek kehidupan
lainnya. Lebih dari itu, menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati
kita berarti ke-Tuhanan-Nya juga akan efektif dalam semua yang kita
ekspresikan, termasuk pembelaan iman kita. Karena itu, menurut Petrus,
penaklukkan terhadap otoritas Kristus merupakan hal yang sangat
penting dalam melakukan pembelaan yang benar dan tepat. Sebagai Tuhan,
Kristus akan memimpin pada saat kita melakukan pembelaan iman.
Pimpinan ini datang melalui firman-Nya, dan tanpa pimpinan-Nya, segala
sesuatu akan menjadi sia-sia.
Dalam pelajaran berikut, kita akan memerhatikan bagaimana membangun
pembelaan untuk iman Kristen yang didasarkan pada batu karang yang
teguh, yaitu Alkitab. Ada beragam buku yang mengajarkan bagaimana
membela kebenaran iman Kristen. Keanekaragaman ini sering kali
membingungkan orang Kristen. Namun di tengah kebingungan ini, ada satu
hal yang tetap jelas bagi kita, yaitu jangan mengadopsi cara
berapologetika hanya karena orang-orang terkenal menggunakannya, atau
karena ternyata banyak yang berhasil, atau karena memberikan kekuatan
kepada iman percaya kita. Jika kita rindu membangun pembelaan yang
akan selalu tegak berdiri dan tidak pernah goyah dan jatuh, kita harus
membangunnya di atas dasar firman Allah.
C. Kepentingan Apologetika
Mempelajari apologetika dan mengembangkan kemampuan berapologetika
secara benar adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Dari yang
tertua sampai yang termuda, terkaya sampai yang termiskin, terpandai
sampai yang sederhana, setiap orang yang telah percaya pada
keselamatan dalam Yesus Kristus bertanggung jawab untuk mempelajari
apologetika. Namun sering kali, maksud baik orang Kristen melaksanakan
tanggung jawab ini gagal secara serius.
Salah satu alasan yang biasa dikemukakan untuk mengabaikan apologetika
terletak pada kesalahmengertian dari apa yang Tuhan Yesus katakan
dalam Mat. 10:19: "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu
kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena
semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga."
Kesalahmengertian yang serius berkenaan dengan ayat ini, khususnya
jika kita membaca terjemahan dari King James: "... give no thought how
or what ye shall speak ...." ("... tidak perlu dipikirkan bagaimana
atau apa yang harus kita katakan ...."). Ayat tersebut sering kali
ditafsirkan bahwa kita harus bersandar mutlak pada pimpinan Roh Kudus
saat membela iman kita. Karena itu, kita tidak perlu mempersiapkan
diri dengan mempelajari cara berapologetika.
Lebih jauh dikatakan bahwa orang yang mempelajari apologetika malah
menunjukkan bahwa ia kurang beriman dan hatinya tidak sungguh-sungguh
berserah pada Allah. Penafsiran seperti ini tidak dapat
dipertanggungjawabkan sebab tidak memertimbangkan pengamatan secara
menyeluruh terhadap konteks dari ayat tersebut dan juga firman Tuhan
secara keseluruhan.
Perlu diperhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan "jangan pikirkan
tentang apa yang akan kamu katakan" seperti yang sering dimengerti
oleh pembaca terjemahan King James. Ayat ini sebenarnya berkenaan
dengan peringatan Tuhan Yesus supaya orang-orang percaya jangan cemas
dan kuatir. Pada ayat-ayat sebelumnya (Mat. 10:19), Tuhan Yesus
mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan diserahkan ke hadapan para
gubernur dan raja. Kenyataan bahwa mereka akan berhadapan dengan
orang-orang penting seperti itu tentu merupakan pengalaman yang sangat
menggentarkan. Karena itu, Tuhan Yesus mendorong dan memberi semangat
kepada para murid-Nya untuk tidak cemas dan takut. Segala ketakutan
harus lenyap sebab mereka tidak akan sendiri. Tuhan Yesus mengatakan
bahwa Roh Kudus dari Allah akan memberikan kepada kita kekuatan dan
hikmat saat kita membutuhkannya. Seperti apa yang rasul Paulus
katakan: "Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang
membantu aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku
...." (2 Tim. 4:16, 17)
Sangatlah penting untuk dimengerti bahwa jaminan akan diberikannya
kekuatan dari Roh Kudus tidak boleh dipakai untuk mengganti ketekunan
dan kesetiaan dalam mempelajari dan mempersiapkan diri untuk
berapologetika. Contoh lain, meski kita dianjurkan untuk tidak kuatir
akan makanan dan pakaian (lihat Mat. 6:25, dst.), kita tetap diminta
berjerih payah bekerja untuk mendapatkannya. Demikian juga halnya
dengan berapologetika, kita harus memenuhi tanggung jawab kita untuk
mempersiapkan diri.
Petrus menulis bahwa kita harus "selalu bersiap sedia (sudah
mempersiapkan diri) untuk memberikan jawaban" (1 Pet. 3:15). Karena
itu, mereka yang mengabaikan hal ini berarti tidak taat secara mutlak
kepada ke-Tuhanan Kristus dan tidak bergantung pada Roh Kudus, sebab
ketaatan dan penyerahan yang sungguh-sungguh akan dinyatakan dengan
mempelajari apologetika secara serius.
Alasan lain yang sering dipakai untuk mengabaikan apologetika adalah
alasan bahwa pembelaan iman merupakan pekerjaan mereka yang terlatih
(seperti pendeta atau sarjana teologi), bukan tugas orang Kristen
awam. Dosen teologi dan pendeta diharapkan dapat memberikan jawaban
secara sistematis, sebab apologetika bersifat terlalu filosofis,
abstrak, dan tidak praktis bagi kaum awam. Oleh karena itu,
banyak orang Kristen yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah
mengabarkan Injil. Dan kalau ada pertanyaan mengenai kredibilitas iman
Kristen, mereka akan membawa orang itu kepada pendeta, yang dianggap
sebagai "tenaga ahli".
Memang benar bahwa dosen teologi dan pendeta memunyai tanggung jawab
yang lebih berat dalam berapologetika daripada kebanyakan kaum awam,
namun ini tidak berarti berapologetika adalah tanggung jawab pendeta
dan dosen saja. Setiap orang percaya bertanggung jawab untuk dapat
berapologetika. Ayat yang telah kita pelajari mengatakan bahwa tidak
ada pengecualian bagi orang Kristen dalam berapologetika (1 Pet.
3:15). Setiap orang harus siap untuk menderita bagi Kristus dan
memberikan jawaban serta pembelaan atas pengharapan mereka di dalam
Kristus.
Lebih dari itu, Paulus secara jelas menyatakan bahwa setiap orang
percaya harus menjadi pembela iman. Sebagai rasul, Paulus secara
khusus "dipilih untuk menjadi pembela Injil" (Flp. 1:16). Tetapi
Paulus mengerti bahwa pekerjaan berapologetika bukan hanya tanggung
jawabnya sendiri. Karena itu, ia berkata pada orang-orang Filipi:
"Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua,
sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut
mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik
pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan
meneguhkan Berita Injil." (Flp. 1:7)
Paulus dipenjara karena berkhotbah mengenai Injil, tetapi orang-orang
Kristen di Filipi tidak meninggalkannya. Mereka mengirimkan
pemberian-pemberian yang disampaikan oleh wakil gereja mereka.
Malahan, mereka sangat terlibat dengan pelayanan Paulus sehingga
mereka juga "mengalami hal yang sama" (Flp. 1:30) seperti Paulus.
Salah satu yang mereka alami dijelaskan sebagai "pembelaan dan
pengukuhan dari Injil" (Flp. 1:7). Orang-orang Filipi dihargai dan
dipuji karena mereka membela iman Kristen dengan serius. Demikian pula
setiap orang yang membela iman Kristennya akan dihargai dan dipuji
oleh Allah.
Kepentingan apologetika dapat dilihat dari berbagai segi lain.
Kemampuan untuk memertahankan kepercayaan kita akan membuat
penginjilan lebih efektif. Kita tidak perlu takut mengemukakan masalah
kekristenan di antara kawan-kawan dan tetangga kita bila kita mampu
memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Kita tidak perlu
takut menghadapi orang tidak percaya dari kalangan intelektual bila
kita mampu memertahankan iman kepercayaan kita. Semangat penginjilan
akan bertambah dengan memelajari apologetika. Lebih dari itu, keraguan
orang yang mendengar Injil sering kali menjadi sirna setelah mendengar
jawaban yang benar atas pertanyaan dari keraguan mereka.
Selain itu, apologetika alkitabiah dapat menguatkan iman orang-orang
percaya. Banyak orang Kristen yang terkena wabah keragu-raguan.
Keraguan ini sering menjadi penyebab orang percaya kehilangan
kemampuannya melayani Kristus. Apologetika memampukan orang percaya
mengatasi berbagai macam pencobaan, seperti jatuh dalam
ketidaksetiaan yang mungkin akan dialami. Kemampuan ini juga akan
memungkinkan mereka kreatif dalam pelayanan.
Bagi orang Kristen yang belum pernah mengalami keraguan, mempelajari
apologetika secara sungguh-sungguh akan membuatnya semakin bertambah
yakin dan bersemangat untuk lebih taat menjadi anak Tuhan. Apologetika
adalah subjek yang sangat penting, yang seharusnya menjadi perhatian
semua orang percaya.
Dalam pelajaran yang berikut, kita akan membangun satu bata demi satu
bata dari rumah apologetika yang sangat penting ini. Rumah ini akan
dibangun secara kokoh atas dasar firman Tuhan. Satu pengharapan kami
adalah orang percaya akan diperlengkapi untuk lebih baik lagi melayani
Tuhan dan untuk membangun kerajaan-Nya dengan ketaatan pada-Nya. Serta
secara efektif dapat memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang.
-Akhir Pelajaran (AUA I-P01)--
Doa
Ya, Tuhan, Engkaulah dasar iman dan pengharapan kami. Ajarkan kepada
kami untuk memiliki sikap yang siap sedia memertanggungjawabkan
iman kami kepada mereka yang memintanya. Tapi terlebih dahulu,
berikan kami kekuatan untuk menguduskan Engkau dalam hati kami
sebagai Tuhan dan Juru Selamat supaya hidup kami sungguh
mememuliakan Engkau. Amin.
(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)
PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA
sabda.org