Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03c
Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa
Kode Referensi: AUA I-R03b
Referensi AUA I-R03b diambil dari:
Judul buku: Teologi Sistematika
Judul artikel: Watak Semula Manusia
Pengarang: Henry C. Thiessen
Penerbit: Gandum Mas, 2003
Halaman: 236 -- 240
WATAK SEMULA MANUSIA
Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan memakai
ungkapan "menurut gambar dan rupa Allah" (Kej. 1:26-27; 5:1; 9:6;
1Kor. 11:7; Yak. 3:9). Nampaknya tidak ada perbedaan berarti di antara
kata-kata Ibrani "gambar" dan "rupa", sehingga kita tidak perlu
mencari-cari perbedaan itu. Namun perlu kiranya kita membahas apakah
gambar dan rupa itu.
A. KESAMAAN ITU BUKAN KESAMAAN JASMANIAH
----------------------------------------
Allah adalah Roh sehingga tidak memiliki anggota-anggota tubuh seperti
manusia. Beberapa kalangan menggambarkan Allah sebagai manusia yang
agung dan luhur, namun pandangan semacam ini salah. Mazmur 17:15
mengatakan, "Pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu."
Namun ayat ini tidak memaksudkan keadaan jasmaniah; lebih tepat kalau
dikatakan bahwa ayat ini menurut konteksnya berbicara mengenai
persamaan dalam kebenaran (lihat 1 Yoh. 3:2-3). Musa telah melihat
"rupa Tuhan" (Bil. 12:8), walaupun wajah Allah tidak dapat dilihat
(Kel. 33:20). Sekalipun manusia tidak memiliki kesamaan jasmaniah
dengan Allah karena Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah, manusia
memang memiliki kesamaan tertentu karena manusia diciptakan dalam
keadaan sehat walafiat, tidak ada bibit-bibit penyakit apa pun di
dalam dirinya, dan tidak bisa mati. Nampaknya pada mulanya Allah
merencanakan supaya manusia makan dari tumbuh-tumbuhan saja (Kej.
1:29), tetapi kemudian Ia mengizinkan daging hewan untuk dimakan (Kej.
9:3). Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Allah mengizinkan
manusia memakan daging, Allah samasekali tidak memberikan peraturan
mengenai hewan haram dan hewan halal meskipun perbedaan antara yang
haram dan yang halal sudah diketahui (Kej. 7:2). Peraturan itu diberi
kemudian untuk mengatur perilaku satu bangsa saja dan hanya berlaku
untuk jangka waktu tertentu (Imamat 11; Markus 7:19; Kisah 10:15;
Roma 14:1-12; Kolose 2:16).
B. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN MENTAL
--------------------------------------
Hodge mengatakan, Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah roh juga.
Sifat-sifat hakiki dari roh ialah akal budi, hati nurani, dan
kehendak. Roh adalah unsur yang mampu bernalar, bersifat moral, dan
oleh karena itu juga herkehendak bebas. Ketika menciptakan manusia
menurut gambar-Nya Allah menganugerahkan kepadanya sifat-sifat yang
dimiliki-Nya sendiri sebagai roh. Dengan demikian manusia berbeda dari
semua makhluk lain yang mendiami bumi ini, serta berkedudukan jauh
lebih tinggi daripada mereka. Manusia termasuk golongan yang sama
dengan Allah sendiri sehingga ia mampu berkomunikasi dengan
Penciptanya. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia ini ... Juga
merupakan keadaan yang diperlukan untuk mengenal Allah dan karena itu
merupakan dasar dari kesalehan kita. Bila kita tidak diciptakan
menurut gambar Allah, kita tidak dapat mengenal Dia. Kita akan sama
dengan binatang-binatang yang akhirnya binasa.
Pernyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab. Dalam pengudusan, manusia
"terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar
menurut gambar Khaliknya" (Kol. 3:10). Tentu saja, pembaharuan ini
dimulai pada saat kelahiran baru terjadi, tetapi dilanjutkan dalam
pengudusan. Bahwa manusia diberi kemampuan intelektual yang tinggi
tersirat dalam perintah untuk mengusahakan taman Eden serta
memeliharanya (Kej. 2:15), juga perintah untuk menguasai bumi beserta
segala isinya (Kej. 1:26, 28), dan dalam pemyataan bahwa manusia
memberi nama kepada segala binatang di bumi (Kej. 2:19-20). Kesamaan
dengan Allah ini tidak dapat dihapus, dan karena kesamaan tersebut
memungkinkan manusia memperoleh penebusan, maka kehidupan manusia yang
belum dilahirkan baru juga berharga (Kej. 9:6; 1 Kor. 11:7; Yak. 3:9).
Betapa berbcdanya gambaran ini tentang keadaan mula-mula manusia
dengan pandangan evolusi, yang menganggap manusia yang pertama hanya
sedikit di atas binatang liar yang tidak hanya bodoh, tetapi
sama sekali tanpa kemampuan mental apa pun.
C. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN MORAL
-------------------------------------
Beberapa pihak telah membuat kekeliruan karena menganggap bahwa gambar
dan rupa Allah yang menjadi karakter asli manusia ketika diciptakan
itu hanya terdapat dalam sifat rasionalnya; sedangkan yang lain
membatasi kesamaan itu pada kekuasaan manusia saja. Yang lebih tepat
ialah bahwa kesamaan itu terdapat dalam sifat rasional manusia dan
dalam persesuaian moralnya dengan Allah. Hodge mengatakan, Manusia
adalah gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan kesamaan ilahi
di antara penghuni-penghuni lain di bumi, karena manusia itu roh,
unsur yang cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh karena itu sudah
sepantasnya manusia ditetapkan untuk menguasai bumi. Inilah yang
biasanya disebut oleh para teolog Reformasi sebagai gambar Allah yang
hakiki dan bukan yang insidental.
Bahwa manusia memiliki kesamaan semacam itu dengan Allah sudah jelas
dalam Alkitab. Bila dalam pembaharuan manusia baru itu "diciptakan
menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya" (Ef. 4:24), maka pastilah tepat untuk menyimpulkan bahwa
pada mulanya manusia memiliki baik kebenaran maupun kekudusan. Konteks
Kejdian 1 dan 2 membuktikan hal ini. Hanya atas dasar inilah manusia
dapat bersekutu dengan Allah, yang tidak dapat memandang kelaliman
(Hab. 1:13). Pengkhotbah 7:29 mendukung pendapat ini. Di situ tercatat
bahwa Allah telah menciptakan "manusia yang jujur". Kenyataan ini
dapat juga kita simpulkan dari Kejadian 1:31 yang mengatakan bahwa
"Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Kata
"segala" mencakup juga manusia sehingga pemyataan itu tidaklah benar
apabila manusia diciptakan dengan keadaan moral yang tidak sempurna.
Apakah yang dimaksudkan dengan kebenaran dan kesucian mula-mula? Yang
jelas, kebenaran dan kesucian mula-mula bukanlah hakikat manusia,
karena dengan demikian watak manusia pasti sudah tidak ada lagi ketika
ia berbuat dosa. Kekudusan dan kebenaran mula-mula tersebut juga bukan
pemberian dari luar, yaitu sesuatu yang ditambahkan kepada manusia
setelah ia diciptakan, karena dikatakan bahwa manusia memiliki gambar
ilahi itu ketika diciptakan, dan bukan karena dikaruniakan kepadanya
setelah diciptakan. Shedd menerangkannya sebagai berikut, Kekudusan
bukanlah sekadar keadaan tidak berdosa. Tidaklah memadai untuk
mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdosa. Hal
ini dapat dikatakan apabila manusia samasekali tidak mcmiliki watak
yang moral entah itu benar atau salah. Manusia diciptakan tidak hanya
sebagai makhluk yang tidak berdosa secara negatif, tetapi juga sebagai
makhluk kudus secara positif. Keadaan manusia yang diperbaharui adalah
pemulihan keadaannya yang semula; dan kebenaran manusia yang telah
diperbaharui disebut dalam Alkitab sebagai kata 'theon', Ef. 4:21, dan
sebagai "kekudusan yang sesungguhnya", Ef. 4:24. Ini merupakan watak
yang positif, dan bukan sekadar keadaan tidak berdosa saja. Kadang-
kadang hal ini disebut sebagai kekudusan yang "diciptakan bersama",
sebagai berlawanan dengan kekudusan yang menurut beberapa orang telah
dianugerahkan oleh Allah kepada manusia setelah ia diciptakan.
Kekudusan mula-mula ini dapat diartikan sebagai kecenderungan kasih
sayang dan kemauan manusia, sekalipun disertai kekuatan pilihan yang
jahat, ke arah pengenalan yang rohani akan Allah serta hal-hal rohani
lainnya. Kekudusan mula-mula ini berbeda dengan kekudusan yang
disempurnakan dari orang-orang saleh, sebagaimana kasih sayang yang
naluriah dan keadaan tidak berdosa yang kekanak-kanakan adalah berbeda
dari kckudusan yang telah dimatangkan dan diperkuat oleh pencobaan.
D. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN SOSIAL
--------------------------------------
Sifat Allah yang sosial itu didasarkan pada kasih sayang-Nya. Yang
menjadi sasaran kasih sayang-Nya adalah Oknum-Oknum lain di dalam
ketritunggalan-Nya. Karena Allah memiliki sifat sosial, maka Ia
menganugerahkan kepada manusia sifat sosial. Akibatnya, manusia
senantiasa mencari sahabat untuk bersekutu dengannya. Pertama-tama,
manusia menemukan persahabatan ini dengan Allah sendiri. Manusia
"mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan-jalan dalam taman
itu pada waktu hari sejuk" (Kej. 3:8). Hal ini menyatakan secara tak
langsung bahwa manusia berkomunikasi dengan Allah Penciptanya. Allah
telah menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri, dan manusia
menemukan kepuasan tertinggi dalam persekutuan dengan Tuhannya. Akan
tetapi, di samping itu Allah juga menganugerahkan persahabatan
manusiawi. Ia menciptakan wanita, karena, sebagaimana dikatakan-Nya
sendiri, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan
menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (Kej. 2:18).
Agar persekutuan ini menjadi sangat mesra, Ia menciptakan perempuan
dari tulang rusuk laki-laki. Adam mengakui bahwa Hawa adalah tulang
dari tulangnya dan daging dari dagingnya, maka dinamakannya
"perempuan". Dan oleh sebab hubungan yang begitu intim di antara
keduanya, "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan
bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej.
2:24). Jelaslah bahwa manusia diciptakan dengan sifat sosial,
sebagaimana Allah mennpunyai sifat sosial. Kasih dan perhatian sosial
manusia bersumber langsung dari unsur ini dalam watak manusia.
----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA