Doktrin Allah Tritunggal Masih Signifikankah Pada Zaman Ini?

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Introduksi

Sebagai orang Kristen, kita pasti pernah mendengar tentang Allah Tritunggal. Namun, sering kali kita merasa ini adalah konsep yang terkesan sangat sulit dan mengawang-awang. Tidak sedikit orang-orang di sekeliling kita, atau mungkin juga kita sendiri bertanya, “Apa sih pentingnya doktrin Allah Tritunggal? Kok, kayaknya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya sehari-hari?” Dalam artikel ini, kita akan mencoba merefleksikan apa ‘pentingnya’ (signifikansinya) doktrin Allah Tritunggal, terutama bagi kita yang hidup pada zaman ini.

The Trinity

Doktrin Allah Tritunggal

Doktrin Tritunggal memang adalah salah satu pengajaran yang paling sulit dalam kekristenan dan sering kali didebatkan dan diteliti. Akan tetapi, dalam pembelajaran kita mengenai Allah Tritunggal, kita jangan lupa bahwa Allah Tritunggal sendiri bukanlah objek yang lebih rendah dari kita sehingga bisa kita letakkan di bawah “mikroskop” atau “kaca pembesar” untuk diteliti. Justru sebaliknya, mengenal Allah Tritunggal berarti mengenal Pribadi Allah yang jauh melampaui keterbatasan manusia. Pertanyaan “Apa pentingnya doktrin Allah Tritunggal?” harusnya kita lontarkan dengan penuh kerendahan hati dan sikap yang mau belajar, bukan dengan hati yang ‘meremehkan’ pengajaran ini. Pertanyaan itu sama derajatnya seperti kita bertanya “Apa pentingnya Allah?” Allah pasti penting, bahkan Allah itu yang seharusnya paling penting. Mengenal Pencipta kita adalah keharusan!

"“Oke, tetapi bukankah debat dan pendalaman mengenai Allah Tritunggal hanya relevan untuk kaum akademik dan itu sudah berlangsung sejak dahulu? Allah Tritunggal memang penting, tetapi apa contoh relevansinya untuk kita sekarang?" Ya, memang pengertian dan pengenalan orang akan Allah bisa berbeda-beda sesuai dengan anugerah dan kapasitas masing-masing. Namun yang pasti, bukan hanya tanggung jawab para kaum akademik atau teolog untuk merenungkan tentang pengajaran-pengajaran sulit di dalam Alkitab (termasuk doktrin Allah Tritunggal). Itu adalah tanggung jawab, sekaligus hak dan anugerah, bagi setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh untuk merefleksikan kebenaran-kebenaran tersebut.

Signifikansi

Pertama, kita adalah umat yang sangat mengidolakan rasio dan logika. Ketika kita mencoba mengenal Allah Tritunggal, kita menganggap Tritunggal adalah konsep yang tidak rasional, mengapa satu dan tiga bisa terjadi secara bersama-sama? Allah Tritunggal adalah Allah yang menciptakan rasio sehingga melampaui rasio, jadi sebenarnya, jika kita tidak bisa mengerti sepenuhnya misteri Allah Tritunggal, kita hanya bisa kagum kepada-Nya dan takut akan Dia.

Doktrin Allah Tritunggal

Kedua, Allah Tritunggal juga merupakan Allah yang adalah kasih. Pdt. Stephen Tong beberapa kali menjelaskan jika Allah itu kasih, sebelum dunia dijadikan, siapa yang Dia kasihi? Jawabannya ialah bahwa Allah itu Tritunggal dan setiap Oknum mengasihi Oknum yang lain. Dalam zaman yang individualistik ini, Tritunggal menjadi teladan bagi relasi manusia yang telah kehilangan kasih sejati. Semangat “berjuang sendiri” dan “menang sendiri” juga tidak dinyatakan melalui Tritunggal, tetapi semangat saling memuliakan. Dengan demikian, kita diajarkan konsep komunitas yang saling mengasihi. Kita diajar untuk hidup sebagai komunitas yang tidak membuang keunikan talenta diri dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing dan sekaligus mampu mendorong yang lain lebih baik lagi dalam keunikannya. Dengan kata lain, dalam Allah Tritunggallah kita bisa belajar bagaimana membangun individu dalam komunitas dan komunitas dalam individu.

Ketiga, kita dapat melihat bahwa Oknum Allah Tritunggal meskipun berbeda, tetapi memiliki pikiran, kehendak, dan tujuan yang sama. Ini terefleksikan lebih jelas terutama dalam Perjanjian Baru; ketika Yesus dibaptis, Allah Bapa bersuara, dan Allah Roh Kudus turun bagai burung merpati, dan dalam keseluruhan cerita kita dapat melihat pekerjaan masing-masing Oknum dari Tritunggal, Allah Bapa yang mengutus Allah Anak dan Allah Anak yang naik ke sorga kemudian bersama dengan Bapa mengutus Roh Kudus turun. Hal ini juga terefleksikan di dalam kehidupan jemaat mula-mula, dan seharusnya semangat ini juga terpancar dalam kehidupan jemaat sekarang. Hari ini, kita sangat menekankan hak dan kebebasan pribadi, yang sering kali menjadi liar. Keberadaan kita dianggap jauh lebih penting dari yang lain. Bahkan, kita tidak lagi mau takluk di bawah pemikiran dan teologi yang diwariskan dari zaman ke zaman. Kita anggap kita berhak menetapkan pemikiran dan kehendak kita sendiri, serta arah sendiri. Rasul Paulus mengingatkan kepada kita bahwa kita adalah anggota-anggota tubuh dan Kristuslah kepalanya.

Selain tiga hal yang dibahas dalam artikel ini, masih banyak yang dapat diaplikasikan dari doktrin Allah Tritunggal, baik dalam kehidupan kita bekerja, bersekolah, keluarga, maupun bergereja. Kiranya dengan belajar mengaplikasikan konsep Tritunggal dalam hidup membuat kita semakin melihat dan mengalami Allah Tritunggal yang adalah Allah yang hidup dan berkarya dalam sejarah manusia sepanjang zaman.

Audio Doktrin Allah Tritunggal dan Signikansinya

Diambil dari:
Nama situs : Pillar (Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia)
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/artikel/doktrin-tritunggal-masih-signifikankah-di-zaman-ini
Judul asli artikel : Doktrin Tritunggal Masih Signifikankah di Zaman Ini?
Penulis artikel : Albert Lowis
Tanggal akses : 8 Juli 2017
Kategori: 

Komentar