Komentar

Hubungan Antara Kelahiran Melalui Anak Dara dengan Ajaran Tentang Inkarnasi dan Ketidakberdosaan Kristus

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pendahuluan

Bagi khalayak umum, Natal adalah suatu peringatan elahiran (Latin, natus) tokoh agama Kristen yang bernama Yesus. Namun bagi orang Kristen sendiri, Natal semestinya bukan sekedar peringatan kelahiran, melainkan juga peringatan cara kelahiran yang ajaib. Maksudnya, Yesus Sang Putra Allah lahir setelah melalui cara pengandungan dalam rahim seorang anak dara (Ing. virgin conception), tanpa keterlibatan sperma manusia, melainkan dengan intervensi Allah Roh Kudus sendiri.

Maria dan malaikat

Alkitab sendiri sudah cukup jelas menyatakan cara tersebut, yaitu dalam kedua pasal pertama Injil Matius dan Lukas (khususnya Mat. 1:18; Luk. 1:35). Lalu, di dalam sejarah gereja pun kelahiran melalui pengandungan seorang anak dara [1], menjadi pokok Kristologi yang penting, apalagi pernah dibela mati-matian oleh Ignatius ketika melawan aliran Doketisme. Dan sejak pokok itu dimuat dalam ikrar Pengakuan Iman Rasuli di Gaul (abad V), pokok itu jelas sudah dianggap esensial dan crucial dalam Kekristenan oleh gereja di segala zaman. Di dalam artikel singkat ini, penulis hanya ingin memperlihatkan bagaimana dan sejauh mana hubungan antara kelahiran melalui anak dara dengan ajaran tentang inkarnasi dan ketidakberdosaan Kristus.

Hubungan Antara Kelahiran Melalui Anak Dara dengan Inkarnasi Kristus

Dalam perjalanan sejarah Iman Kristen, Inkarnasi Kristus [2], memang berhubungan erat dengan kelahiran melalui anak dara. Hubungannya sedemikian erat, dan tidak dapat dipisahkan sehingga kalau kelahiran melalui anak dara ditolak, inkarnasi nampaknya akan dipertanyakan. Alasannya, kelahiran melalui anak dara memang menambah intensitas keunikan peristiwa inkarnasi. Maksudnya, kelahiran melalui anak dara sendiri merupakan peristiwa yang unik di jagad raya ini. Sedangkan keunikan inkarnasi Kristus terletak pada hal penyatuan antara natur Ilahi 100% dan natur manusia 100%. Maka alangkah serasi bila kelahiran melalui anak dara sebagai cara yang unik dipadukan dengan inkarnasi yang unik itu. Penilaian ini pernah dilontarkan oleh F.F. Bruce, "The more we appreciate the uniqueness of the incarnation, the more way we recognize how fitting - indeed how inevitable - it is that the means by which it was brought about should also be unique" [3], sekalipun kelahiran melalui anak dara mempunyai peranan khusus dalam Inkarnasi Kristus, kita tetap membatasi sampai sejauh mana peranannya, sebagaimana diingatkan oleh R. G. Gromacki dan D. Guthrie: ... "is not that God was limited to the Virgin Birth to actuate the incarnation." [4] "It cannot be said that the incarnation demands the virgin birth, for God could have accomplished it in another way." [5]

Karena jelas inkarnasi Kristus tidak harus dipaksakan hanya melalui cara yang satu-satunya. Kita tidak boleh membatasi kemahakuasaan Allah. Allah bisa memakai cara apa saja yang Ia sendiri mau pakai. Jadi Kelahiran melalui anak dara adalah cara yang ditetapkan berdasarkan kedaulatan Allah sejak kekekalan untuk melaksanakan inkarnasi Kristus. Sebab Allah mengetahui bahwa itulah cara atau sarana yang tepat. Ketepatannya dikomentari oleh Guthrie, Gromacki dan C.F.H. Henry sebagai berikut:

"The virgin birth of Jesus is entirely appropriate to the nature of one became flesh although he was equal with God." [6]

"It had to be through the virgin conception to account for the many complex purposes associated with the incarnation." [7]

"The virgin birth might well be described as an essential, historical indication of the Incarnation, bearing not only an analogy to the divine and human natures of the Incarnation, but also bringing out the nature, purpose, and bearing of this work of God to salvation!" [8]

Kelahiran melalui anak dara mendemonstrasikan penggenapan rencana keselamatan yang Allah telah tetapkan sejak kekekalan. Mulai dari Kejadian 3:15, cara ini sudah diprediksi, yaitu dengan keterangan "keturunannya" (Ing. her seed). Kemudian 'keturunan' ini ditentukan harus berasal dari keluarga Daud. Lalu memang nubuat itu digenapi dengan terpakainya Maria sebagai alat Tuhan, sebab Maria adalah seorang perempuan keturunan Daud.

Satu kebenaran yang langsung dapat dikaji dari inkarnasi Kristus lewat sarana kelahiran melalui anak dara ini adalah pra eksistensi Kristus. Sebelum keberadaan Yesus dalam dunia yang dibatasi oleh waktu, Yesus ada (bdk. Yoh. 8:58; dalam NIV: "Before Abraham was, I am"). Artinya, keberadaan dalam kekekalan. Namun The eternal Son of God ini mengambil rupa manusia yang dibatasi ruang dan waktu. Inilah fakta inkarnasi yang mengagumkan bagi kita. Lalu, kita dibuat lebih kagum lagi dengan fakta bahwa Ia lahir dari rahim seorang anak dara. Sebab fakta itu merupakan satu event yang luar biasa di dalam batas ruang dan waktu itu sendiri. Keluarbiasaan tersebut dapat mengimbangi keluarbiasaan kekekalan bila dibandingkan dengan waktu (the eternity beyond time). Maka ketika kita mengingat kelahiran melalui anak dara, kita mengingat jenjang kekekalan yang keluarbiasaannya sudah diimbangi oleh kelahiran melalui anak dara; kita mengingat sesuatu yang di dalamnya Kristus berada sebelum lahir ke dunia (the eternity in which Christ pre-exists). Perimbangan ini pernah dipikirkan oleh Bruce Milne dengan istilah "konsisten":

"The virgin conception is consistent with our Lord's pre-existence. In our case the act of conception is the coming into existence of a newperson; in his case the eternal word pre-existed conception." [9]

Hubungan Antara Kelahiran Melalui Anak Dara dengan Ketidakberdosaan Kristus

Kita tidak dapat memakai kelahiran melalui anak dara untuk mempertahankan Ketidakberdosaan Kristus. Kita bersikap: "It cannot be argued that the virgin birth was intended to maintain the sinlessness of Jesus, although it does not exclude it." [10] Karena apabila kita menganggap bahwa jika Kristus tidak dilahirkan melalui anak dara Ia tidak dapat menjadi sinless, berarti kita membatasi kemahakuasaan Allah. Ingatlah bahwa bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin; tiada yang mustahil. Jelaslah bahwa sikap penulis adalah keberatan terhadap usaha menarik hubungan kausal antara kelahiran melalui anak dara dengan ketidakberdosaan Kristus. Ada tiga alasan untuk keberatan ini: Pertama, usaha tersebut berdasarkan teori Tradusianisme. Teori ini menganggap jiwa seorang anak tidak secara langsung diciptakan oleh Allah melainkan diturunkan dari kedua orang tuanya sama seperti penurunan genetis. Akibatnya, mereka berpendapat bahwa dosa asal (sifat jiwa atau roh) juga diturunkan kepada sang anak, dengan syarat harus dari kromosom ayah dan kromosom ibu. Sehingga pada kasus Yesus mereka menilai bahwa tidak menurunnya dosa asal kepada bayi Yesus hanya dikarenakan tidak memenuhi syarat penurunan genetis, yaitu tidak ada sesuatu dari orang tua pria. Kondisi tidak adanya sel sperma adalah kondisi kelahiran anak dara. Bagi mereka, kondisi demikian menyebabkan Yesus tidak berdosa. Padahal sesungguhnya teori asal mula jiwa manusia itu hanyalah spekulasi sebab tidak ada bagian Alkitab yang memberitahukan bagaimana jiwa dibentuk. Kedua, ilmu genetika menyatakan bahwa penurunan sifat juga berasal dari orang tua wanita. Maka penganut Tradusianisme harus konsekuen, yaitu dengan menerima kebenaran ini, sehingga mereka tidak bisa mengingkari bahwa dengan kelahiran melalui anak dara pun masih ada kemungkinan pencemaran dosa asal pada bayi Yesus. Dengan kata lain, tetap tidak aman bagi natur manusia Kristus. Gromacki menegaskan demikian: "The sin nature involves amoral and spiritual transmission, not a material sequence. In such a transmission, only one parent is needed.... It is too arbitrary to attribute His sinless humanity to the absence of human male fertilization." [11] Ketiga, sebab justru bukan cara kelahiran-Nya yang ajaib melainkan cara hidup-Nya yang menjaga kesucian itulah yang dipakai para rasul untuk menunjukkan ketidakberdosaan-Nya. Hubungan yang ada antara kelahiran melalui anak dara dengan ketidakberdosaan Kristus hanyalah hubungan yang sewajarnya. Maksudnya, Kristus yang sejak semula kudus adalah wajar apabila Ia memakai cara atau sarana yang kudus pula. Ia yang sejak kekekalan (sebelum inkarnasi) berstatus sebagai Allah Anak Yang Maha Kudus, pada satu saat tertentu, datang ke dunia menjadi manusia Kristus yang tanpa cacat cela sedikit pun melalui pengandungan di bawah perlindungan kuasa Roh Kudus. Lukas 1:35 memperlihatkan hubungan tersebut. Parafrase ayat ini demikian: "Dikarenakan oleh the overshadowing protection Roh Kudus dan kuasa dari Yang Mahatinggi, Anak itu ketika lahir akan disebut kudus. "He is God's eternal Son." Maka adalah wajar Ia Yang Kudus lahir secara kudus sebagai Yang Kudus. Memang jelas bahwa: "As the eternal God the Son, Jesus Christ was naturally holy and sinless before His Incarnation. However, to gain a sinless human nature, the virgin birth had to take place." [12] "She was prevented by the Holy Spirit from transmitting a sin nature. The end result was that Jesus Christ was one person with two natures apart from sin and human flaw." [13] "And it would seem only an arbitrary act of God that Jesus could be born without a sinful nature." [14]. "It is not so much birth by a virgin which guarantees sinlessness, as the direct action of the Holy Spirit in that birth." [15]. Ketidakberdosaan Yesus Kristus sejak kekekalan dan bahkan sampai memasuki batas waktu dan ruang yakni ketika dilahirkan dari kandungan seorang anak dara yang telah "diamankan" Roh Kudus, adalah penting dan vital bagi keselamatan kita. Dialah yang pantas/qualified menjadi Juru Selamat kita (2 Kor. 5:21; 1 Pet. 1:19; 2:22-24; Ibr. 4:15; 7:26; Rm. 5:18,19).

Penutup

Hubungan antara kelahiran melalui anak dara dengan Inkarnasi Kristus memang erat. Kepentingan kelahiran melalui anak dara dalam hal ini sebagai sarana (Ing. means) Inkarnasi Kristus, yang telah dipilih Allah sejak kekekalan berdasarkan kedaulatanNya. Sedangkan hubungan antara kelahiran melalui anak dara dengan Ketidakberdosaan Kristus hanyalah berupa suatu kewajaran, bukan hubungan kausal dalam arti ketidakberdosaan Kristus sebagai akibat dari kelahiran melalui anak dara.

Catatan Kaki:
[1] Selanjutnya ditulis "Kelahiran melalui anak dara".
[2] Inkarnasi (Latin, in-carnate) menunjuk kepada kedatangan Allah Anak ke dunia menjadi daging/manusia (Yoh. 1:14; Flp. 2:7).
[3] "Incarnation and Virgin Birth" dalam Basic Christian Doctrines (Grand Rapids- Eerdmans, 1981) 128.
[4] The Virgin Birth (Grand Rapids: Baker, 1984) 120.
[5] New Testament Theology (Leicester. IVP, 1980) 374.
[6] Ibid.
[7] Gromacki, The Virgin Birth 120.
[8] "Our Lord's Virgin Birth" dalam Christianity Today (7 December 1959):20.
[9] Know The Truth (Leicester IVP, 1984) 139.
[10] Guthrie, New Testament Theology 374.
[11] Gromacki, The Virgin Birth 119.
[12] Ibid.
[13] Ibid. 125.
[14] J. M. Frame, "Virgin Birth of Jesus" dalam Evangelical Dictionary of Theology (Grand Rapids: Baker, 1985) 1145.
[15] D. Guthrie, New Testament Theology 374.

Diambil dari:
Nama situs : Alkitab SABDA
Alamat situs : http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=305&res=jpz
Judul artikel : Hubungan Antara Kelahiran Melalui Anak Dara dengan Ajaran Tentang Inkarnasi dan Ketidakberdosaan Kristus
Penulis : Susamsuri
Kategori: