GSM-Referensi 01b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Pengenalan Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R01b

Referensi GSM-R01b diambil dari:

Judul Buku : Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan
Judul Artikel : Sekolah Minggu (Tidak) Penting
Pengarang : Helena Erika / Sudi Ariyanto
Penerbit : Gloria Graffa
Halaman : 38 - 50

REFERENSI PELAJARAN 01b - SEKOLAH MINGGU (TIDAK) PENTING?

Jika orang kristiani dewasa ditanya, "Apakah Sekolah Minggu perlu atau penting?", apakah kira-kira jawaban mereka? Kemungkinan besar jawabannya berkisar antara: "Oh, sangat perlu", "Ya, anak-anak harus diajar mengenal Tuhan sejak kecil", "Sekolah Minggu harus diadakan." Pada dasarnya, mereka menganggap pelayanan Sekolah Minggu perlu dan penting.

Namun, apakah sikap yang memandang penting pelayanan anak itu terwujud dalam kenyataan? Dari pengamatan terhadap beberapa gereja diketahui bahwa pada tataran praktik, keadaannya tidak seperti yang diungkapkan dengan kata-kata. Berikut adalah beberapa hal yang masih (kalau tidak mau dikatakan sangat sering) dijumpai di gereja-gereja berkaitan dengan pelayanan anak (Sekolah Minggu).

  1. Pelayanan Anak Diadakan Agar Anak-anak Tidak Mengganggu Kebaktian Orang Dewasa.

    Sikap seperti ini mungkin muncul dari pra anggapan bahwa anak-anak tidak atau belum bisa berbakti. Sikap semacam ini mempunyai implikasi de facto bahwa kebaktian anak tidaklah penting. Dengan kata lain, kebaktian orang dewasa teramat sangat penting, sehingga sedikit pun tidak diizinkan ada gangguan dari anak-anak. Mereka dipisahkan dari kebaktian orang dewasa bukan supaya dapat berbakti dengan lebih baik, melainkan agar kebaktian orang dewasa tidak terganggu. Lalu, apabila tempat kebaktian anak dekat dengan tempat kebaktian orang dewasa, maka anak-anak itu tidak diizinkan untuk memuji Tuhan dengan suara keras (yang menunjukkan kebebasan untuk memuji Tuhan), karena akan mengganggu kebaktian orang dewasa. Namun, apakah pernah terpikir bahwa puji-pujian dari kebaktian orang dewasa yang begitu keras bisa mengganggu anak-anak untuk belajar firman Tuhan? Di sini tampaklah ketidakadilan yang dilihat nyata oleh anak-anak.

  2. Fasilitas untuk Pelayanan Anak Tidak Memadai

    Ruangan yang dipakai untuk kebaktian anak kerap kali sempit dan tidak memadai. Bahkan ada gereja yang mengadakan kebaktian anak di bawah pohon. Atau di basement yang merupakan tempat parkir sebuah hotel. Sedangkan kebaktian untuk orang dewasa diadakan di ruangan hotel yang luas dan nyaman karena adanya penyejuk ruangan.

    Selain itu, jarang ada alat musik untuk anak-anak. Sementara pada kebaktian orang dewasa alat musik serta sistem suaranya sangat baik dan lengkap. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi? Dalam ucapan dikatakan bahwa kebaktian anak penting, tetapi pada kenyataannya yang menjadi pusat perhatian hanyalah orang dewasa dan pelayanan anak dinomorsekiankan. Bangku-bangku yang digunakan di kebaktian anak biasanya juga bangku bekas yang sudah tidak dipakai lagi di kebaktian dewasa. Demikian juga peralatan musiknya. Bahkan kalau di kebaktian dewasa ada pemain musik yang sangat baik, maka yang bermain musik di kebaktian anak adalah mereka yang baru saja bisa memainkan alat musik. Bila kenyataannya demikian, bagaimana kita bisa mengajar anak-anak bahwa kebaktian itu menyenangkan?

  3. Pengajar Kurang Kompeten

    Banyak orang tidak mau mengajar di kebaktian anak. Itu sebabnya gereja sering kekurangan guru, padahal anggota jemaat banyak sekali. Dari antara mereka yang mau dan memiliki beban yang besar untuk pelayanan anak, banyak yang pengetahuan dan keterampilannya kurang memadai.

    Selain itu banyak guru yang menyampaikan firman Tuhan tanpa persiapan. Pernah ada seorang guru yang keliru menyampaikan firman Tuhan dengan berkata, "Anak-anak, ketika Yesus di kayu salib, Dia berteriak, 'Ela, ela, lama sabakhtani."

    Memang sangat baik bila seseorang memiliki beban yang besar untuk pelayanan, apalagi pelayanan anak. Akan tetapi, para guru harus diperlengkapi atau memperlengkapi diri dengan keterampilan atau pengetahuan agar dapat menyampaikan berita sukacita kepada anak- anak lebih baik lagi.

    Masih ada banyak hal yang menunjukkan bahwa anak-anak tidak begitu diperhatikan. Pelayanan anak biasanya diberi prioritas terakhir dari antara pelayanan-pelayanan yang lain. Inti masalah yang sebetulnya adalah pada cara memandang anak-anak yang kurang tepat. Banyak orang dewasa (dalam hal ini pengajar, gembala sidang, majelis gereja, dll.) yang memandang bahwa anak-anak belum bisa apa-apa: belum bisa mengerti firman Tuhan, belum bisa memuji Tuhan.

    Cara pandang seperti ini termanifestasi pada sikap atau kondisi guru yang mengajar tanpa persiapan, tidak adanya pemikiran untuk menambah fasilitas pelayanan anak, atau tidak adanya pemikiran untuk mengadakan retret khusus untuk anak-anak. Yang diajarkan kepada anak hanyalah cerita-cerita yang tidak membuat mereka mengenal Tuhan lebih dalam atau menyadarkan kebutuhan mereka akan Juru Selamat.

    Cara pandang seperti ini perlu diubah, karena masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apa yang diberikan atau dialami anak-anak dalam masa kanak-kanak bisa berdampak sangat serius untuk anak itu kelak bila dewasa. Banyak orangtua yang mengusahakan pendidikan formal sebaik mungkin untuk anak-anak: dimasukkan ke sekolah yang baik, dibelikan buku pelajaran yang lengkap, dll. Akan tetapi, apakah sikap memandang penting pendidikan ini juga diterapkan dalam hal rohani? Kita harus ingat bahwa anakanak itu adalah calon-calon pemimpin bangsa, dan juga masa depan gereja. Kepemimpinan gereja di masa yang akan datang ada di tangan mereka.

    Pandangan umum bahwa pelayanan anak kurang begitu penting juga mempengaruhi pandangan orang terhadap pelayan anak. Suatu kali, MEBIG Jepang dan MEBIG Indonesia diminta untuk melayani KKR anak di suatu kota besar. Seusai acara, semua panitia sepertinya terpaku pada acara, sehingga melupakan kami yang telah melayani. Setelah turun dari panggung pun, tidak ada yang menyalami dan mengucapkan terima kasih. Lalu kami menunggu panitia yang akan mengantar pulang ke penginapan, tetapi tak seorang pun muncul. Kemudian kami menunggu di tempat parkir sambil harus mengisap asap knalpot yang tebal, namun tetap tidak ada seorang pun yang datang. Akhirnya kami mencoba menghubungi saudara kami yang juga menjadi panitia (pada seksi lain, bukan transportasi), dan meminta agar seseorang dapat mengantar kami dengan mobilnya. Sampai kami berangkat ke kota lain untuk pelayanan berikutnya, tak seorang pun panitia yang datang untuk mengucapkan terima kasih dan melepas kami dengan ucapan selamat jalan. Baru saat kami sudah ada di dalam mobil yang kami sewa sendiri, ada telepon yang masuk ke telepon genggam kami, dari salah seorang panitia tersebut.

    Saat itu, kami sebagai orang Indonesia merasa malu kepada mitra pelayanan kami yang jauh-jauh datang dari Jepang dengan biaya sendiri untuk melayani kita orang Indonesia. Kami membayangkan seandainya kami adalah rombongan pembicara untuk orang dewasa yang sudah terkenal, mungkin banyak orang akan menemui kami untuk mengajak makan atau menginap di rumahnya.

    Menurut Pendeta Gonbei, hal menomorsekiankan pelayanan anak mungkin timbul karena gereja memegang konsep praktis yang umum dipegang oleh kalangan di luar gereja, yaitu tidak membiarkan adanya pemborosan dan kerugian.

    Tidak membiarkan adanya pemborosan secara sadar atau tidak, banyak gereja beranggapan bahwa mengeluarkan banyak uang untuk pelayanan anak merupakan pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyediakan alat musik, ruang kelas yang memadai, dan juga hal lain untuk pelayanan anak adalah pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyelenggarakan retret anak-anak adalah pemborosan. Sikap yang tidak mengizinkan adanya "pemborosan" ini pun kita temukan pada Markus 14:4, yaitu ketika seorang perempuan mencurahkan minyak narwastu ke kepala Yesus. Waktu itu ada orang yang gusar dan berkata, "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?" Di sini tampak jelas bahwa masalah ekonomi bisa mengalahkan urusan yang berdampak pada kekekalan.

    Terlalu perhitungan sikap terlalu perhitungan sering menghinggapi gereja. Segala sesuatu selalu didasarkan pada prinsip untung dan rugi. Berdasarkan prinsip ini, jelas pelayanan anak adalah pelayanan yang merugi secara ekonomi. Berapa banyak uang persembahan anak-anak? Sudah pasti jumlahnya tidak cukup untuk menyewa ruangan yang baik, membeli gitar, atau membiayai hamba Tuhan. Karena kontribusi persembahan anak-anak ini sangat kecil untuk gereja, maka dapatkah gereja disalahkan jika menyediakan fasilitas sesuai dengan kontribusinya? Tentu tidak salah jika acuannya adalah berapa banyak keuntungan yang dapat diberikan anak- anak melalui pelayanan anak. Namun, benarkah demikian seharusnya kita mengelola pelayanan ini?

    Sikap seperti ini memang sering mewarnai gereja yang ditebus oleh Tuhan Yesus. Jika tidak memberikan kontribusi yang layak, maka tidak perlulah terlalu diperhatikan. Semua tindakan harus dilakukan berdasarkan perhitungan untung-rugi. Namun, bagaimana seandainya Yesus juga melakukan analisis untung-rugi (cost-benefit analysis) sebelum Dia mau disalibkan, apakah kita akan diselamatkan?

    Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari. Untuk urusan sekolah, orang tua mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku, membayar guru privat, membeli komputer, dll. Dalam hal ini, apakah orang tua menggunakan perhitungan untung-rugi secara murni? Tentu tidak. Mereka melihat masa depan yang akan dijalani oleh anak-anak itu. Mereka harus diberi bekal agar kelak dapat menghidupi dirinya dan keluarganya. Bukankah pelayanan untuk anak-anak juga harus dipandang demikian? Anak-anak harus dipersiapkan untuk menerima Yesus Kristus, yang akan sangat mempengaruhi masa-masa setelah hidupnya di dunia ini berakhir. Berapa lamakah kehidupan setelah kematian bila dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini? Bila untuk kehidupan di dunia yang rentang waktunya tidak panjang seseorang mau berkorban banyak, bukankah seharusnya kita mau berkorban untuk kehidupan yang kekal?

    Cara pandang yang meremehkan anak-anak atau pelayanan anak ini perlu diubah. Jika tidak, gereja akan kehilangan berkat Tuhan. Sikap munafik yaitu lain di mulut lain di hati, atau lain di tindakan, harus segera dihentikan. Tuhan tidak menyukai sikap seperti ini dalam gereja-Nya.

Taxonomy upgrade extras: