3 Pelajaran dari Rasul Paulus

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Meskipun bukan salah satu murid Yesus, pengaruh Paulus membayangi gereja mula-mula. Dari 27 buku dalam Perjanjian Baru, Paulus menulis 13 buku. Dia melakukan lebih dari empat perjalanan misionaris dan memiliki tanggung jawab besar atas penyebaran Injil.

Melalui surat-suratnya, Paulus telah mengajar umat manusia selama ribuan tahun. Berikut adalah tiga pelajaran penting yang dapat kita pelajari dari hidupnya.

1. Tidak seorang pun berada di luar jangkauan Allah.

Saulus

Paulus menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai orang Farisi. Dia dididik dengan baik dalam tradisi pengajaran Alkitab Ibrani dan Yahudi. Ketaatan terhadap hukum dan tradisi ini menyebabkan dia sangat membenci gerakan Kristen baru yang bermunculan di sekitar Yerusalem. Dalam semangatnya, dia mulai menganiaya orang-orang Kristen.

Kemungkinan besar dia pergi ke berbagai sinagoge dan mendorong penghukuman atas orang-orang Yahudi yang telah menerima Yesus sebagai Mesias. Kita tahu bahwa dalam kasus Stefanus, dia memegang jubah orang banyak saat mereka melempari Stefanus dengan batu sampai mati. Lukas bahkan memberi tahu kita bahwa Paulus menyetujui kematian Stefanus (Kisah Para Rasul 7:54-8:1).

Dalam perjalanannya ke Damsyik pada suatu hari, Paulus mendapatkan pengalaman yang mengubah segalanya:

"Namun, Saulus, sambil terus melakukan ancaman dan pembunuhan terhadap murid-murid Tuhan, pergi menghadap Imam Besar, dan meminta surat darinya, yang ditujukan kepada sinagoge-sinagoge di Damsyik sehingga jika ia menemukan siapa saja yang percaya kepada Jalan itu, baik pria maupun wanita, ia dapat membawa mereka untuk dibelenggu di Yerusalem. Selama ia sedang berjalan, ia semakin dekat dengan Damsyik, dan tiba-tiba suatu cahaya dari langit memancar mengelilinginya. Lalu, ia jatuh ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, 'Saulus, Saulus, mengapa kamu menganiaya Aku?'

Saulus bertanya, 'Siapakah Engkau, Tuan?'

Dan, Ia berkata, 'Akulah Yesus, yang kamu aniaya. Akan tetapi, bangun dan masuklah ke kota, dan kamu akan diberitahu apa yang harus kamu lakukan.'

Orang-orang yang pergi bersama dengan Saulus berdiri tanpa berkata-kata setelah mendengar suara itu, tetapi tidak melihat siapa pun. Saulus berdiri dari tanah, dan meskipun matanya terbuka, ia tidak melihat apa-apa. Maka, orang-orang itu menuntunnya dengan tangan dan membawanya masuk ke Damsyik. Dan, selama tiga hari, Saulus tidak dapat melihat dan juga tidak makan atau minum." (Kisah Para Rasul 9:1-9, AYT).

Pengalaman ini menempatkan Paulus pada lintasan yang sama sekali baru. Dia berubah dari seseorang yang menganiaya gereja menjadi seseorang yang bersedia dianiaya demi gereja. Pada akhirnya, Paulus akan menyerahkan hidupnya untuk Injil.

Sangat penting untuk menyadari bahwa tidak seorang pun berada di luar jangkauan Allah. Gereja yang masih muda itu mungkin sedang berdoa keras untuk Paulus, dan agar penganiayaan mereka berakhir. Kristus campur tangan dan mengubah jalannya sejarah abad pertama.

Jangan pernah menyerah pada siapa pun.

2. Pencapaian kita tidak mendefinisikan kita.

Kebanyakan orang yang dipilih Yesus menjadi murid adalah pekerja biasa yang sederhana. Mereka tidak terkenal karena prestasi mereka. Kemudian, datanglah Paulus. Paulus tidak hanya dapat bekerja dengan tangannya, tetapi dia adalah seorang yang terpelajar dan terdidik secara Farisi. Ini adalah posisi yang membuatnya mendapatkan banyak hormat dan pengaruh.

Bagaimana perasaan Paulus tentang pencapaian itu setelah menemukan Kristus? Dia memberi tahu kita:

"Jika ada orang lain yang berpikir bahwa ia memiliki alasan untuk bermegah pada hal-hal yang lahiriah, terlebih lagi aku: Aku disunat pada hari ke delapan, bangsa Israel tulen, dari suku Benyamin, orang Ibrani yang berbahasa Ibrani. Menurut Hukum Taurat, aku adalah orang Farisi. Dalam hal semangat, aku adalah penganiaya jemaat, dan dalam hal kebenaran di bawah Hukum Taurat, aku tidak bercacat. Akan tetapi, segala sesuatu yang dahulu menguntungkan aku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

Sungguh, segala sesuatu kuanggap rugi dibandingkan dengan pengenalan akan Yesus Kristus, Tuhanku, yang jauh lebih berharga dari apa pun. Demi Kristus, aku telah kehilangan semuanya -- karena semua itu sekarang kuanggap sampah! -- supaya aku boleh mendapatkan Kristus. Aku ditemukan dalam Kristus bukan dalam kebenaran yang berasal dari diriku sendiri yang kudapatkan dari Hukum Taurat, tetapi yang datang melalui iman dalam Kristus, yaitu kebenaran dari Allah yang berdasarkan pada iman." (Filipi 3:4b-9, AYT).

Dalam terang Kristus, Paulus menyadari bahwa semua pencapaiannya tidak berarti dibandingkan dengan diperdamaikan dengan Kristus. Sebagai pengikut Kristus, pekerjaannya tidak lagi tentang membuat orang lain terkesan dengan kepatuhannya terhadap hukum dan menjadi tentang kesetiaan kepada Yesus.

3. Sangat penting untuk memahami kepuasan.

Seperti yang kita catat sebelumnya, Paulus banyak berkorban untuk mengikuti Yesus. Dia tidak hanya akhirnya menyerahkan nyawanya, tetapi dia juga menderita:

- Cambuk
- Dipukul dengan tongkat
- Rajam
- Pemenjaraan
- Terdampar dari kapal
- Kelaparan
- Kedinginan
- Sulit tidur

Namun, Paulus memberi tahu hal ini kepada gereja Filipi:

"Aku mengatakan hal ini bukan karena aku sedang kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam keadaan apa pun. Aku tahu apa artinya kekurangan, dan aku juga tahu apa artinya kelimpahan. Dalam segala dan setiap keadaan, aku telah belajar rahasia hidup berkecukupan, apakah dengan kenyang atau lapar, apakah hidup banyak uang atau tidak punya uang. Aku dapat melakukan segala sesuatu melalui Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:11-13, AYT).

Yesus memberi kita kekuatan untuk merasa puas dalam setiap keadaan. Ini berarti bahwa kita dapat memiliki rasa damai yang berasal dari kondisi yang diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus dan mengetahui bahwa Dia memegang kendali atas hidup kita. Ketika kita berpegang pada kebenaran itu, kepuasan kita tidak akan datang dan pergi berdasarkan pengalaman kita sehari-hari.

Pelajaran dari tokoh-tokoh Alkitab

Ini hanyalah beberapa pelajaran yang dapat kita pelajari dari Paulus. Allah menangkap hati orang sesat ini dan menggunakannya untuk mengubah dunia. Paulus tidak pernah berada di luar jangkauan Allah -- demikian juga Anda! (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Jesus Film Project
Alamat situs : https://www.jesusfilm.org/blog-and-stories/3-lessons-paul.html
Judul asli artikel : 3 Lessons from the Apostle Paul
Penulis artikel : Tim Jesus Film Project
Kategori: 
Taxonomy upgrade extras: