Silabus AUA




KURSUS APOLOGETIKA UNTUK AWAM I [AUA I]

Download Materi :
TEXT | HTML | PDF

  1. Penjelasan Lengkap:

    Kursus AUA I adalah bagian pertama dari 2 bagian Kursus Apologetika untuk Awam yang disiapkan. Di AUA I ini akan dipelajari pokok-pokok penting bagaimana membangun "rumah apologetika" Kristen, khususnya dengan mempelajari tentang Allah dan karakter manusia ketika diciptakan, jatuh dalam dosa dan ditebus oleh Kristus. Akan dipelajari pula perbedaan mendasar antara filsafat Kristen dan non-Kristen.

    [Modul ini adalah modifikasi dari buku "Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus" oleh Richard L. Pratt Jr., terbitan Seminar Alkitab Asia Tenggara, Malang]

  2. Tujuan Pelajaran
    Sesudah mengerjakan seluruh pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan dan menyelesaikan Kursus DIK, maka diharapkan peserta akan dapat:

    1. Menjelaskan "rumah apologetika" bagaimana yang seharusnya dibangun oleh orang Kristen
    2. Mengulang beberapa pokok pengajaran penting tentang karakter
      manusia yang diciptakan oleh Tuhan, baik ketika diciptakan, jatuh dalam dosa dan ditebus oleh Kristus.
    3. Menyebutkan dengan jelas perbedaan antara filsafat Kristen dan non-Kristen.
  3. Materi Pelajaran (6 Pelajaran)
    1. PELAJARAN 01: DASAR YANG KOKOH
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan akan mempelajari
      tentang pengertian apologetika secara alkitabiah dan kepentingannya.
    2. Baca Online : Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c

    3. PELAJARAN 02: PERMULAAN DARI SEGALANYA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengerti konsep Allah sebagai Pencipta dan perbedaan esensial antara Pencita dan yang dicipta.
    4. Baca Online : Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c

    5. PELAJARAN 03: KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengetahui dengan jelas karakter manusia ketika diciptakan Tuhan, yaitu sebagai gambar Allah yang sempurna.
    6. Baca Online : Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c

    7. PELAJARAN 04: KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mempelajari tentang akibat kejatuhan manusia dalam dosa dan pengaruhnya dalam setiap aspek kehidupan manusia.
    8. Baca Online : Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c

    9. PELAJARAN 05: KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS KRISTUS
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengerti dengan jelas kebaikan Allah menyelamatkan manusia dari kutuk dosa dan menempatkannya kembali sebagai gambar Allah seperti semula.
    10. Baca Online : Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c

    11. PELAJARAN 06: FILSAFAT NON-KRISTEN DAN KRISTEN
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat membedakan
      dengan jelas antara filsafat non-Kristen dan Kristen dan mengerti dilema yang diharapi orang non-Kristen agar dapat ditemukan titik temu untuk menginjili mereka.
    12. Baca Online : Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c

Bahan Referensi AUA I
=================

Berikut ini adalah daftar buku yang dipakai sebagai referensi untuk membantu peserta PESTA mendapatkan penjelasan-penjelasan yang lebih dalam dan luas tentang pokok-pokok materi yang dibahas dalam Kursus APOLOGETIKA UNTUK AWAM I. Karena tujuannya adalah untuk melengkapi, maka akan sangat baik jika Anda bisa mengusahakan memiliki buku-buku tsb. dalam bentuk cetaknya untuk kebutuhan di masa y.a.d..

  • Berkhof, Louis, TEOLOGI SISTEMATIKA, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta: 1994.
  • Cole, Dr. Charles W., PENGAKUAN BAPTIS 1689, Carey Publication: 1996.
  • Hoekhema, Anthony A., DISELAMATKAN OLEH ANUGERAH, Momentum, Jakarta: 2001
  • Hoekama, Anthony A., MANUSIA: CIPTAAN MENURUT GAMBAR ALLAH, Momentum, Surabaya: 2003
  • J.I. Packer, Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah, Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2002
  • Kreeft, Peter & Tacelli, Ronald K., PEDOMAN APOLOGETIKA KRISTEN, Yayasan Kalam Hidup, Bandung: 2006.
  • Sproul, R.C., KEBENARAN-KEBENARAN DASAR IMAN KRISTEN, Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.
  • Thiessen, Henry C., TEOLOGI SISTEMATIKA, Gandum Mas, Malang: 2003.
  • Tong, Stephen, IMAN, RASIO DAN KEBENARAN, Institut Reformed, Jakarta: 1996.
  • Nama situs: Carm, http://www.carm.org/apologetics.htm, Introduction to Apologetics, by Matthew J. Slick

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

Pelajaran

AUA-I Pelajaran 01

Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Pelajaran: AUA I-P01

Pelajaran 01 - DASAR YANG KOKOH



Daftar Isi

  1. Rumah Apologetika
  2. Pengertian Apologetika Alkitabiah
  3. Kepentingan Apologetika

Doa


DASAR YANG KOKOH

"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan dan siap
sedialah pada segala sesuatu untuk memberi pertanggungan jawab
kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu
tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah
lembut dan hormat." (1 Pet. 3:15)

Kehidupan yang taat pada firman Tuhan adalah seperti rumah yang
dibangun di atas dasar yang teguh. Akhir dari khotbah Tuhan Yesus di
atas bukit berkata:

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia
sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas
batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di
atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan
tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang
mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan
datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah
rumah itu dan hebatlah kerusakkannya." (Mat. 7:24-27)

Tuhan Yesus menunjuk pada suatu fakta yang nyata, yakni kekuatan
fondasi menentukan kemampuan rumah itu untuk dapat bertahan dari deras
dan kuatnya angin yang menerjang. Jika seseorang membangun rumahnya di
atas pasir, rumah itu akan runtuh; tetapi jika ia membangunnya di atas
batu yang kokoh, rumah itu akan tetap berdiri teguh, walaupun
diterjang angin badai yang dahsyat. Mempelajari pelajaran-pelajaran
ini seperti membangun sebuah rumah di mana kita akan tinggal tenang
ketika ada hujan dan angin dari orang-orang tak percaya yang menyerang
rumah tersebut karena kita yakin bahwa kita membangun dasar rumah kita
dari batu yang kokoh -- firman Kristus.

Sebelum meletakkan dasar, sebaiknya kita mengetahui rumah macam apa
yang akan kita bangun. Karena itu, mari kita mulai dengan memikirkan
dasar ini.

A. Rumah Apologetika

Istilah "apologetika" sering kali disalahmengerti karena biasanya
dipakai saat kita bersalah kepada seseorang dan kita merasa perlu
mendatangi orang tersebut untuk meminta maaf. Namun dalam
pelajaran-pelajaran berikut, istilah ini akan dipakai secara terbatas
untuk pengertian khusus.

Kata "apologetika" berasal dari bahasa Yunani "apologia". Kata ini
sering dipakai dalam literatur non-Kristen dan Kristen (Perjanjian
Baru). Contohnya, "The Apology of Socrates" adalah sebuah catatan
pembelaan Socrates yang disajikannya dalam sidang di Athena. Justin
Martyr, dalam "Apology"nya, berusaha memberikan pembelaan untuk
saudara-saudara seimannya dari tuduhan orang-orang tidak percaya.
Pada waktu Paulus berdiri di hadapan banyak orang di Yerusalem, ia
berkata, "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah apa yang
hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." (Kis. 22:1).
Berapologetika, dalam hal ini berarti memberikan pembelaan; jadi
"apologetika" adalah studi yang mempelajari bagaimana mengembangkan
dan menggunakan pembelaan itu secara langsung.

Apologetika memang merupakan suatu bidang yang mendapatkan perhatian
secara khusus dari berbagai agama dan filsafat. Tetapi dalam
pelajaran-pelajaran ini, perhatian kita hanya akan ditujukan pada
pembelaan kebenaran kristiani yang telah diwahyukan kepada manusia
melalui firman Tuhan dalam Alkitab. Apologetika semacam ini disebut
"apologetika Kristen", yakni pembelaan filsafat hidup Kristen terhadap
berbagai bentuk filsafat hidup non-Kristen (Cornelius Van Til,
Apologetics). Karena itu, kita tidak akan mempelajari apologetika
secara umum, namun hanya apologetika yang berkaitan dengan
kekristenan. Sesuai dengan analogi yang telah diberikan di atas, rumah
yang akan kita bangun dalam pelajaran-pelajaran berikut ini adalah
rumah apologetika Kristen.

B. Pengertian Apologetika Alkitabiah

Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai fondasi kokoh yang harus
mendasari setiap area kehidupan kita, fondasi kokoh itu adalah firman
Allah. Firman Allah adalah satu-satunya fondasi yang dapat memberikan
kekuatan yang kita butuhkan untuk tetap berdiri teguh di tengah badai
dosa yang dahsyat dan menghancurkan. Alkitab Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru adalah firman Allah. Merupakan pengakuan umum semua
orang Kristen bahwa Alkitab adalah:

"Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
(2 Tim. 3:16, 17)

Alkitab adalah penuntun berotoritas yang mutlak bagi setiap orang
percaya; tanpa Alkitab, kita hanya akan menerka-nerka pikiran Allah,
tetapi dengan Alkitab, semua petunjuk dan pimpinan Allah dalam setiap
aspek kehidupan menjadi pasti dan jelas. Seperti pemazmur katakan:

"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Maz.
119:105)

Tidaklah cukup kalau hanya menyebutkan Alkitab sebagai fondasi untuk
berapologetika karena orang percaya yang tidak terlatih pun tahu bahwa
otoritas Alkitab merupakan hal yang terpenting dalam kebutuhan
pembelaan iman. Serangan terbesar dalam iman Kristen ditujukan kepada
Alkitab itu sendiri. Alkitab sering kali dituduh mengandung banyak
kesalahan dan hanya memunyai sedikit otoritas yang tidak berbeda
dengan tulisan literatur lainnya. Karena kita harus sering membela
keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, hubungan apologetika
dengan Alkitab kadang-kadang disalahmengerti. Sebagai firman Tuhan,
Alkitab adalah fondasi di mana kita membangun pembelaan kita dan juga
merupakan salah satu kepercayaan yang harus kita pertahankan. Dua
peran Alkitab ini yang kadang kita lupakan.

Ada orang-orang Kristen yang memiliki pandangan yang keliru mengenai
karakter Alkitab sebagai fondasi dan cenderung membangun pembelaan
mereka hanya di atas dasar hikmat dan kemampuan berpikir manusia.
Firman Tuhan ditempatkan sebagai atap dari bangunan yang didukung
oleh apologetika mereka. Kesulitan untuk mendukung firman Tuhan
dengan bangunan yang didasarkan pada hikmat manusia sebagai otoritas
yang tertinggi, sering kali menjadi terlampau berat.
Pembangun-pembangun rumah semacam itu mungkin akan menutup mata dan
mengatakan hal yang sebaliknya atau menyangkalinya, tetapi kehancuran
rumah tidak dapat dihindarkan, bagaikan rumah yang dibangun di atas
pasir.

Sebagai pengikut Kristus, kita harus selalu ingat untuk membangun
pembelaan iman Kristen kita di atas fondasi yang kuat, yaitu Alkitab.
Dengan demikian, tidak akan ada beban yang terlampau berat untuk
ditunjang dan tidak akan ada angin yang terlalu kencang untuk ditahan.
Apologetika harus membela Alkitab dengan ketaatan secara mutlak kepada
prinsip-prinsip pembelaan dan petunjuk yang diwahyukan oleh Alkitab
sendiri.

Peranan Alkitab sebagai penuntun dalam berapologetika dapat terlihat
dengan jelas dalam 1 Pet. 3:15:

"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap
sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada
tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang
pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut
dan hormat.

Pada konteks sebelumnya, Petrus menulis tentang penderitaan yang harus
dihadapi orang-orang Kristen pada masa itu. Petrus tahu bahwa dalam
masa penderitaan, serangan-serangan dari dunia yang berdosa sering
kali dapat membuat kita lupa bahwa kita sedang melayani Kristus dan
harus tetap percaya dan taat pada-Nya. Petrus berharap para pembaca
suratnya akan memberikan tanggapan yang tepat atas
pertanyaan-pertanyaan yang para penganiaya mereka mungkin akan
lontarkan. Karena itu, Petrus memberikan petunjuk untuk mempersiapkan
diri menghadapi penderitaan itu dengan memohon supaya mereka memunyai
sikap yang tepat terhadap Kristus.

Kita harus memerhatikan dengan saksama bagaimana Petrus menyusun
petunjuk dalam ayat-ayat berikut ini. Pertama, Petrus berkata,
"Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" dan kemudian ia
menambahkan, "siap sedialah pada segala waktu untuk memberi
pertanggungan jawab ...." Sebelum pembelaan atau jawaban diberikan,
Kristus harus dikuduskan terlebih dulu sebagai Tuhan yang memerintah
dan mengatur setiap segi kehidupan kita.

Perhatikanlah bahwa kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam
hati kita. Ini tidak berarti hanya emosi saja yang harus didasarkan
pada Kristus, sementara pikiran kita bebas melakukan apa yang
dikehendakinya. Tidak juga berarti bahwa ke-Tuhanan Kristus harus
tinggal hanya dalam hati kita yang terdalam dan tidak pernah
memengaruhi jawaban-jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan dari
dunia. Firman Tuhan mengajarkan bahwa hati adalah pusat personalitas
kita, yang darinya "terpancar kehidupan" (Ams. 4:23). Hati tidak hanya
memerintah emosi, tetapi juga pikiran dan setiap aspek kehidupan
lainnya. Lebih dari itu, menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati
kita berarti ke-Tuhanan-Nya juga akan efektif dalam semua yang kita
ekspresikan, termasuk pembelaan iman kita. Karena itu, menurut Petrus,
penaklukkan terhadap otoritas Kristus merupakan hal yang sangat
penting dalam melakukan pembelaan yang benar dan tepat. Sebagai Tuhan,
Kristus akan memimpin pada saat kita melakukan pembelaan iman.
Pimpinan ini datang melalui firman-Nya, dan tanpa pimpinan-Nya, segala
sesuatu akan menjadi sia-sia.

Dalam pelajaran berikut, kita akan memerhatikan bagaimana membangun
pembelaan untuk iman Kristen yang didasarkan pada batu karang yang
teguh, yaitu Alkitab. Ada beragam buku yang mengajarkan bagaimana
membela kebenaran iman Kristen. Keanekaragaman ini sering kali
membingungkan orang Kristen. Namun di tengah kebingungan ini, ada satu
hal yang tetap jelas bagi kita, yaitu jangan mengadopsi cara
berapologetika hanya karena orang-orang terkenal menggunakannya, atau
karena ternyata banyak yang berhasil, atau karena memberikan kekuatan
kepada iman percaya kita. Jika kita rindu membangun pembelaan yang
akan selalu tegak berdiri dan tidak pernah goyah dan jatuh, kita harus
membangunnya di atas dasar firman Allah.

C. Kepentingan Apologetika

Mempelajari apologetika dan mengembangkan kemampuan berapologetika
secara benar adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Dari yang
tertua sampai yang termuda, terkaya sampai yang termiskin, terpandai
sampai yang sederhana, setiap orang yang telah percaya pada
keselamatan dalam Yesus Kristus bertanggung jawab untuk mempelajari
apologetika. Namun sering kali, maksud baik orang Kristen melaksanakan
tanggung jawab ini gagal secara serius.

Salah satu alasan yang biasa dikemukakan untuk mengabaikan apologetika
terletak pada kesalahmengertian dari apa yang Tuhan Yesus katakan
dalam Mat. 10:19: "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu
kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena
semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga."

Kesalahmengertian yang serius berkenaan dengan ayat ini, khususnya
jika kita membaca terjemahan dari King James: "... give no thought how
or what ye shall speak ...." ("... tidak perlu dipikirkan bagaimana
atau apa yang harus kita katakan ...."). Ayat tersebut sering kali
ditafsirkan bahwa kita harus bersandar mutlak pada pimpinan Roh Kudus
saat membela iman kita. Karena itu, kita tidak perlu mempersiapkan
diri dengan mempelajari cara berapologetika.

Lebih jauh dikatakan bahwa orang yang mempelajari apologetika malah
menunjukkan bahwa ia kurang beriman dan hatinya tidak sungguh-sungguh
berserah pada Allah. Penafsiran seperti ini tidak dapat
dipertanggungjawabkan sebab tidak memertimbangkan pengamatan secara
menyeluruh terhadap konteks dari ayat tersebut dan juga firman Tuhan
secara keseluruhan.

Perlu diperhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan "jangan pikirkan
tentang apa yang akan kamu katakan" seperti yang sering dimengerti
oleh pembaca terjemahan King James. Ayat ini sebenarnya berkenaan
dengan peringatan Tuhan Yesus supaya orang-orang percaya jangan cemas
dan kuatir. Pada ayat-ayat sebelumnya (Mat. 10:19), Tuhan Yesus
mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan diserahkan ke hadapan para
gubernur dan raja. Kenyataan bahwa mereka akan berhadapan dengan
orang-orang penting seperti itu tentu merupakan pengalaman yang sangat
menggentarkan. Karena itu, Tuhan Yesus mendorong dan memberi semangat
kepada para murid-Nya untuk tidak cemas dan takut. Segala ketakutan
harus lenyap sebab mereka tidak akan sendiri. Tuhan Yesus mengatakan
bahwa Roh Kudus dari Allah akan memberikan kepada kita kekuatan dan
hikmat saat kita membutuhkannya. Seperti apa yang rasul Paulus
katakan: "Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang
membantu aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku
...." (2 Tim. 4:16, 17)

Sangatlah penting untuk dimengerti bahwa jaminan akan diberikannya
kekuatan dari Roh Kudus tidak boleh dipakai untuk mengganti ketekunan
dan kesetiaan dalam mempelajari dan mempersiapkan diri untuk
berapologetika. Contoh lain, meski kita dianjurkan untuk tidak kuatir
akan makanan dan pakaian (lihat Mat. 6:25, dst.), kita tetap diminta
berjerih payah bekerja untuk mendapatkannya. Demikian juga halnya
dengan berapologetika, kita harus memenuhi tanggung jawab kita untuk
mempersiapkan diri.

Petrus menulis bahwa kita harus "selalu bersiap sedia (sudah
mempersiapkan diri) untuk memberikan jawaban" (1 Pet. 3:15). Karena
itu, mereka yang mengabaikan hal ini berarti tidak taat secara mutlak
kepada ke-Tuhanan Kristus dan tidak bergantung pada Roh Kudus, sebab
ketaatan dan penyerahan yang sungguh-sungguh akan dinyatakan dengan
mempelajari apologetika secara serius.

Alasan lain yang sering dipakai untuk mengabaikan apologetika adalah
alasan bahwa pembelaan iman merupakan pekerjaan mereka yang terlatih
(seperti pendeta atau sarjana teologi), bukan tugas orang Kristen
awam. Dosen teologi dan pendeta diharapkan dapat memberikan jawaban
secara sistematis, sebab apologetika bersifat terlalu filosofis,
abstrak, dan tidak praktis bagi kaum awam. Oleh karena itu,
banyak orang Kristen yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah
mengabarkan Injil. Dan kalau ada pertanyaan mengenai kredibilitas iman
Kristen, mereka akan membawa orang itu kepada pendeta, yang dianggap
sebagai "tenaga ahli".

Memang benar bahwa dosen teologi dan pendeta memunyai tanggung jawab
yang lebih berat dalam berapologetika daripada kebanyakan kaum awam,
namun ini tidak berarti berapologetika adalah tanggung jawab pendeta
dan dosen saja. Setiap orang percaya bertanggung jawab untuk dapat
berapologetika. Ayat yang telah kita pelajari mengatakan bahwa tidak
ada pengecualian bagi orang Kristen dalam berapologetika (1 Pet.
3:15). Setiap orang harus siap untuk menderita bagi Kristus dan
memberikan jawaban serta pembelaan atas pengharapan mereka di dalam
Kristus.

Lebih dari itu, Paulus secara jelas menyatakan bahwa setiap orang
percaya harus menjadi pembela iman. Sebagai rasul, Paulus secara
khusus "dipilih untuk menjadi pembela Injil" (Flp. 1:16). Tetapi
Paulus mengerti bahwa pekerjaan berapologetika bukan hanya tanggung
jawabnya sendiri. Karena itu, ia berkata pada orang-orang Filipi:

"Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua,
sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut
mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik
pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan
meneguhkan Berita Injil." (Flp. 1:7)

Paulus dipenjara karena berkhotbah mengenai Injil, tetapi orang-orang
Kristen di Filipi tidak meninggalkannya. Mereka mengirimkan
pemberian-pemberian yang disampaikan oleh wakil gereja mereka.
Malahan, mereka sangat terlibat dengan pelayanan Paulus sehingga
mereka juga "mengalami hal yang sama" (Flp. 1:30) seperti Paulus.
Salah satu yang mereka alami dijelaskan sebagai "pembelaan dan
pengukuhan dari Injil" (Flp. 1:7). Orang-orang Filipi dihargai dan
dipuji karena mereka membela iman Kristen dengan serius. Demikian pula
setiap orang yang membela iman Kristennya akan dihargai dan dipuji
oleh Allah.

Kepentingan apologetika dapat dilihat dari berbagai segi lain.
Kemampuan untuk memertahankan kepercayaan kita akan membuat
penginjilan lebih efektif. Kita tidak perlu takut mengemukakan masalah
kekristenan di antara kawan-kawan dan tetangga kita bila kita mampu
memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Kita tidak perlu
takut menghadapi orang tidak percaya dari kalangan intelektual bila
kita mampu memertahankan iman kepercayaan kita. Semangat penginjilan
akan bertambah dengan memelajari apologetika. Lebih dari itu, keraguan
orang yang mendengar Injil sering kali menjadi sirna setelah mendengar
jawaban yang benar atas pertanyaan dari keraguan mereka.

Selain itu, apologetika alkitabiah dapat menguatkan iman orang-orang
percaya. Banyak orang Kristen yang terkena wabah keragu-raguan.
Keraguan ini sering menjadi penyebab orang percaya kehilangan
kemampuannya melayani Kristus. Apologetika memampukan orang percaya
mengatasi berbagai macam pencobaan, seperti jatuh dalam
ketidaksetiaan yang mungkin akan dialami. Kemampuan ini juga akan
memungkinkan mereka kreatif dalam pelayanan.

Bagi orang Kristen yang belum pernah mengalami keraguan, mempelajari
apologetika secara sungguh-sungguh akan membuatnya semakin bertambah
yakin dan bersemangat untuk lebih taat menjadi anak Tuhan. Apologetika
adalah subjek yang sangat penting, yang seharusnya menjadi perhatian
semua orang percaya.

Dalam pelajaran yang berikut, kita akan membangun satu bata demi satu
bata dari rumah apologetika yang sangat penting ini. Rumah ini akan
dibangun secara kokoh atas dasar firman Tuhan. Satu pengharapan kami
adalah orang percaya akan diperlengkapi untuk lebih baik lagi melayani
Tuhan dan untuk membangun kerajaan-Nya dengan ketaatan pada-Nya. Serta
secara efektif dapat memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang.

-Akhir Pelajaran (AUA I-P01)--

Doa

Ya, Tuhan, Engkaulah dasar iman dan pengharapan kami. Ajarkan kepada
kami untuk memiliki sikap yang siap sedia memertanggungjawabkan
iman kami kepada mereka yang memintanya. Tapi terlebih dahulu,
berikan kami kekuatan untuk menguduskan Engkau dalam hati kami
sebagai Tuhan dan Juru Selamat supaya hidup kami sungguh
mememuliakan Engkau. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 02

Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Pelajaran: AUA I-P02

Pelajaran 02 - PERMULAAN DARI SEGALANYA



Daftar Isi

  1. Allah dan Ciptaan-Nya

    1. Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa
      Pun)
    2. Ciptaan Bergantung pada Allah
    3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
      1. Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya
      2. Melalui Penyataan Khusus Allah
  2. Ketergantungan Manusia kepada Allah
    1. Ketergantungan Pengetahuan Manusia
    2. Ketergantungan Moralitas Manusia

Doa


PERMULAAN DARI SEGALANYA

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kej. 1:1)

Dalam pelajaran kedua ini, kita akan mengembangkan prinsip-prinsip dan
penerapan pembelaan iman Kristen berdasarkan kebenaran Alkitab sebagai
firman Tuhan. Sesuai dengan keyakinan ini, ada beberapa hal yang harus
dibahas. Pertama, kita akan memulainya dengan mempelajari konsep
penciptaan secara alkitabiah.

  1. Allah dan Ciptaan-Nya

    Alkitab menempatkan kebenaran bahwa Allah adalah Pencipta segala
    sesuatu sebagai kalimat pembukaannya. Hal ini menyatakan betapa
    pentingnya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh
    karena itu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa seluruh Alkitab
    berisi penjelasan mengenai kebenaran yang satu ini, yakni Allah
    sebagai Pencipta dan Tuhan.

    Taman Eden merupakan penyataan (wahyu) dari keharmonisan Allah dengan
    ciptaan-Nya. Dosa merupakan pemberontakan ciptaan melawan
    Penciptanya. Keselamatan merupakan pembebasan dari dosa dan hak
    ciptaan untuk dapat berdiri di hadapan Allah. Rasul Yohanes berbicara
    mengenai sifat yang hakiki dari aktivitas penciptaan Allah sebagai
    berikut: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada
    suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." (Yoh. 1:3)

    Jika kita mengamati Kej. 1:1, kita dapat melihat bahwa aktivitas
    penciptaan terdiri dari dua bagian. Di satu pihak, kita melihat
    Seseorang yang menciptakan. Di pihak lain, kita melihat ciptaan yang
    Ia ciptakan. Akibatnya, kita dapat melihat garis pemisah atau pembeda
    antara Allah sebagai Pencipta dengan ciptaan-Nya. Kita akan menyebut
    hal ini sebagai "perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan". Ini
    merupakan konsep yang akan diselidiki lebih jauh dan merupakan
    referensi yang akan selalu kita lihat kembali.

    Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya ini tidak boleh kita lupakan
    atau kesampingkan barang sedetik pun dalam usaha mengembangkan
    apologetika alkitabiah.

    1. Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa Pun)

      Orang-orang Kristen pada zaman ini kadang masih berpikir bahwa Allah
      hanyalah gambaran dari seorang kakek tua yang duduk di atas awan
      sambil memerhatikan semua peristiwa menyedihkan yang terjadi di dunia
      ini tanpa mampu berbuat apa-apa. Karena itu, Allah sering dilihat
      sebagai Allah yang tidak berguna dan tidak penting bagi dunia ini,
      kecuali jika manusia sendiri yang memiliki kerinduan dan kebutuhan
      pribadi yang ingin dipenuhi oleh Allah.

      Dalam pikiran kebanyakan orang, Allah tidak ada hubungannya dengan
      proses yang terjadi di dunia. Mereka mengatakan bahwa "Allah
      dibutuhkan hanya jika ada malapetaka atau masalah pribadi yang berat".
      Lebih dari itu, Allah sendiri sering dimengerti sebagai Allah yang
      bergantung pada ciptaan-Nya. Dia merindukan sesuatu terjadi di tengah
      dunia ini, namun yang Ia dapatkan adalah sebaliknya, yang tidak Ia
      duga, karena kepandaian tingkah manusia. Pikiran-pikiran demikian,
      yang jauh dari gambaran firman Tuhan, juga tumbuh di gereja.

      Allah bukanlah Allah yang tidak dapat berdiri sendiri atau seperti
      "ayah yang hanya bisa duduk manis"; padahal Ia adalah Pencipta yang
      Mahakuasa serta terus-menerus terlibat dan bertanggung jawab atas
      ciptaan-Nya. Roma 11:36 berbicara mengenai hal ini:

      "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada
      Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

      Pengamatan yang lebih teliti pada bagian firman Tuhan ini akan
      menyatakan kedalaman dari pengetahuan tentang Allah. Pertama, Paulus
      berkata bahwa semua ciptaan adalah "dari Dia". Ayat ini berarti Allah
      menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan semua ciptaan tidak
      terjadi dengan sendirinya. Kedua, Paulus mengatakan ciptaan diciptakan
      "bagi Dia". Ini berarti ciptaan diciptakan untuk kemuliaan Allah dan
      untuk menyenangkan Allah, bukan untuk manusia atau ciptaan lain.

      Penciptaan adalah "melalui Dia". Di sini, Paulus tidak berbicara
      mengenai awal atau akhir dari hubungan Allah dengan ciptaan-Nya. Ia
      berbicara mengenai Allah sebagai Pencipta yang memelihara dan
      menunjang keberadaan ciptaan-Nya setiap saat sampai akhir. Ciptaan
      dapat terus melangsungkan keberadaannya oleh karena Allah.

      Inti dari kebenaran ini adalah: Sebagaimana Allah berkuasa menciptakan
      dari permulaan, Dia juga berkuasa memungkinkan atau mendukung ciptaan
      ini untuk terus ada sampai sekarang. Demikian juga Allah tidak
      diciptakan oleh ciptaan-Nya, Dia sekarang pun tidak didukung oleh
      ciptaan-Nya dalam hal apa pun juga.

      "dan (Allah) juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah
      Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan
      nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kis. 17:25)

      Sangat jelas dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun yang
      harus atau dapat dipenuhi oleh ciptaan-Nya, karena pada kenyataannya
      yang terjadi adalah sebaliknya, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
      ciptaan dipenuhi oleh Allah. Allah adalah Allah yang tidak bergantung
      atas apa pun atau siapa pun.

    2. Ciptaan Bergantung pada Allah

      Jika kita mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak bergantung
      pada apa pun (siapa pun), di lain pihak kita harus menegaskan
      ketergantungan ciptaan pada Allah sebagai Pencipta. Kita tahu bahwa
      ketergantungan anak pada orang tua akan semakin berkurang saat mereka
      tumbuh menjadi dewasa. Bahkan bayi yang baru lahir pun, pada waktu
      yang singkat masih dapat hidup tanpa orang tuanya. Tetapi tidak
      demikian halnya dengan ketergantungan ciptaan kepada Allah. Ciptaan
      tidak dapat memisahkan keberadaannya dari Allah atau tidak dapat
      berdiri sendiri sedetik pun tanpa kuasa pemeliharaan Allah. Demikian
      kata firman Tuhan:

      "Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada
      semua orang." (Kis. 17:25)

      "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada
      di dalam Dia." (Kol. 1:17)

      Allah mengatur, memenuhi kebutuhan, dan memelihara segala sesuatu
      tanpa terkecuali. Dari yang terbesar sampai yang terkecil, setiap
      aspek dari ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah untuk
      kelangsungan keberadaannya.

      Kita harus setuju dengan John Calvin, bahwa kepercayaan pada Allah
      sebagai Pencipta harus disertai dengan kepercayaan bahwa Allah adalah
      Pengontrol sejarah. Dunia tidak dapat berlangsung dengan kekuatannya
      sendiri. Segala keberadaan adalah dari Allah dan melalui Allah. Karena
      itu, kita harus berpikir bahwa ciptaan secara keseluruhan bergantung
      kepada Allah.

      Kita dapat melihat dalam pelajaran yang berikutnya bahwa kesadaran
      akan perbedaan antara Allah yang berdiri sendiri dengan ciptaan yang
      bergantung pada Penciptanya merupakan hal yang membedakan antara
      orang-orang Kristen dengan non-Kristen. Orang Kristen berusaha melihat
      segala sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang bergantung pada sang
      Pencipta, sedangkan orang non-Kristen mencoba untuk menyangkal
      ketergantungannya dari sang Pencipta.

      Penyangkalan yang sangat keras atas perbedaan Pencipta dan ciptaan
      dari orang-orang tidak percaya akan dapat dilihat dari
      ketidakpercayaan mereka pada keselamatan dalam Kristus. Mereka
      menempatkan Allah dan ciptaan-Nya saling bergantung dan mengatakan
      bahwa ciptaan bergantung pada Allah hanya dalam taraf tertentu saja.
      Orang tidak percaya mengemukakannya dengan berbagai cara, tetapi pada
      intinya adalah sama -- penyangkalan akan perbedaan antara Pencipta dan
      ciptaan.

    3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia

      Sebagai orang Kristen, kita harus menekankan perbedaan antara Allah
      (Pencipta) dan ciptaan-Nya. Kita juga tidak boleh melupakan bahwa
      Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya kepada
      manusia. Walaupun Allah telah mengadopsi berbagai cara untuk
      menyatakan diri-Nya pada waktu yang berbeda, kita akan memerhatikan
      dua cara yang Allah pilih untuk menyatakan diri-Nya sepanjang waktu.

      1. Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya

        Secara luar biasa, Allah telah membangun seluruh jaga raya ini
        sehingga setiap bagiannya menyatakan diri-Nya kepada manusia. Setiap
        elemen dari dunia, tanpa kecuali, menyatakan Allah dan kehendak-Nya
        kepada manusia.

        "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan
        pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan
        malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam." (Maz. 19:1-2)

        Ciptaan dengan segala keindahan dan kemegahannya menyatakan kemegahan
        dan kualitas Allah dan tuntutan kebenaran yang Ia minta dari
        manusia. Sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam Roma 1:20, 32:

        "Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang
        kekal dan Keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya
        sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih ....
        Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah,
        yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut
        dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka
        juga setuju dengan mereka yang melakukannya."

        Meskipun manusia, yang telah jatuh dalam dosa, menyangkalinya dan
        orang-orang Kristen sering kali menemukan kesulitan untuk melihatnya,
        Alkitab mengajarkan secara jelas bahwa Allah telah menyatakan
        diri-Nya dalam setiap aspek ciptaan dan semua manusia, bahkan rupa
        manusia sendiri menyatakan semua itu.

        Penyataan Allah ini tidak dapat dihindari atau disangkali. Kita tidak
        dapat mengetahui satu aspek dari ciptaan tanpa memikirkan
        Penciptanya. "Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa
        melihat kemuliaan-Nya." (Maz. 97:6)

        Contohnya, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa sapi makan rumput.
        Pengertian yang benar akan sapi dan rumput akan menyatakan kuasa
        pemeliharaan Allah serta tanggung jawab manusia untuk menaklukkan
        ciptaan yang lain bagi kemuliaan Allah (lihat Kej. 1:28). Jarak
        terdekat antara bumi dan salah satu bintang akan dapat dimengerti
        hanya dengan kesadaran terhadap penyataan Allah. Begitu besarnya jarak
        tahun cahaya semata-mata merupakan pekerjaan tangan Allah dan
        memerlihatkan kepada manusia akan kebutuhan mereka untuk merendahkan
        diri di hadapan Allah dan bersyukur atas anugerah-Nya (lihat Maz.
        8:1-5).

        Sebagaimana ciptaan tidak dapat terpisah dari Allah, ciptaan tidak
        dapat berdiam diri mengenai keberadaan Allah. Semakin seseorang
        mengerti tentang fakta-fakta dari jagat raya ini, semakin kita
        menyadari bahwa semua itu menyatakan Allah dan kehendak-Nya.

      2. Melalui Penyataan Khusus Allah

        Dalam banyak hal, Allah selalu membarengi penyataan-Nya akan ciptaan
        dengan penyataan-Nya secara khusus mengenai diri-Nya. Di taman Eden,
        Allah berbicara dengan suara-Nya kepada Adam mengenai pohon
        pengetahuan yang baik dan jahat. Kepada para patriakh (Abraham, Musa,
        dll.), Allah menyatakan diri-Nya melalui mimpi-mimpi dan
        penglihatan-penglihatan. Kepada Musa, Allah berbicara di semak duri
        yang menyala dan di atas kitab batu. Kepada para rasul, Ia berbicara
        melalui kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus, Putra-Nya. Pada masa
        kini, Allah berbicara melalui Alkitab sebagai firman Tuhan yang telah
        diinspirasikan oleh Roh Kudus.

        Penggunaan beberapa aspek tertentu dari ciptaan untuk menyatakan
        wahyu dimaksudkan untuk menambahkan kualitas pewahyuan dari ciptaan
        yang lain. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, ketaatan manusia diuji
        dengan wahyu khusus. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa,
        penyataan secara khusus memunyai dua maksud, yakni untuk
        memerlihatkan jalan keselamatan melalui Kristus dan untuk menolong
        manusia mengerti lebih baik tentang penyataan akan Allah dan
        kehendak-Nya dalam aspek-aspek ciptaan lain.

        Dosa telah menempatkan manusia di bawah penghakiman dan membutakan
        kesadaran manusia terhadap penyataan Allah melalui semua ciptaan.
        Akibatnya, firman Allah berfungsi sebagai alat di mana melaluinya
        manusia mengerti akan dirinya sendiri, dunia, dan Allah.

        "Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk
        mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
        dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
        manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
        (2 Tim. 3:16, 17)

        Penyataan (wahyu) Allah melalui firman Tuhan diberikan kepada kita
        untuk memimpin kita kepada pengetahuan yang benar. Penyataan Allah
        melalui semua ciptaan dan firman Tuhan tidak menghapuskan kepastian
        perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Sebagaimana kita ketahui, semua
        bentuk penyataan Allah pada manusia justru menunjukkan perbedaan atau
        pemisahan yang harus diakui oleh manusia.

  2. Ketergantungan Manusia kepada Allah

    Pemazmur mengingat kedudukan kita sebagai manusia dengan perkataan
    ini:

    "Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah: Dialah vang menjadikan kita dan
    punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." (Maz.
    100:3)

    Manusia tidak lebih dan tidak kurang dalam hal ketergantungannya pada
    Allah dibandingkan ciptaan Allah yang lain; keduanya
    adalah ciptaan Allah yang perlu Ia dukung. Manusia
    merupakan mahkota dari aktivitas penciptaan Allah, tetapi ia tetap
    merupakan makhluk ciptaan dan akan kembali kepada debu nantinya (Kej.
    2:7).

    "Di dalam Dia kita hidup dan bergerak." (Kis. 17:28). Karena itu, bila
    terpisah dari Allah, kita bukanlah apa-apa. Segala sesuatu yang
    dimiliki manusia merupakan pemberian Allah. Layaknya ciptaan lain,
    bila Allah lepas tangan atas kita, kita akan berhenti dari keberadaan
    kita karena kita ada semata-mata hanya karena kehendak-Nya.

    Ketergantungan manusia secara mutlak pada Allah memunyai banyak
    implikasi, namun ada dua aspek dari kebutuhan kita akan Allah yang
    secara khusus penting untuk pekerjaan apologetika selanjutnya.

    1. Ketergantungan Pengetahuan Manusia

      Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan memengaruhi pandangan iman
      Kristen akan kemampuan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri, dunia
      di sekelilingnya, dan Allah. Dalam pelajaran berikut ini, kita akan
      memerhatikan diri kita sendiri dalam hal pengetahuan, khususnya
      setelah dicemari oleh dosa.

      Jika manusia secara mutlak bergantung pada Allah, maka demikian juga
      dalam hal pengetahuan. Pengetahuan Allah akan diri-Nya dan ciptaan
      adalah berdiri sendiri, namun pengetahuan manusia tidak. Pemazmur
      mengatakan:

      "Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat
      terang." (Maz. 36:10)

      Lepas dari pengetahuan Allah melalui penyataan-Nya dalam ciptaan dan
      firman Tuhan, kita tidak akan pernah mengerti pengetahuan apa pun.
      Allah mengetahui segala sesuatu, karena itu kita bergantung pada
      pengetahuan-Nya untuk dapat mengetahui sesuatu. Setiap pengertian yang
      benar yang telah manusia dapatkan, baik secara sadar atau tidak sadar,
      semua itu didapatkan dari Allah. Hal ini berlaku bagi manusia pertama
      dan semua orang sampai sekarang. Tuhan Yesus sendiri mengakuinya:

      "Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh.
      14:6)

      Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan mengatakan:

      "sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan
      pengetahuan." (Kol. 2:3)

      Segala sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai kebenaran, termasuk
      kebenaran yang tidak secara langsung berkenaan dengan agama atau
      kerohanian, bersumber dari Allah. Manusia hanya dapat mengetahuinya
      apabila manusia datang kepada penyataan Allah akan diri-Nya sebagai
      sumber kebenaran. Oleh karena Allahlah yang mengajarkan kepada
      manusia akan segala pengetahuan (Maz. 94:10).

      Kita akan melihat kemudian bahwa ketergantungan manusia pada Allah
      dalam ruang lingkup pengetahuan tidaklah berarti bahwa manusia tidak
      memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengasah pikirannya. Juga tidak
      berarti bahwa manusia diprogram oleh Allah seperti halnya sebuah
      komputer dalam memproses pengumpulan data sehingga komputer mengetahui
      sesuatu. Manusia memang memunyai kemampuan untuk dapat berpikir, namun
      pengetahuan yang benar bergantung pada pengetahuan dari Allah yang
      telah dinyatakan pada manusia.

    2. Ketergantungan Moralitas Manusia

      Sebagaimana halnya manusia harus bergantung pada Allah untuk
      pengetahuan secara umum, demikian juga halnya dengan petunjuk dalam
      moralitas. Pada saat nilai-nilai dan tujuan-tujuan tradisi
      dipertanyakan, kita dipaksa untuk memikirkan bagaimana manusia dapat
      membedakan antara yang benar dan yang salah, atau yang baik dan yang
      jahat.

      Salah satu cara untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan
      kita harus sekali lagi kembali pada pengakuan akan perbedaan antara
      Pencipta dengan ciptaan. Sebagai Pencipta, sejak semula Allah adalah
      Pemberi hukum yang berdiri di atas hukum-Nya dan yang mengharapkan
      ketaatan dari makhluk ciptaan-Nya.

      Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik," Ia menyatakan diri-Nya
      sebagai satu-satunya Hakim yang benar yang dapat membedakan antara
      yang baik dan yang jahat. Dia juga mengaplikasikan hak itu bagi diri-
      Nya sendiri sampai sekarang. Kepada Adam dan Hawa, Ia berkata, "tetapi
      pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah
      kaumakan buahnya ...." (Kej. 2:17). Kepada Musa, Ia menyatakan, "Aku
      adalah Tuhan Allahmu ... dan jangan ada allah lain di hadapan-Ku."
      (Kel. 20:2, 3). Mengenai Yesus, Allah mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang
      Kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia." (Mat. 17:5)

      Tidak akan pernah ada sidang pengadilan yang dapat menghakimi Allah;
      karena Ia adalah Hakim yang tertinggi. Oleh karena itu, penyataan-Nya
      mengenai moralitas berlaku bagi semua orang, dan apabila kita ingin
      mengetahui mengenai hal yang baik dan yang jahat, kita harus ingat
      akan ketergantungan kita pada Allah.

-Akhir Pelajaran (AUA I-P02)--

Doa

Ya, Tuhan, beri kami ketetapan hati untuk mengakui Engkau sebagai
Pencipta langit dan bumi, yang terus-menerus terlibat dan
bertanggung jawab atas ciptaan-Mu. Bimbinglah kami untuk selalu
menyadari akan kedaulatan-Mu supaya kami memiliki hati yang
bijaksana. Biarlah hidup kami boleh berpusat pada Engkau, melalui
Engkau, dan bagi Engkau. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 03

Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa
Kode Pelajaran: AUA I-P03

Pelajaran 03 - KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA



Daftar Isi

  1. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah
  2. Tanpa Dosa dan Fana
  3. Logika, Allah, dan Manusia

Doa


KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA

"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka." (Kej. 1:27)

Pengertian apologetika alkitabiah terletak pada pandangan yang tepat
akan kebenaran mengenai karakter manusia. "Kenalilah dirimu sendiri"
merupakan semboyan yang sangat populer di kalangan para pemikir sejak
awal permulaan sejarah filsafat. Pengetahuan tentang diri sendiri akan
melengkapi manusia untuk dapat melaksanakan berbagai macam tugas di
dunia ini dengan lebih baik.

Alkitab melihat sejarah dunia dan manusia dalam tiga tahap --
penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Manusia diciptakan, lalu jatuh
dalam kutuk dosa, kemudian ditebus dengan kematian dan kebangkitan
Yesus Kristus. Sejajar dengan tiga macam perspektif ini, kita akan
mengamati karakteristik manusia dalam tiga kategori. Dalam pelajaran
ketiga ini, kita akan mengamati manusia sebelum kejatuhan. Dan dalam
dua pelajaran berikutnya, kita akan mempelajari manusia yang telah
jatuh dalam dosa dan manusia yang telah ditebus.

  1. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah

    Penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah merupakan
    karakteristik penting yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain
    (Kej. 1:27). Fakta ini memunyai banyak sekali implikasi yang dapat
    kita pelajari. Kita harus membatasi diri kita sendiri dalam hal ini
    dengan hanya mempelajari sebagian dari makna manusia diciptakan
    menurut gambar dan rupa Allah.

    Dari luar, manusia seperti Allah dalam hal kemampuan dan
    karakteristiknya secara fisik. Dari dalam, manusia dapat berpikir dan
    mengembangkan pemikirannya di mana dalam hal ini hanya manusia yang
    dapat melakukannya. Keunikan lain yang dimiliki manusia sebagai
    makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah jiwa yang
    bersifat kekal (Kej. 2:7). Lebih dari itu, manusia sebagaimana
    Penciptanya, telah dijadikan penguasa atas bumi ini. Sebagai wakil
    Allah, ia menggali dan mengolah kekayaan ciptaan Allah untuk digunakan
    sebagai pelayanan bagi Allah (Kej. 1:27-31).

    Karakteristik ini berlaku dalam batas-batas tertentu bagi semua
    manusia dalam dunia ini. Karena sebelum jatuh dalam dosa, manusia
    diciptakan menurut gambar dan rupa Allah secara khusus. Dan manusia
    yang diciptakan Allah ini adalah sempurna.

    "... Allah telah menjadikan manusia yang jujur." (Pengkh. 7:29)

    Sebelum kejatuhannya dalam dosa, manusia merupakan gambar dan rupa
    Allah yang tanpa dosa. Di taman Eden, Adam dan Hawa hidup secara
    harmonis dengan Allah. Mereka berjalan di hadapan Allah tanpa malu.
    Paulus menjelaskan tahap ini sebagai:

    "... pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kol. 3:10)

    Di bagian lain, Paulus mengatakan bahwa apabila seseorang
    diperbaharui menurut karakter Adam yang semula, maka ia telah:

    "... diciptakan ... di dalam kebenaran dan kekudusan yang
    sesungguhnya." (Ef. 4:24)

    Dari bagian firman Tuhan ini, ada dua kualitas penting dari manusia
    sebelum jatuh dalam dosa yang dapat kita lihat. Pertama, dia memunyai
    "pengetahuan yang benar" (Kol. 3:10). Dengan kata lain, Adam dan Hawa
    tidak pernah melupakan perbedaan Pencipta dan ciptaan dalam hubungan
    dengan pengetahuan mereka. Mereka bergantung pada penyataan Allah akan
    diri-Nya sendiri sebagai sumber dari kebenaran mereka, dan mereka
    menyamakan semua pemikiran mereka dengan standar dari kebenaran yang
    Allah nyatakan. Oleh karena itu, Adam dapat diberi tugas yang sukar,
    yakni untuk memelihara taman dan menamai setiap binatang di bumi. Dia
    secara sadar tahu akan kebutuhannya untuk mendengarkan Allah dalam
    setiap keadaan apabila ia menghendaki pengetahuan yang benar. Sebelum
    kejatuhan dalam dosa, pengetahuan manusia akan kebenaran dibarengi
    dengan karakter moralitasnya, di mana Adam memiliki "pengetahuan yang
    benar dan suci". Adam mengerti bahwa karena sifat dari Pencipta-Nya,
    maka ia harus mempelajari apa yang sepatutnya dan yang tidak
    sepatutnya dari Allah.

    Oleh karena bersandar pada pengetahuan Allah, Adam dan Hawa taat
    secara sempurna pada semua perintah Allah dan hidup secara damai
    dengan-Nya sebelum jatuh dalam dosa. Sebelum jatuh dalam dosa, dalam
    segala keadaan, manusia mengetahui kebenaran dan hidup sesuai dengan
    kebenaran itu.

  2. Tanpa Dosa dan Fana

    Meskipun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang
    sempurna sebelum kejatuhan, namun manusia adalah manusia yang fana dan
    terbatas. Allah adalah Allah yang Mahaada (1 Raj. 8:27; Yes. 66:1),
    namun manusia terbatas oleh fisiknya dalam keberadaan yang terbatas.
    Allah adalah Allah yang Mahakuasa (Maz. 115:3); tidak ada yang dapat
    mengatasi atau melampaui kuasa-Nya. Oleh karena itu, sehebat-hebatnya
    teknologi mutakhir yang telah dicapai untuk menunjukkan kehebatan
    manusia, tetap tidak dapat menandingi kemahakuasaan Allah. Di hadapan
    Allah, manusia tetap jauh lebih lemah dan terbatas.

    Demikian juga halnya dengan keterbatasan pengetahuan manusia
    dibandingkan dengan pengetahuan Allah yang lengkap dan sempurna (Ay.
    37:15; Maz. 139:12; Ams. 15:3; Yer. 23:23-24). Sebagaimana penulis
    surat Ibrani mengatakan:

    "Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya,
    sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia dan
    kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibr. 4:13)

    Bahkan Adam akan setuju dengan Yesaya yang mengatakan:

    "Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku
    dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yes. 55:9)

    Tentu saja dibandingkan dengan pengetahuan Allah, pikiran manusia
    "hanyalah seumpama napas" (Maz. 94:11). Demikianlah manusia terbatas
    dalam pengertiannya oleh apa yang Allah nyatakan dan harus puas dengan
    pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak sempurna.

    "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-
    hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai
    selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat
    ini." (Ul. 29:29)

    Pengertian mengenai keterbatasan pengetahuan manusia membawa kita
    kepada hal yang penting dalam diskusi yang berikutnya. Walaupun Adam
    tidak mengetahui segala sesuatu, dia tetap memiliki pengetahuan yang
    benar (Kol. 3:10). Pengertian manusia akan segala sesuatu yang ia
    ketahui dibatasi oleh perspektifnya akan waktu dan
    perubahan-perubahan yang terjadi dalam hal-hal yang ia ketahui.
    Keterbatasan-keterbatasan ini merupakan bagian dari sifat penciptaan
    manusia.

    Namun, kita harus ingat bahwa sebelum jatuh dalam dosa, pengetahuan
    Adam miliki berasal dari Allah dalam ketergantungannya pada penyataan
    Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu Adam ketahui, diketahuinya
    dengan benar sebab ia datang pada sumber kebenaran untuk memerolehnya,
    yaitu Allah. Sangat nyata bahwa keterbatasan manusia tidak membuat ia
    tidak mampu untuk mengetahui kebenaran. Sepanjang pengetahuan yang
    manusia dapatkan itu berasal dari Allah, pengetahuan itu pasti benar.

    Oleh karena keterbatasannya, Adam harus menghadapi misteri dalam
    kehidupannya, "hal-hal yang tersembunyi" (Ul. 29:29) yang ia tidak
    dapat ketahui. Dari fakta ini, kita dapat melihat bahwa manusia yang
    sempurna pun tidak mampu untuk menyusun atau menyimpulkan setiap aspek
    dari pengetahuan yang didapatnya ke dalam suatu gambaran lengkap yang
    baik dan sempurna; selalu ada titik buntu dalam pemikirannya, yaitu
    paradoks-paradoks dan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan
    oleh akal pikiran manusia. Namun sebagaimana besarnya misteri ini,
    pengetahuan manusia dalam tahap ini tetap dapat diperhitungkan serta
    dipertanggungjawabkan kepastian dan kebenarannya.

    Kepastian dan keyakinan Adam terletak pada penyataan Allah, tidak pada
    kemampuannya untuk mengetahui yang terpisah dari pengetahuan Allah.
    Pengetahuan Allah yang sempurna dalam segala sesuatu mengabsahkan
    pengetahuan manusia yang terbatas sepanjang manusia bergantung pada
    Allah. Mari kita lihat contoh dari suatu misteri yang kita hadapi atau
    temui pada zaman ini.

    Inkarnasi dari Juru Selamat kita, Tuhan Yesus Kristus, merupakan suatu
    hal yang penuh dengan misteri. Kita mengakui bahwa Ia adalah 100%
    Allah dan juga 100% manusia. Kita dapat mengerti kesejatian dari
    ke-Tuhanan-Nya dan kesejatian dari kemanusiaan-Nya sampai pada taraf
    tertentu, namun jika kita mencoba untuk menyelidiki lebih lanjut
    implikasi dari pengajaran ini, kita akan terbentur pada batas
    kemampuan kita dalam memahami hal tersebut. Misalnya, dapatkah kita
    menjelaskan bagaimana Yesus "bertambah dalam hikmat-Nya" (Luk. 2:52)
    apabila Ia adalah Allah yang Mahatahu? Apakah kita dapat menjelaskan
    bagaimana Yesus yang adalah Allah dapat mati di atas kayu salib? Kita
    dapat berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaan ini, namun orang yang
    jujur segera akan menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini, juga
    pertanyaan-pertanyaan lain yang semacamnya, adalah di luar batas
    kemampuan manusia untuk mengerti.

    Meski kita tidak dapat menyelami semua konsep ini, namun kita dapat
    yakin bahwa Yesus adalah 100% Allah dan juga 100% manusia, dan bahwa
    Ia bertambah dalam hikmat dan kemudian Ia mati. Keyakinan ini bukan
    bergantung pada ketidakmampuan kita untuk mengerti secara tuntas,
    melainkan karena kita percaya pada penyataan Allah.

    Semakin kita mengerti akan kebenaran kristiani, kita akan menemukan
    bahwa di akhir setiap pengajaran dari firman Tuhan, terlihat fakta
    ketidakmampuan manusia untuk menyelami secara tuntas konsep-konsep
    dalam hubungannya dengan konsep-konsep kebenaran yang lain. Ada banyak
    hal-hal yang kelihatannya berlawanan satu dengan yang lain dalam
    kebenaran kristiani, namun hal ini seharusnya tidak boleh menyebabkan
    kita meragukan pengajaran Alkitab. Ada dua alasan mengapa kita tidak
    boleh meragukan pengajaran Alkitab.

    Pertama, hal itu seharusnya membuat kita sadar akan keterbatasan diri
    kita. Manusia harus menyadari keberadaan mereka sebagai makhluk
    ciptaan dan bersama Paulus menyatakan kalimat berikut ini:

    "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!
    Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak
    terselami jalan-jalan-Nya!" (Rom. 11:33)

    Kedua, Alkitab tidak seharusnya diragukan pada saat kita tidak dapat
    mencocokkan kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lain. Penyataan
    Alkitab merupakan pemikiran Allah di mana bagi-Nya tidak ada satu hal
    pun yang bersifat misteri. Allah dapat menuntaskan konsep-konsep yang
    paling sukar, yang tidak dapat dituntaskan oleh pikiran manusia. Tidak
    ada satu hal pun yang merupakan misteri bagi Allah; Ia mengetahui
    segala sesuatu dengan sempurna. Namun, misteri merupakan keterbatasan
    dari makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Sepanjang kita bergantung
    kepada-Nya dalam pengetahuan kita, misteri yang paling besar pun tidak
    akan menghalangi kita dari kebenaran.

  3. Logika, Allah, dan Manusia

    Suatu hal yang terus-menerus timbul dalam suatu diskusi dan yang
    memengaruhi apologetika alkitabiah adalah peranan logika dalam
    hubungan antara Allah dan manusia. Dalam pelajaran ini, kita akan
    membatasi pada sebagian kecil dari pertanyaan-pertanyaan yang ada.

    Adam diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan
    pikirannya, hal ini mencerminkan hikmat Allah dan juga yang
    membedakannya dengan binatang (2 Pet. 2:12, Yud. 10). Kita telah
    mempelajari bahwa di taman Eden, Adam telah menggunakan akal budinya
    dalam ketergantungan-Nya pada Allah. Dia membangun pola berpikir yang
    sesuai dengan petunjuk Allah. Adam pasti menggunakan logika meskipun
    dalam bentuk yang sederhana, dan ia menggunakannya dalam ketaatannya
    pada Allah. Ia tidak pernah mengabaikan ketergantungannya pada Allah
    dengan berpikir bahwa logikanya mampu memberikan penjelasan dan
    pengetahuan secara terpisah dari Allah. Akibatnya, dalam menggunakan
    kemampuannya, Adam menggunakan akal budi yang selalu tunduk pada
    keterbatasan dan pimpinan penyataan Allah. Allah selalu dilihat
    sebagai dasar dari kebenaran dan sumber dari kebenaran, karena
    keadaan Adam pada saat itu adalah sebagai manusia yang diciptakan
    menurut gambar Allah dan tanpa dosa.

    Dari peran akal budi yang berdasarkan logika, yang dimiliki manusia
    sebelum dosa masuk ke dalam dunia, maka ada beberapa pengamatan yang
    dapat kita lakukan. Pertama, menggunakan akal budi dan mengembangkan
    pikiran itu bukanlah sesuatu yang salah dan jahat. Kekristenan telah
    mendapat berbagai macam serangan dari mereka yang mengklaim bahwa
    segala sesuatu harus "masuk akal" dan "ilmiah".

    Beberapa orang Kristen berpikir bahwa perlindungan satu-satunya adalah
    dengan cara menolak ilmu pengetahuan dan pemakaian akal budi serta
    menganggap kedua hal itu sebagai sesuatu yang jahat dan saling
    bertentangan. Penggunaan akal budi bukan merupakan sesuatu yang jahat
    sebab di dalam taman Eden, Adam juga menggunakan akal budi dan
    mengembangkan pikirannya. Adamlah yang menamai binatang-binatang dan
    yang memelihara taman. Ia tidak menghilangkan logikanya dalam
    melaksanakan kehidupannya sehari-hari.

    Yang perlu diperhatikan adalah bila manusia memakai akal budi dan
    mengembangkan pikirannya secara berdiri sendiri atau terlepas dari
    Allah, hal ini akan memimpinnya kepada ketidakbenaran dan kesalahan.
    Tetapi apabila kedua hal itu dipergunakan dalam ketergantungan pada
    penyataan Allah, kebenaran akan ditemukan. Menggunakan akal budi dan
    mengembangkan pikiran itu sendiri tidaklah berlawanan dengan iman atau
    kebenaran.

    Kedua, logika tidaklah berada di atas fakta perbedaan antara Pencipta
    dengan ciptaan. Saat kita berbicara tentang manusia dalam menggunakan
    akal budinya, kita harus ingat bahwa logika hanya merupakan refleksi
    dari hikmat dan pengetahuan Allah. Meskipun dalam firman Tuhan, Allah
    merendahkan diri dan menyatakan diri-Nya dengan istilah yang sesuai
    dengan daya pikir, logika manusia, namun itu tidak berarti logika
    manusia berada di atas atau sejajar dengan Allah dan juga tidak
    merupakan bagian dari keberadaan Allah.

    Logika dalam bentuk-bentuk yang paling kompleks dan tajam tetap
    berada dalam ruang lingkup ciptaan dan kualitasnya sesuai dengan
    kualitas manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan
    dengan kualitas yang sama seperti Allah.

    Oleh karena logika merupakan bagian dari ciptaan, maka logika memiliki
    keterbatasan. Pertama terlihat dari logika sebagai sistem yang selalu
    dalam proses berubah dan berkembang. Bahkan, ada beberapa sistem
    logika yang dalam titik tertentu, berlawanan satu sama lain. Tidak ada
    definisi dari "kontradiksi" yang diakui secara universal. Meskipun
    semua manusia dapat saja sepakat dalam satu sistem untuk mengembangkan
    suatu pemikiran, logika manusia tidak dapat dipergunakan sebagai hakim
    untuk menentukan kebenaran dan ketidakbenaran.

    Kekristenan, pada hal-hal tertentu, dapat dikatakan masuk akal dan
    logis, namun logika menemui batas kemampuan pada saat diperhadapkan
    dengan hal-hal seperti inkarnasi dari Kristus dan doktrin Tritunggal.
    Logika bukanlah Allah dan tidak boleh diberikan penghormatan.
    Penghormatan hanya boleh diberikan kepada Allah saja. Kebenaran hanya
    ditemukan pada penghakiman Allah, bukan pada pengadilan logika.

    Oleh karena itu, kita harus berhati-hati untuk menghindari dua sisi
    ekstrim yang biasanya diambil dalam hubungannya dengan penggunaan akal
    budi dan logika. Di satu pihak, ada manusia yang menolak menggunakan
    akal budi dan setuju pada iman yang buta. Di lain pihak, ada manusia
    yang memberikan logika sejumlah ruang untuk berdiri sendiri dan
    terlepas dari Allah. Kedua posisi tersebut tidak sesuai dengan
    karakter manusia sebelum kejatuhan. Manusia diciptakan sebagai makhluk
    yang dapat berpikir dan mengembangkan pikirannya, namun ia diharapkan
    menyadari keterbatasan pikirannya dan ketergantungan logikanya pada
    Penciptanya.

    Karakter manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia merupakan dasar
    dari tugas berapologetika. Meskipun pada saat ini tidak ada seorang
    pun di dunia yang sama sekali lepas dari dosa, namun ada kualitas
    manusia sebelum kejatuhan yang terbawa sampai hari ini. Pada saat kita
    membela iman Kristen, kita berhubungan dengan laki-laki dan perempuan
    keturunan Adam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memunyai
    pengertian yang kuat akan keadaan manusia sebelum kejatuhan.

-------------------Akhir Pelajaran (AUA I-P03)----

Doa

Ya, Tuhan, meskipun kami telah diciptakan menurut gambar dan rupa-Mu
yang sempurna, namun kami hanya manusia yang fana dan terbatas
secara fisik maupun keberadaan. Sedangkan Engkau adalah Allah Yang
Mahakuasa; tidak ada yang dapat mengatasi atau melampaui kuasa-Mu.
Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Mu sebab
segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Mu. Oleh sebab
itu, kepada-Mu sajalah kami harus memberikan pertanggungjawaban.
Amin.

(Catatan: pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 04

Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia yang Berdosa
Kode Pelajaran: AUA I-P04

Pelajaran 04 - KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA



Daftar Isi

  1. Kejatuhan Umat Manusia
  2. Akibat Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa
  3. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

Doa


KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA

"Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh
Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak
dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara
rohani." (1 Kor. 2:14)

Pada pelajaran sebelumnya, kita telah mendiskusikan karakter manusia
sebelum jatuh dalam dosa. Namun, pengertian kita akan manusia tidaklah
lengkap apabila kita tidak mempelajari sebab akibat dari kejatuhan
manusia. "Pengetahuan tentang diri kita sendiri, yang pertama adalah
berdasarkan pada apa yang telah diberikan pada waktu penciptaan ...,
kedua, kita perlu mengingat akan keadaan kita yang menyedihkan dan
tidak menyenangkan setelah kejatuhan Adam."

Karakter manusia telah berubah di bawah kutuk dosa. Manusia bukan
merupakan gambar Allah yang sempurna lagi; manusia tidak lagi hidup
dan berpikir sebagaimana halnya Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam
dosa. Dalam pelajaran berikut, kita akan melihat lebih jelas lagi
bagaimana dosa sangat memengaruhi manusia dan sebagai akibatnya
manusia telah menyangkali ketergantungannya secara mutlak pada Allah.

  1. Kejatuhan Umat Manusia

    Allah telah membuat laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya dan
    telah menempatkan mereka di taman Eden. Saat Adam dan Hawa menyadari
    akan keberadaan mereka sebagai makhluk ciptaan Allah, mereka dengan
    senang hati mendedikasikan diri mereka untuk melayani Allah. Waktu pun
    berlalu dan kesetiaan manusia kepada Allah diuji. Allah telah
    menempatkan pohon pengetahuan baik dan jahat di tengah-tengah taman,
    dan berkata:

    "tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
    janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya
    pastilah engkau mati." (Kej. 2:17)

    Dalam hal ini, banyak yang perlu dipertaruhkan manusia dari hanya
    sekadar menahan diri untuk tidak makan buah tersebut. "Pada mulanya
    Adam berhasil menghindari pohon pengetahuan baik dan jahat serta
    membuktikan bahwa ia dengan sukarela berada di bawah perintah Allah."
    Allah telah berkata dan mewahyukan kehendak-Nya tentang pohon yang
    terlarang itu. Adam dan Hawa ditempatkan pada posisi untuk menguji
    kesadaran mereka apakah mengakui atau menyangkali otoritas Allah dan
    ketergantungan mereka akan Dia.

    Pasal ketiga dari kitab Kejadian berpusat pada kejatuhan manusia.
    Ular, yang disebut Alkitab si Iblis (Kej. 3:15; Rom. 16:20),
    menghampiri Hawa dan mencobainya untuk mengabaikan perintah Allah.
    Dengan menghadapkan Hawa pada pilihan yang paling penting dalam
    hidupnya, Iblis berkata:

    "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa
    pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan
    menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
    (Kej. 3:4-5)

    Perkataan Iblis jelas bertolak belakang dengan penyataan (wahyu)
    Allah. Hawa dihadapkan pada pilihan, siapakah yang dapat dipercaya?
    Allah mengatakan "kamu akan mati" dan ular berkata "kamu tidak akan
    mati". Perempuan itu harus percaya pada salah satu dari dua pernyataan
    yang berlawanan itu. Kemudian ular yang licik itu tidak puas hanya
    dengan mengatakan bahwa Allah membuat kesalahan. Ia bahkan membujuk
    Hawa untuk percaya bahwa bila ia memakan buah itu, perbedaan antara
    Pencipta dan ciptaan akan hilang. "Kamu akan menjadi seperti Allah,"
    (Kej. 3:5) kata Iblis dengan penuh kesombongan.

    Hawa tertipu oleh tipuan ular yang licik. Kita dapat mengatakan bahwa
    tindakan Hawa ini merupakan tindakan yang sangat bodoh, namun rupanya
    pencobaan untuk menjadi seperti Allah terlalu besar untuk dihindari.
    Setelah semua penghormatan Hawa kepada Penciptanya digoncangkan, Hawa
    memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada Allah untuk mengetahui
    pengetahuan yang benar, demikian juga untuk petunjuk yang berkenaan
    dengan moralitas.

    Ular mempertanyakan keabsahan dan kemampuan Allah dalam hal-hal ini,
    dan Hawa telah termakan oleh saran-sarannya. Sebelumnya, Hawa menerima
    wahyu Allah dan mengakui ketergantungannya secara mutlak pada Allah.
    Namun, sekarang ia memutuskan bahwa ketergantungannya pada Allah
    merupakan suatu pilihan. Pembacaan yang teliti dari Kej. 3:6
    memerlihatkan inti dari kesalahan Hawa.

    "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan
    sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi
    pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan
    diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan
    suaminya pun memakannya."

    Hawa tidak secara langsung menolak firman Allah dan menerima perkataan
    dari si ular. Melainkan, ia mengamati sendiri pohon itu dan kemudian
    memutuskan karakter dari pohon itu berdasarkan pengertiannya sendiri.
    Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Mengapa mendengarkan orang lain?
    Aku akan membuat hukum bagi diriku sendiri; Aku akan memutuskan
    sendiri!" Dengan melakukannya, Hawa menolak perbedaan antara Pencipta
    dan ciptaan. Dia menyamaratakan wahyu Allah yang berdiri sendiri
    dengan perkataan si ular dan menempatkan dirinya di atas mereka berdua
    sebagai hakim.

    Hawa lalu memberikan buah itu kepada Adam. Adam memakannya dan sejak
    itu umat manusia jatuh di bawah kuasa dosa. Ini merupakan inti dari
    dosa; manusia memberontak melawan ketergantungannya pada Allah dan
    manusia berasumsi bahwa dia mampu untuk berdiri sendiri tanpa Allah.

    Sangat penting untuk diingat bahwa perbedaan Pencipta dan ciptaan
    tetap berlangsung meskipun manusia memilih untuk tidak mengakuinya.
    Adam dan Hawa tidak menjadi berkurang dalam ketergantungannya pada
    Allah setelah kejatuhan dibanding dengan keberadaan mereka sebelum
    jatuh dalam dosa. Mereka hanya menolak untuk mengakui ketergantungan
    mereka. Seorang anak balita dapat menipu dirinya sendiri untuk
    berpikir bahwa ia tidak memerlukan orang tuanya, namun penyangkalannya
    ini tidak membedakan kenyataan bahwa ia tergantung pada orang tuanya.

    Sama halnya dengan Adam dan Hawa yang berpikir mereka berdiri sendiri
    terlepas dari Allah, kenyataannya mereka tetap membutuhkan Allah dalam
    segala sesuatu, bahkan untuk kemampuan menolak Allah. Persyaratan
    Allah bagi Adam dan Hawa adalah supaya mereka mengakui ketergantungan
    mereka dan hidup sesuai dengan kebenaran ini. Mereka telah gagal untuk
    memenuhi tuntutan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Mereka berpikir
    dirinya cukup bijak, mereka telah menjadi bodoh, sebab firman Allah
    ternyata benar; dan mereka mati.

  2. Akibat Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa

    Kejatuhan manusia ke dalam dosa di taman Eden bukan kejadian masa lalu
    yang terpisah dari masa kini, dalam arti hanya memunyai akibat yang
    sedikit bagi manusia yang hidup pada masa kini; peristiwa kejatuhan
    telah membuat semua manusia berada di bawah belenggu dosa.

    "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu
    orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah
    menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat
    dosa." (Rom. 5:12)

    Sejak lahir, semua manusia telah dicemarkan oleh dosa (Maz. 51:5; Ef.
    2:3). Sebagaimana Adam dan Hawa yang telah menolak perbedaan antara
    Pencipta dan ciptaan, semua manusia telah menyangkal wahyu Allah, baik
    melalui semua ciptaan maupun melalui wahyu khusus (firman Tuhan).

    Paulus menjelaskan penolakan manusia akan wahyu melalui penciptaan
    dalam Rom. 1:18-32. Paulus mengatakan bahwa meskipun ciptaan dengan
    jelas menyatakan karakter Allah dan kehendak-Nya, namun manusia yang
    tidak percaya telah menindas "kebenaran dengan kelaliman" (ay. 18).
    Mereka menolak untuk mengakui Allah yang telah mewahyukan diri-Nya
    melalui ciptaan sebab "pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka
    yang bodoh menjadi gelap" (ay. 21). "Mereka berbuat seolah-olah mereka
    penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh" (ay. 22), sebab
    mereka memilih untuk menyembah "makhluk dengan melupakan Penciptanya
    yang harus dipuji selama-lamanya, amin" (ay. 25). Oleh karena "mereka
    tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka
    kepada pikiran-pikiran yang terkutuk ...." (ay. 28). Manusia yang
    telah jatuh dalam dosa, menolak untuk mengakui penyataan Allah dalam
    semua aspek.

    Orang-orang yang tidak percaya juga tidak memberikan tempat yang
    sewajarnya pada wahyu khusus Allah. Tuhan Yesus menggambarkan
    bagaimana Israel menolak ketergantungannya pada wahyu khusus Allah
    dalam perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (Mat.
    21:33-44). Penggarap-penggarap kebun anggur memeroleh mata pencaharian
    mereka dari kemurahan hati si empunya tanah, tetapi mereka menolak
    untuk menghormatinya. Akibatnya, si pemilik tanah mengutus
    utusan-utusan khusus kepada si petani. Bahkan, Ia telah mengutus
    Anak-Nya. Namun, si petani membencinya, bahkan membunuh Anak itu. Sama
    halnya dengan semua manusia yang seharusnya tunduk kepada wahyu khusus
    Allah melalui firman Tuhan, sebaliknya mereka telah menolaknya. Dosa
    telah mencengkeram manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak
    mampu lagi menundukkan dirinya kepada firman Allah.

    "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena
    ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin
    baginya." (Rom. 8:7)

    "ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai
    secara rohani." (1 Kor. 2:14)

    Manusia tidak menundukkan diri pada wahyu Allah. Manusia telah
    mengikuti teladan Adam dan Hawa yang mengira bahwa segala sesuatu
    harus diukur oleh "garis pengukur dari kebodohan kedagingan mereka".

    Kegagalan manusia untuk mengakui wahyu Allah dalam alam semesta dan
    untuk menerima firman Tuhan sebagai alat untuk mengenal Allah dan
    mengetahui kehendak-Nya, telah membuat manusia berada di posisi yang
    sulit. Yeremia menyerukan pada zamannya sebagai berikut:

    "Sesungguhnya, mereka telah menolak Firman Tuhan, maka
    kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?" (Yer. 8:9)

    Apa yang dapat kita lihat bila mata kita tertutup? Apa yang dapat
    memuaskan dahaga kita bila sumur kita kering? Tidak ada! Sama halnya
    dengan hikmat dan pengetahuan. Allah sendiri "mengajar manusia akan
    pengetahuan" (Maz. 97:4) melalui wahyu-Nya. Jika kita menolak firman-
    Nya, itu berarti kita menolak semua kebenaran, dan secara prinsipil,
    kita tidak mengetahui apa-apa selain ketidakbenaran.

    "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan." (Ams. 1:7)

    Karena penolakan mereka akan wahyu Allah, maka manusia:

    "hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah
    dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh
    dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di
    dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka." (Ef. 4:17-18)

    Atas dasar ini, dikatakan bahwa:

    "Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya
    semuanya sia-sia belaka." (1 Kor. 3:20)

  3. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

    Akibat dosa, orang-orang yang tidak percaya sangat jelas menolak
    kebenaran yang diwahyukan melalui firman Tuhan, dan secara
    sembarangan menyalahtafsirkan dunia sekelilingnya. Namun, tidak semua
    pemikiran dan pernyataan orang-orang itu dapat diartikan salah.
    Bagaimana mereka dapat berpikir dan mengekspresikan ide-ide yang
    benar? Orang-orang percaya dan tidak percaya sama-sama menyatakan
    bahwa dua tambah dua adalah empat. Ada beberapa peristiwa dalam
    Alkitab yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah jatuh ke dalam
    dosa dapat memiliki kebenaran (Mat. 23:1, dst.; Kis. 17:28).
    Bagaimana kita dapat mengerti hal-hal ini dalam hubungan penolakan
    manusia yang berdosa akan Allah sebagai sumber kebenaran?

    Pemecahan masalah ini terletak pada pengamatan yang lebih dekat atas
    kondisi manusia yang telah jatuh dan dua aspek dari pengetahuannya.
    Pertama, meskipun orang-orang tidak percaya menolak wahyu Allah
    mengenai diri-Nya, mereka tidak dapat secara terus-menerus menolak
    secara konsisten. Dasar dari ketidakkonsistenan dalam taraf tertentu
    adalah karena manusia berdosa tetap merupakan gambar Allah dan tetap
    memiliki banyak kemampuan yang telah dimilikinya sejak semula (Kej.
    9:6; Yak. 3:9). Oleh anugerah umum, Allah telah menahan akibat dosa
    dan pencemaran sehingga orang-orang non-Kristen tetap dapat berpikir
    dan bertindak atau bereaksi sesuai dengan keberadaan mereka sebagai
    gambar Allah, walaupun mereka tidak mengakui Allah sebagai Pencipta.

    "Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh
    dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat,
    maka walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi
    hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka
    menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati
    mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka
    saling menuduh atau saling membela." (Rom. 2:14, 15)

    Manusia yang telah jatuh dalam dosa, memulai pendapatnya tentang
    ketidaktergantungan dirinya pada Allah dan kemampuan untuk mengetahui
    kebenaran terpisah dari Allah. Apabila ia mengembangkan asumsi ini
    secara terus-menerus dengan konsisten, ia tidak akan menemukan
    pengetahuan yang benar sebab ketergantungan pada Allah adalah jalan
    satu-satunya untuk mendapatkan kebenaran. Karena itu, orang-orang yang
    tidak percaya tidak berhasil dan telah gagal.

    Sejalan dengan ketidaksinambungan usaha orang-orang yang tidak percaya
    untuk menahan dan menyangkali wahyu Allah, kita dapat mengerti
    kemampuan mereka untuk mengetahui kebenaran saat kita melihat karakter
    dari pemahaman mereka akan kebenaran. "Kapasitas manusia yang telah
    jatuh dalam dosa untuk mengerti ... merupakan sesuatu yang labil dan
    transisi dalam pandangan Allah ...." Orang-orang yang tidak percaya
    mampu untuk mengetahui kebenaran, hanya saja mereka gagal memberi
    kesinambungan dalam prinsip-prinsip berpikir mereka yang berdosa
    sehingga menyebabkan pengetahuan mereka hanya terlihat benar di
    permukaan saja.

    Berikut ini adalah analogi yang akan menolong kita untuk lebih
    mengerti. Perkataan Tuhan Yesus kepada orang Farisi sering kali
    menunjukkan perbedaan antara perilaku mereka secara luar dengan
    motivasi mereka dari dalam hati. Nilai dari tugas rohani yang sangat
    besar telah dicemari oleh motivasi mereka yang merasa diri paling
    benar dan sombong. Amsal mengatakan bahwa:

    "Korban orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi doa orang
    jujur dikenan-Nya." (Ams. 15:8)

    Orang-orang Farisi memiliki kerohanian yang hanya terlihat dari luar
    saja, namun kesucian mereka atau kerohanian mereka telah dicemari oleh
    apa yang ada di belakang tindakan yang terlihat dari luar.

    Perbedaan yang serupa dapat kita terapkan dalam area pengetahuan
    secara umum. Kita tidak boleh pernah merasa puas dengan penampilan
    yang kelihatannya merupakan pernyataan yang benar dari manusia yang
    berdosa. Kita harus berhati-hati dengan apa yang terletak di balik
    ide-ide yang ditunjukkan. Misalnya, Saksi Yehova dengan jujur dapat
    mengatakan, "Yesus adalah Tuhan." Kita semua akan setuju dengan
    pernyataan ini sebagai hal yang benar secara permukaan. Namun, Saksi
    Yehova menolak ke-Tuhanan Kristus dan berpendapat bahwa ke-Tuhanan
    Kristus merupakan keberadaan-Nya sebagai malaikat yang khusus. Oleh
    karena itu, kita harus memertimbangkan dan mengatakan bahwa pernyataan
    mereka tidak benar.

    Alasan kita untuk menyetujui dan menyangkali suatu pernyataan pada
    saat bersamaan disebabkan oleh perbedaan antara permukaan pernyataan
    dengan apa yang ada di balik pernyataan itu. Pemisahan ini dapat nyata
    karena apa yang dikatakan oleh seseorang berbeda dengan maksud di
    balik perkataannya tersebut.

    Salah satu cara untuk menyelidiki suatu pernyataan adalah dengan cara
    selalu menanyakan apa yang dimaksud dengan perkataan atau
    pemikirannya. Manusia yang telah jatuh dalam dosa dapat mengatakan
    bahwa dunia ini bulat, namun apa yang dimaksudkan "dunia" oleh mereka?
    Apakah merupakan hasil ciptaan Allah yang dinyatakan oleh firman Tuhan
    atau sebagai hasil dari proses evolusi yang berlangsung sangat lama?
    Mereka dapat mengatakan bahwa kejujuran adalah baik dan pembunuhan
    adalah jahat. Namun, apa yang mereka maksudkan dengan "baik dan
    jahat"? Apakah baik dan jahat itu didefinisikan oleh hukum Allah atau
    hukum yang lain? Sama halnya dengan pohon yang indah yang baru saja
    ditanam di tanah yang beracun, demikian juga orang tidak percaya yang
    menyangkali kebenaran dan tidak mau kembali kepada wahyu Allah yang
    tidak dapat disangkali. Tanda kemandirian mereka yang terpisah dari
    Allah, dapat terlihat benar dari permukaan. Kadang-kadang, kita harus
    melihat jauh ke dalam sebelum kita dapat menemukan pengertian yang
    salah.

    Akar dari setiap ide dan pernyataan yang dikemukakan oleh orang yang
    tidak percaya adalah berdasarkan asumsi bahwa "saya tidak bergantung
    pada Allah dan mengetahui hal ini dari diri saya sendiri terpisah
    dari Allah dan pertimbangan kehendak-Nya".

    Untuk menyimpulkan pandangan yang tepat dari pernyataan yang benar,
    yang dibuat oleh orang tidak percaya, dapat dikatakan bahwa mereka
    benar dan juga salah. Orang-orang yang tidak percaya mungkin dapat
    berpikir dan berbicara tentang kebenaran dalam pengertian bahwa
    pikiran mereka bisa berasal dari wahyu Allah yang tidak dapat
    dihindari dan dihasilkan dari anugerah umum Allah melalui kualitas
    manusia sebagai gambar Allah yang tidak dapat disangkali. Lebih dari
    itu, mereka benar dalam pengertian bahwa wahyu Allah memang sebenarnya
    mengiyakan pernyataan mereka dari permukaan. Diharapkan kebenaran yang
    mereka dapatkan secara permukaan ini dapat memimpin mereka kepada
    pengakuan akan Allah dan ketaatan kepada-Nya.

    Bersamaan dengan pernyataan bahwa orang tidak percaya itu benar, kita
    dapat juga mengatakan pernyataan orang-orang tidak percaya adalah
    tidak benar. Oleh karena pernyataan-pernyataan itu bukan merupakan
    hasil dari kerelaan untuk taat kepada wahyu Allah, melainkan sebagai
    hasil dari penyangkalan fakta perbedaan antara Pencipta dengan
    ciptaan.

    Pernyataan-pernyataan orang tidak percaya dinyatakan tidak benar oleh
    karena struktur pemikiran mereka memimpinnya kepada pengertian yang
    salah dan membawa mereka jauh dari penyembahan kepada Allah. Pada
    dasarnya, dapat dikatakan bahwa komitmen kepada kemandirian manusia
    terlepas dari Allah, membuat semua pernyataan orang tidak percaya
    salah.

    Pengertian akan kondisi manusia setelah kejatuhannya dalam dosa dan
    keberadaan orang-orang yang tetap dalam ketidakpercayaan merupakan
    hal yang sangat penting bagi apologetika kristen. Kesadaran akan
    ketidakadaan harapan dan keterbatasan pikiran orang-orang yang tidak
    percaya, memberi petunjuk dan keyakinan kepada orang-orang percaya
    dalam memertahankan imannya.

Akhir Pelajaran (AUA I-P04)---

Doa

Ya, Tuhan, kami menyadari bahwa karakter kami telah berubah di bawah
kutuk dosa. Kami bukan lagi gambar Allah yang sempurna. Hal ini
tercermin dari hidup dan cara pikir kami yang jauh dari suci. Dosa
sangat memengaruhi kami sehingga kami selalu menyangkali
ketergantungan kami secara mutlak pada Allah. Oleh sebab itu,
tolong kami untuk menyadari kebodohan ini. Hindarkan kami dari
pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap dan jauh dari hidup
persekutuan dengan Allah. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di lembar lain)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 05

Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus
Kode Pelajaran: AUA I-P05

Pelajaran 05 - KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS KRISTUS



Daftar Isi

  1. Kebalikan dari Kejatuhan
  2. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru
  3. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal

Doa


KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS KRISTUS

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Kor.
5:17)

Kalau bukan karena anugerah Allah, setiap orang akan tetap terkutuk
dalam dosa dan berada di bawah penghakiman murka Allah. Namun, Allah
dengan kemurahan-Nya yang besar telah mengutus Anak-Nya yang ilahi,
Yesus Kristus, untuk membayar hutang dosa dengan mati di atas kayu
salib serta memulai suatu periode kehidupan baru dalam kebangkitan-
Nya. Semua orang yang percaya kepada-Nya dilepaskan dari kutuk murka
Allah dan masuk ke dalam berkat Allah. Pengamatan kita akan manusia
tidaklah lengkap apabila kita belum memertimbangkan karakter manusia
yang telah ditebus oleh Allah dalam Kristus.

  1. Kebalikan dari Kejatuhan

    Kita dapat melihat bahwa aplikasi dari keselamatan dalam kehidupan
    seseorang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi sebagai akibat
    dari kejatuhan. Inti dari kejatuhan Hawa adalah kehendak untuk mandiri
    dan lepas dari Allah dengan cara menolak secara sukarela untuk
    menundukkan diri pada firman Tuhan. Hawa menolak fakta perbedaan
    antara Pencipta dengan ciptaan, dengan berpikir bahwa ia dapat
    mengetahui kebenaran melalui pikiran barunya sendiri yang terpisah
    dari Allah. Hal sebaliknya terjadi pada kehidupan seseorang yang
    percaya kepada Kristus. Dengan jelas, Paulus menyatakannya:

    "Oleh karena dunia oleh hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh
    hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya
    oleh kebodohan pemberitaan Injil." (1 Kor. 1:21)

    Penggunaan hikmat manusia sebagai standar kebenaran, seperti apa yang
    dilakukan oleh Hawa, akan membawa kita jauh dari Allah dan membawa
    kita kepada ketidakbenaran. Sebaliknya, salib adalah jalan keselamatan
    yang mengakibatkan kita berpaling dari kemandirian dan pikiran berdosa
    supaya kita mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai Allah. Hawa
    berpikir bahwa sebagai manusia, ia dapat berdiri sendiri dan melihat
    serta menempatkan dirinya sebagai hakim yang tertinggi. Namun, saat
    kita percaya dengan kesungguhan pada Kristus, kita akan menyadari
    bahwa ketergantungan kita pada firman Tuhan sebagai hikmat tidak ada
    bandingnya karena Dialah sumber kebenaran. Penerimaan firman Tuhan ini
    merupakan permulaan dari penebusan dalam Kristus.

    "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman
    Kristus." (Rom. 10:17)

    Kebalikan dari kejatuhan tidak berhenti pada tanda pertobatan,
    melainkan meliputi keseluruhan dari proses penebusan. Seseorang yang
    percaya akan berita Injil, bersama dengan Paulus, meyakini bahwa:

    "Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong."
    (Rom. 3:4)

    Berbeda dengan manusia berdosa yang cenderung meninggalkan pengetahuan
    yang benar dan menyatakan hal yang salah (sebagai akibat dari
    kemandirian yang terlepas dari Allah), orang-orang percaya memegang
    kepercayaan bahwa firman Allah selalu dapat dipercaya oleh karena
    Allah selalu benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesaya:

    "Aku, Tuhan, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang
    lurus." (Yes. 45:19)

    Firman Allah dapat dipercaya dan orang yang percaya pada Kristus
    mengakui kepercayaannya secara total pada firman Tuhan. Lepas dari
    apa yang terlihat, lepas dari nasihat-nasihat orang lain, dan lepas
    dari pencobaan oleh Iblis, orang percaya menegaskan bahwa:

    "Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang lain
    kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita." (1
    Sam. 2:2)

    Sikap terhadap firman Tuhan yang merupakan kebalikan dari apa yang
    terjadi pada waktu kejatuhan, diperjelas oleh perkataan Paulus kepada
    orang-orang Korintus:

    "Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu Ilahi. Karena aku
    telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu
    sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau
    pikiran kami disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada
    Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan
    kelicikannya." (2 Kor. 11:2-3)

    Pada ayat-ayat ini, Paulus memeringatkan orang-orang di Korintus untuk
    tidak berpaling dari khotbahnya mengenai firman Tuhan, mereka harus
    setia hanya kepada Kristus semata. Paulus memeringatkan mereka karena
    ia takut dan kuatir mereka akan jatuh dalam tipu muslihat yang sama
    yang telah digunakan oleh si ular saat mencobai Hawa. Paulus takut
    mereka akan berpaling dari "kesederhanaan dan ketulusan penyembahan
    kepada Kristus" (2 Kor. 11:3).

    Sebelum jatuh dalam dosa, Hawa hanya mendengarkan firman Allah dengan
    penyembahan yang hanya tertuju pada Allah. Saat jatuh, ia telah
    berpaling dari firman Allah. Sebagai orang Kristen, kita secara
    terus-menerus menerima firman Kristus dengan penyembahan yang tanpa
    berprasangka. Kita harus melakukan kebalikan dari apa yang Hawa
    lakukan saat ia berdosa. Ditebus oleh Kristus berarti mengalami
    kebalikan dari apa yang terjadi pada waktu kejatuhan.

  2. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru

    Saat kita berpikir tentang keselamatan dalam Kristus, biasanya kita
    hanya memikirkan tentang akibat dari percaya pada-Nya, yaitu menerima
    kehidupan yang kekal. Hal ini penting, namun untuk lebih tepatnya,
    saat ini kita perlu memfokuskan dengan lebih teliti pada kepentingan
    kebalikan dari kejatuhan dan akibatnya pada karakter manusia dalam hal
    pengetahuan dan moralitas.

    Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus persyaratan untuk memasuki
    kerajaan Allah dengan berkata:

    "Kamu harus dilahirkan kembali." (Yoh. 3:7)

    Kelahiran baru harus terjadi pada diri orang yang tidak percaya.
    Sebagaimana ia telah lahir di dalam Adam, demikian pula ia telah jatuh
    dalam belenggu dosa, sebagai suatu permulaan. Karena itu, ia harus
    mengalami kelahiran baru. Paulus menyatakan:

    "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
    lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Kor.
    5:17)

    Saat kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, kita tidak hanya
    dilahirkan baru secara pribadi; namun kita memasuki suatu ruang
    lingkup keberadaan yang baru (ciptaan yang baru). Oleh karena itu,
    seluruh kehidupan orang percaya adalah untuk mengalami perubahan yang
    berawal dari kelahiran baru.

    Paulus menggunakan istilah "ciptaan yang baru" dalam pengertian suatu
    perintah karena hal ini menunjuk pada hubungan penebusan dengan asal
    mula keadaan ciptaan sebelum kejatuhan. Saat dunia dan manusia
    diciptakan, mereka belum dicemari oleh dosa. Namun, sebagai akibat
    dari manusia yang memilih untuk berdiri sendiri terlepas dari Allah,
    maka seluruh ciptaan telah jatuh dalam kutuk dosa. Pekerjaan penebusan
    dari Kristus dapat dikatakan merupakan pembaharuan manusia untuk dapat
    kembali kepada posisi mereka yang semula, yaitu pada waktu pertama
    diciptakan oleh Allah.

    "... yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam
    kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Ef. 4:24)

    "dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui
    untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya."
    (Kol. 3:10)

    Orang-orang percaya dalam Kristus diperbaharui menurut sifat mereka
    yang semula sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa
    Allah. Mereka diberikan kebenaran, kesucian, dan pengetahuan yang
    benar, di mana semua itu hilang pada waktu kejatuhan dalam dosa.
    Perhatian khusus harus diberikan pada fakta bahwa pembaharuan melalui
    kelahiran baru tidak hanya meliputi sebagian dari manusia, melainkan
    meliputi keseluruhan karakternya, bahkan proses berpikirnya.

    "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu
    yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan
    dan menaklukkannya kepada Kristus." (2 Kor. 10:5)

    Orang-orang Kristen pada kenyataannya diperbaharui sampai pada tahap
    di mana setiap aspek pribadi mereka berada pada keberadaan asal
    sebelum kejatuhan dalam dosa. Kita tidak diselamatkan untuk sekadar
    berada dalam keadaan yang manis dan menyenangkan. Namun, kita
    diperbaharui sebagai ciptaan baru dan dikembalikan kepada asal mula
    keberadaan kita sebagai gambar Allah melalui kelahiran baru. Sebagai
    gambar Allah yang telah dipulihkan, manusia yang telah ditebus rindu
    untuk melakukan apa yang adil sesuai wahyu Allah bagi semua ciptaan
    dan firman Tuhan. Ia menyadari bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui
    bahwa hujan merupakan kondensasi dari air yang menguap. Ia akan
    bertanya apakah hujan dan bagaimana ia menyatakan karakter dan
    kehendak Allah. Apabila tidak ada dosa, hal ini tidak akan menjadi
    masalah. Manusia cukup hanya mengamati dunia dan mengenal Allah
    melaluinya. Namun, oleh karena dosa, "maka diperlukan Penolong yang
    lebih baik untuk memimpin kita pada Pencipta alam semesta ini secara
    langsung".

    Penolong yang lebih baik adalah firman Tuhan dan Roh Kudus. Orang
    Kristen berkewajiban mendedikasikan diri untuk menyelidiki firman
    Tuhan oleh karena Roh Kudus yang ada di dalam kita akan memimpin kita
    kepada pengetahuan akan keselamatan. Roh Kudus juga akan memimpin kita
    kepada kebenaran pengetahuan tentang ciptaan menurut apa yang
    diwahyukan oleh Allah dan kehendak-Nya atas manusia. Ini tidak berarti
    bahwa Alkitab menjadi suatu buku pedoman dari ilmu pengetahuan alam.
    Dengan kata lain, tidak betul bahwa orang Kristen tidak perlu lagi
    melihat pada dunia dan cukup hanya dengan membaca Alkitab untuk
    menemukan kebenaran ilmiah.

    Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip dasar secara umum di mana
    semua penyelidikan akan dunia ini harus berdasarkan atasnya. Misalnya,
    pengetahuan yang sejati mengenai hujan menyatakan kepada kita akan
    kemurahan Allah dan bagaimana Allah mengharapkan kita untuk
    memperlakukan musuh kita dengan kebaikan (Mat. 5:45), dan seterusnya.
    Tentu saja penyelidikan secara ilmiah dari sifat hujan akan secara
    intensif menjelaskan pengertian orang Kristen akan hal-hal ini. Namun,
    pengetahuan yang benar tentang hujan ditemukan berdasarkan
    penyelidikan yang didasarkan pada firman Tuhan dan dipimpin oleh
    firman Tuhan.

    Sebagai ciptaan yang telah diperbaharui, orang Kristen rindu untuk
    memertahankan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dalam hal
    pengetahuan dan moralitas sehingga orang Kristen dapat memberikan
    perlakuan yang tepat pada wahyu Allah.

  3. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal

    Kehidupan orang Kristen bukannya tanpa kesalahan. Meskipun ia telah
    diperbaharui kembali kepada kondisi asalnya seperti sebelum
    kejatuhan, pembaharuan ini tidaklah sempurna sampai kedatangan Tuhan
    Yesus yang kedua kalinya. Orang Kristen berkecimpung dalam peperangan
    yang dahsyat antara kebenaran dan dosa. Paulus menjelaskan konflik
    ini sebagai berikut:

    "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan
    keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya
    bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang
    kamu kehendaki." (Gal. 5:17)

    Roh Kudus yang tinggal di antara orang-orang percaya, berada dalam
    peperangan dengan pikiran kedagingan manusia. Sebagai akibatnya, ada
    dua prinsip yang bekerja dalam diri orang percaya, yang satu kepada
    ketaatan dan yang lain pada ketidaktaatan. Walaupun orang Kristen
    berusaha untuk bergantung pada Allah dengan memerhatikan wahyu-Nya
    untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan dan moralitas, namun ia
    mungkin kadang akan gagal dalam melaksanakan keinginannya secara
    terus-menerus. Pada waktu tertentu, orang Kristen dapat kembali
    kepada dosa yang terjadi pada waktu kejatuhan dengan memberontak atau
    mengabaikan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan.

    Penurunan ini dengan sendirinya memerlihatkan penolakan pengakuan atas
    wahyu Allah dalam semua aspek kehidupan, termasuk ketaatan akan firman
    Tuhan. Sebagaimana orang tidak percaya tidak dapat terlepas sepenuhnya
    dari kualitas penciptaan sebagai manusia yang diciptakan menurut
    gambar Allah, demikian pula orang Kristen tidak dapat terlepas
    sepenuhnya dari dosa yang masih tertinggal dalam hidupnya. Ia tidak
    selalu konsisten dengan prinsipnya akan ketergantungan secara total
    kepada Allah. Dan karenanya, ia tetap dapat melakukan kesalahan dalam
    pikiran dan tindakannya.

    Dengan alasan ini, maka orang Kristen secara berulang-ulang didorong
    untuk menghindari dan menolak dosa. Paulus berkata:

    "... bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah
    dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi
    di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti
    keinginannya." (Rom. 6:11-12)

    Dan dalam bentuk pernyataan yang positif, ia berkata:

    "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
    oleh pembaharuan budimu." (Rom. 12:2)

    Ketergantungan kita pada Allah untuk pengetahuan dan moralitas tidak
    datang secara otomatis dalam hidup orang Kristen. Hal ini harus
    disertai dengan usaha yang serius, di mana kita sungguh berusaha untuk
    mendapatkan "penyucian di mana tanpanya, tidak ada seorang pun akan
    dapat melihat Allah" (Ibr. 12:14). Ini merupakan tugas yang panjang
    dan sulit, namun kita harus terus-menerus berusaha apabila kita ingin
    mengenal Allah dan kehendak-Nya. Saat kita berpikir bahwa kemampuan
    orang Kristen untuk mengetahui kebenaran disebabkan oleh kelahiran
    baru dan berpaling dari kejatuhan, kita juga harus ingat bahwa dosa
    masih memengaruhi kehidupan orang Kristen.

    Karakter manusia yang telah ditebus oleh Kristus merupakan pengertian
    yang mendasar bagi apologetika alkitabiah. Pekerjaan Kristus di atas
    kayu salib dan dalam kebangkitan-Nya, telah memerbaharui pengetahuan
    yang sejati dan kebenaran bagi orang yang percaya kepada-Nya.
    Meskipun dosa masih ada, namun orang yang telah ditebus oleh Kristus
    dapat bergantung kepada Allah untuk pengetahuan dan moralitasnya.

-------------------Akhir Pelajaran (AUA I-P05)----

Doa

Ya, Tuhan, kami bersyukur karena Engkau terus-menerus memerbaharui
roh, jiwa, seluruh karakter, serta proses berpikir kami dari hari ke
hari. Engkau kembali memberikan kebenaran, kesucian, dan
pengetahuan-Mu itu kepada kami. Oleh sebab itu, biarlah kami,
sebagai orang percaya, terus terdorong untuk menghindari dan menolak
dosa sambil meyakini bahwa kami telah mati bagi dosa dan hidup bagi
Allah dalam Kristus Yesus. Tuhan, tolong kami agar dosa jangan
berkuasa lagi di dalam tubuh kami yang fana ini dan agar kami tidak
lagi menuruti keinginannya. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 06

Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Filsafat Non-Kristen dan Kristen
Kode Pelajaran: AUA I-P06

Pelajaran 06 - FILSAFAT NON-KRISTEN DAN KRISTEN



Daftar Isi

  1. Struktur Filsafat Non-Kristen dan Filsafat Kristen

    1. Struktur Filsafat Non-Kristen
    2. Struktur Filsafat Kristen
  2. Dilema Orang Non-Kristen dan Jawabannya
    1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
    2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
    3. Pemikiran Mengenai Manusia
  3. Mitos dari Netralitas

Doa


FILSAFAT NON-KRISTEN DAN KRISTEN

"Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan
filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan
roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus." (Kol. 2:8)

Dari pengamatan singkat akan karakter manusia, terlihat fakta adanya
dua macam kelompok manusia yang hidup di sekitar kita hari ini. Kedua
kelompok ini memegang pandangan yang berlawanan mengenai Allah, dunia,
dan diri mereka sendiri. Dua pandangan ini akan disebut filsafat
Kristen, yang berakar pada ketergantungan secara total pada Allah; dan
filsafat non-Kristen, yang berakar pada kemandirian, terlepas dari
Allah. Kedua pandangan ini memengaruhi setiap aspek kehidupan
orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dalam berapologetika, sangat
penting untuk mengetahui kedua filsafat ini dengan jelas.

  1. Struktur Filsafat Non-Kristen dan Filsafat Kristen

    1. Struktur Filsafat Non-Kristen

      Dalam Ef. 4:17-19, Paulus menjelaskan keberadaan orang non-Kristen
      untuk menyatakan bentuk filsafat yang mereka hasilkan. Mereka
      berjalan:

      "Sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan
      pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari
      hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam
      mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah
      tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan
      mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran."

      Orang non-Kristen menyangkali fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan
      dan memalingkan diri dari Allah supaya terlepas dari Allah. Akibatnya,
      mereka hidup dalam kesia-siaan. Semua usaha mereka adalah kegelapan
      dan kefanaan.

      Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan perkataan Paulus untuk
      mendapatkan pengertian yang tepat. Dalam pernyataan itu, Paulus tidak
      melawan filsafat secara umum; ia sendiri adalah seorang ahli filsafat.
      Yang ia lawan adalah filsafat yang mengadopsi kemandirian untuk lepas
      dari Allah, yang akan menghasilkan kehancuran dan kematian kekal.

      Mungkin kita berpikir bahwa Paulus terlalu berlebihan dalam
      mengomentari soal ini, namun perkataannya yang berikut ini justru
      membuktikan kesungguhannya:

      "Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan
      filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan
      roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus." (Kol. 2:8)

      Filsafat orang non-Kristen berdasar pada kemandirian pikiran manusia
      dan kesetiaan atas "tradisi manusia" serta "prinsip-prinsip dasar dari
      dunia". Tidak ada yang benar bagi mereka selain bisa dibuktikan benar
      oleh pikiran manusia yang mandiri.

      Untuk lebih jelasnya, Paulus menunjukkan karakter filsafat non-Kristen
      yang dengan tegas menolak Kristus dan bersikeras memertahankan
      kemandirian mereka. Orang-orang yang mengambil posisi netral juga
      telah menolak pernyataan Kristus sebagai Tuhan atas seluruh alam
      semesta. Oleh karena itu, filsafat non-Kristen dapat diumpamakan
      sebagai bangunan yang atapnya mendukung fondasinya; tidak ada dasar
      yang kokoh di bawahnya.

    2. Struktur Filsafat Kristen

      Filsafat Kristen menunjukkan usaha untuk menghindarkan diri dari
      kesia-siaan yang berasal dari kemandirian. Seperti yang dikatakan
      oleh Rasul Paulus:

      "Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah,
      supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita." (1 Kor.
      2:12)

      Paulus selanjutnya menyatakan sifat dari komitmen agamawi yang
      merupakan dasar dari filsafat Kristen:

      "Sebab dalam Dialah (Kristus) berdiam secara jasmaniah seluruh
      kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah
      kepala semua pemerintah dan penguasa." (Kol. 2:9-10)

      Paulus memberikan tiga prinsip yang penting sehubungan dengan
      filsafat Kristen:

      - "Di dalam Dia, seluruh kepenuhan ilahi tinggal." Kristus adalah
      penyataan Allah dalam bentuk fisik. Karena itu, filsafat manusia
      harus berdasarkan pada komitmen bahwa Kristus adalah yang
      diwahyukan Allah dalam Alkitab. Hanya Allah yang mengetahui alam
      semesta ini secara mendalam dan menyeluruh; hanya Dia yang dapat
      mengajarkan kebenaran kepada manusia. Karena Kristus adalah Allah,
      maka kita harus menyerahkan diri pada-Nya apabila kita ingin
      memiliki kebenaran.

      - "Di dalam Dia, kamu telah menjadi sempurna." Hanya melalui
      persekutuan dengan Kristus dalam iman, kita dimungkinkan untuk
      dapat melihat Allah, dunia, dan diri kita sendiri dengan tepat dan
      benar. Lepas dari iman pada Kristus sebagai komitmen dasar hidup,
      kita tidak mungkin mendapatkan filsafat yang benar.

      - "Dia adalah kepala dari segala pemerintah dan penguasa." Apabila
      kita lebih memercayai prinsip yang tidak bergantung secara total
      pada Allah sebagai dasar pikiran kita, maka ini sama dengan
      menganggap bahwa ada otoritas lain yang melebihi Kristus. Padahal
      tidak ada pengadilan yang dapat mengadili Kristus. Tidak ada hakim
      di atas Dia.

      Oleh karena itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh Kristus harus
      diterima sebagai kebenaran, sebab Dialah yang memiliki otoritas
      mutlak/terakhir atas segala sesuatu. Setiap aspek dari filsafat
      kristiani harus bersandar pada komitmen ketergantungannya pada Allah.
      Filsafat Kristen dapat digambarkan sebagai suatu bangunan yang besar
      dan disangga oleh satu tiang utama -- Kristus.

      Komitmen orang Kristen akan ketergantungannya pada Allah sering kali
      disalahmengerti dalam dua hal:

      Pertama, komitmen pada Kristus dianggap hanya dilaksanakan apabila
      berurusan dengan masalah-masalah gerejawi. Oleh karena itu,
      persoalan-persoalan sekuler tidak perlu didasarkan pada komitmen
      ketergantungan mutlak pada Allah. Pandangan ini sangat tidak benar.
      Komitmen ketergantungan secara mutlak pada Allah harus dilaksanakan
      dalam setiap aspek kehidupan manusia. Contohnya, dalam bercocok tanam,
      orang-orang percaya harus menyadari bahwa pengetahuannya adalah
      berasal dari Allah.

      "Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam
      dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai
      kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya? Mengenai adat kebiasaan ia
      telah diajari, diberi petunjuk oleh Allahnya." (Yes. 28:25-26)

      Semua hikmat dan pengetahuan kita berasal dari Allah.

      "yang memberi kita akal budi melebihi binatang di bumi, dan hikmat
      melebihi burung di udara?" (Ay. 35:11)

      Orang Kristen berusaha untuk bergantung pada Allah dalam segala
      sesuatu supaya dapat mengatasi segala sesuatu sesuai dengan prinsip
      berikut:

      "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau
      perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil
      mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kol. 3:17)

      Kedua, komitmen ketergantungan pada Allah disalahmengerti secara total
      dalam pengertian bahwa filsafat Kristen hanya sekadar membaca firman
      Tuhan dan berdoa. Padahal, orang-orang Kristen tidak mendapatkan
      keseluruhan filsafat mereka hanya dari Alkitab dan berdoa, walaupun
      kedua hal itu paling utama. Orang Kristen juga melihat dunia dan
      menemukan jawaban atas pertanyaannya setelah secara aktif melakukan
      pengamatan dan penganalisaan.

      Allah tidak mewahyukan jawaban secara rinci dalam Alkitab atas setiap
      pertanyaan yang diajukan manusia. Yang Allah berikan kepada kita
      adalah prinsip-prinsip sebagai pedoman untuk membangun filsafat kita.
      Saat Allah memerintahkan nabi Nuh untuk membangun bahtera, petunjuk
      tertentu diberikan melalui wahyu khusus, namun hal-hal yang terperinci
      dipelajari dengan menerapkan prinsip-prinsip sesuai dengan kondisi
      yang ada. Misalnya, Allah mengatakan kepada nabi Nuh untuk memplester
      bahtera itu, namun jumlah aspal yang akan dipergunakan tidak
      diberitahukan oleh Allah. Karena itu, nabi Nuh harus menentukan
      sendiri jumlah aspal dengan melihat seberapa banyak yang diperlukan
      untuk menjaga bahtera dari kebocoran. Filsafat Kristen bukan hanya
      membaca Alkitab dan berdoa. Tetapi merupakan sebuah konstruksi yang
      dibangun berdasarkan prinsip firman Tuhan.

      Tuduhan yang sering kali diberikan kepada orang Kristen adalah bahwa
      komitmen orang Kristen akan ketergantungan pada Allah merupakan hasil
      keputusannya yang mandiri. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa
      ketergantungannya pada Allah adalah proses kemandirian orang Kristen
      yang memutuskan bahwa kekristenan merupakan pilihan yang terbaik.
      Memang, seakan-akan terlihat seperti itu jika dilihat dari sudut
      pandang orang non-Kristen. Namun, orang Kristen menyadari bahwa
      kenyataannya tidak demikian. Orang Kristen tidak mendasarkan
      kemandiriannya saat menyerahkan diri untuk bergantung kepada Allah.
      Terlebih dahulu, ia telah diberi anugerah kelahiran baru, lepas dari
      kehendaknya sendiri. Oleh karena anugerah Allahlah, ia dimungkinkan
      untuk menyerahkan dirinya pada ketergantungan secara total pada Allah.

      "Hal itu tidak bergantung kepada kehendak orang atau usaha orang,
      tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Rom. 9:16)

      Sirkulasi pemikiran orang Kristen terdiri dari pengakuan bahwa tidak
      ada yang lebih tinggi daripada otoritas Allah dan firman-Nya.
      Sirkulasi pemikiran orang non-Kristen merupakan bukti dari pemikiran
      yang mandiri dan lepas dari Allah yang berusaha untuk mendukung
      dirinya sendiri. Perbedaan kedua pandangan ini membentuk jurang
      pemisah yang besar yang hanya bisa dijembatani oleh anugerah
      kelahiran baru dari Allah.

  2. Dilema Orang Non-Kristen dan Jawabannya

    Saat manusia menolak fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dan
    menyerahkan dirinya kepada kemandirian yang lepas dari Allah, manusia
    dihadapkan pada suatu dilema yang tidak dapat dihindari oleh
    orang-orang non-Kristen. Suatu analogi dapat kita lihat dalam teater
    Yunani kuno, di mana aktor yang sama sering kali harus memainkan
    berbagai peran dengan cara menggonta-ganti topengnya. Demikian juga
    halnya dengan orang non-Kristen yang tidak mengenal kebenaran Allah,
    mereka terpaksa harus memakai dua topeng. Saat berpaling kepada Allah,
    mereka menyatakan keyakinannya yang mutlak bahwa fakta perbedaan
    Pencipta dengan ciptaan-Nya adalah tidak benar; karena itu, ia memakai
    topeng "keyakinan yang mutlak". Namun ketika berpaling dari Allah,
    mereka berada pada posisi di mana ia tidak memunyai dasar yang kuat
    untuk pengetahuan. Karena itu, ia harus menggunakan topeng
    "ketidakyakinan yang mutlak".

    Suatu saat, orang non-Kristen memakai topeng yang satu dan memakai
    topeng yang lain pada saat lain. Sesungguhnya, mereka diperhadapkan
    pada suatu dilema yang tidak dapat dipecahkan di balik topeng itu, di
    mana kedua-duanya, pada saat yang sama, yakin secara mutlak dan tidak
    yakin secara mutlak. Pembukaan atau upaya menyingkapkan topeng orang
    tidak percaya dan memerlihatkan dilema ini kepada mereka, merupakan
    bagian penting dalam pembelaan (apologetika) alkitabiah.

    Apabila orang yang non-Kristen bersikeras untuk berpegang pada
    pandangannya, maka dia harus mengabaikan secara total kesadarannya
    akan keterbatasan manusia. Sering kali, keadaan ini diperlihatkan oleh
    orang non-Kristen sebagai usaha untuk menghindari kesombongan atau
    membuat dogma (memutlakkan sesuatu). Mereka akan mengatakan bahwa kita
    tidak yakin akan apa yang kita pikir kita tahu, atau bahwa kita hanya
    akan sampai kepada "pengetahuan yang berdasarkan pada suatu
    kemungkinan". Pernyataan ini kelihatannya seperti "kerendahan hati"
    pada permukaannya, namun sebenarnya merupakan pernyataan keyakinan dan
    ketidakyakinannya yang mutlak pada waktu bersamaan.

    Titik ini akan sangat menolong untuk menggambarkan lebih lanjut
    bagaimana filsafat orang non-Kristen memerlihatkan dilema "keyakinan
    yang mutlak bahwa tidak ada keyakinan-keyakinan yang mutlak".
    Penjelasan akan diberikan berdasarkan tiga hal utama dari pemikiran
    manusia -- tentang Allah, dunia di luar manusia, dan manusia sendiri.
    Penjelasan ini bukan merupakan penjelasan yang mendalam karena kita
    hanya akan memerlihatkan beberapa contoh untuk mendukung gambaran yang
    akan diberikan. Hal-hal ini sangat penting bagi apologetika
    alkitabiah.

    Filsafat Kristen menyediakan jawaban atas dilema orang non-Kristten.
    Kristus adalah dasar dari kepastian manusia dan jawaban atas
    ketidakpastian yang ditemukan. Allah dilihat sebagai sumber dari
    segala pengetahuan, maka orang Kristen tidak lagi dihadapkan pada
    masalah pasti dan tidak pasti yang tidak terpecahkan. Memang ada
    kepastian dan ketidakpastian dalam filsafat kristiani, namun itu semua
    ada di bawah bimbingan ke-Tuhanan Kristus.

    Di satu pihak, orang Kristen memiliki kepastian akan pengetahuan
    manusia selama ia bergantung pada wahyu Allah. Mendasari filsafat kita
    atas Allah dan wahyu-Nya, berarti menerima secara pasti hal-hal yang
    telah diwahyukan. Kepastian orang Kristen tidak dihancurkan oleh apa
    yang tidak diketahuinya karena Allah mengetahui segala sesuatu secara
    mendalam dan menyeluruh. Oleh karena itu, Ia dapat menyediakan
    pengetahuan yang cukup bagi manusia, bahkan dalam keterbatasan manusia
    sekalipun. Manusia akan mengetahuinya dengan benar tanpa disertai rasa
    takut akan salah.

    Di pihak lain, memang ada ketidakpastian dalam diri orang Kristen. Ia
    menyadari bahwa tidak mungkin ia mampu memahami semua pengetahuan. Ini
    berkenaan dengan hal-hal yang melampaui akal budinya dan yang belum
    dinyatakan Allah kepada manusia. Dalam hal-hal seperti itu, orang
    Kristen mengakui ketidakpastiannya, tetapi tetap percaya pada hikmat
    Allah dan pengertian-Nya yang sempurna. Contohnya, orang percaya tidak
    mampu untuk memecahkan misteri ke-Tuhanan dan kemanusiaan Tuhan Yesus.
    Namun, ia percaya bahwa hal itu bukanlah suatu misteri bagi Allah dan
    hal itu pasti benar karena Allah yang mengatakannya. Ketergantungan
    pada Allah ialah tetap memercayai-Nya dalam hal-hal yang belum dapat
    kita pahami sepenuhnya sekalipun. Dapat dikatakan, orang Kristen dapat
    memiliki ketidakpastian yang bergantung pada pengetahuan Allah yang
    sempurna.

    Supaya kita dapat melihat dengan jelas perbedaan antara kepastian dan
    ketidakpastian antara orang Kristen dan orang non-Kristen, kita akan
    melihat beberapa gambaran berikut ini.

    1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah

      Salah satu keterbatasan filsafat non-Kristen adalah dalam hal
      pertanyaan akan keberadaan Allah. Di satu pihak, orang non-Kristen
      (mungkin seorang ateis) berpegang pada keyakinan yang mutlak bahwa
      Allah tidak ada. Untuk berpegang pada pandangan ini, orang ateis
      berusaha untuk mengabaikan fakta keterbatasannya dalam menyelidiki
      seluruh alam semesta dan mendorongnya menyadari bahwa mereka tidak
      yakin secara mutlak akan keberadaan Allah. Oleh karena orang
      non-Kristen belum menyelidiki semua kemungkinan yang membuktikan
      keberadaan Allah, ia tidak dapat yakin secara mutlak bahwa Allah tidak
      ada.

      Orang Kristen memiliki kepastian yang bergantung pada Allah mengenai
      keberadaan dan karakter Allah melalui wahyu Allah dalam Alkitab. Allah
      telah berfirman dan menyatakan diri-Nya bahwa Ia dapat dikenali oleh
      mereka yang menyerahkan dirinya untuk percaya kepada Anak-Nya. Namun,
      orang Kristen memiliki ketidakpastian yang bergantung pada Allah
      karena ia tidak mengetahui segala sesuatu mengenai Allah. Allah
      merahasiakan sebagian mengenai diri-Nya. Selain itu, dosa yang tersisa
      dalam kehidupan orang percaya menahannya untuk mengetahui apa yang
      telah diwahyukan sebagaimana seharusnya. Namun demikian,
      ketidakpastian ini tidak menghancurkan segala sesuatu yang dapat
      diketahui oleh orang Kristen mengenai Allah, sebab Allah memiliki
      semua pengertian dan pengetahuan akan segala sesuatu.

    2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia

      Dilema dari filsafat orang non-Kristen dapat dilihat pula dari apa
      yang dikatakan mengenai lingkungan ciptaan di sekitar mereka. Klaim
      akan keyakinan yang mutlak telah dikemukakan, misalnya, saat mereka
      mengatakan bahwa dunia ini, dalam pengertian tertentu, merupakan dunia
      yang teratur dan dapat dimengerti. Mereka yakin secara mutlak bahwa
      keteraturan yang telah benar-benar diamati merupakan suatu realitas
      dari dunia ini. Namun, orang tidak percaya diperhadapkan pada fakta
      bahwa ia belum dan tidak dapat menyelidiki keseluruhan dari dunia di
      luar dirinya, sehingga ia tidak dapat menghindari ketidakpastian yang
      mutlak.

      Kepastian yang bergantung pada Allah dapat ditemukan dalam pandangan
      Kristen yang mengajarkan bahwa Allah telah menciptakan dunia yang
      teratur ini. Orang Kristen dapat mengerti tentang dunia ini sebab
      Allah telah menyediakan garis-garis petunjuk dalam Alkitab untuk dapat
      mengerti dunia ini. Ketidakpastian hadir dalam pandangan kristiani
      untuk beberapa alasan. Membutuhkan waktu untuk menerapkan pengajaran
      Alkitab ke dalam setiap aspek dari keseluruhan alam semesta ini. Lebih
      dari itu, kehadiran dosa menyebabkan orang Kristen mungkin mengabaikan
      Alkitab sehingga salah mengerti akan dunia, Alkitab, atau
      kedua-duanya. Akibatnya, filsafat Kristen memiliki ketergantungan
      kepastian dan ketergantungan ketidakpastian dalam memertimbangkan
      dunia di luar dirinya.

    3. Pemikiran Mengenai Manusia

      Bukanlah hal yang mengejutkan apabila orang non-Kristen juga
      memerlihatkan ketidakkonsistenan pemikiran ketika membicarakan diri
      mereka sendiri. Dengan beragam cara, orang non-Kristen menyelewengkan
      gambaran manusia secara alkitabiah sebagai manusia menurut gambar
      Allah dan menggantikannya dengan konsep mereka sendiri, lepas dari
      ketergantungannya pada Allah. Mereka bisa mengatakan tentang manusia
      seperti yang mereka mau. Apa pun masalahnya, orang non-Kristen
      sebenarnya membuat klaim yang berpegang pada kepastian yang mutlak dan
      mengabaikan fakta keterbatasan dari penyelidikan mereka sebagai
      manusia, serta akhirnya mengembalikan diri mereka pada ketidakpastian
      yang mutlak.

      Ketika memikirkan dirinya sendiri, orang Kristen kembali diperhadapkan
      pada kepastian dan ketidakpastian dalam ketergantungannya pada Allah.
      Orang Kristen mengetahui bahwa ia merupakan gambar Allah karena Allah
      mewahyukannya dalam Alkitab. Namun, ada misteri mengenai diri kita
      sendiri di mana orang Kristen tidak mampu memahaminya. Lebih dari itu,
      dosa menyebabkan orang Kristen salah mengerti dan kadang menolak
      kebenaran dari karakter mereka sendiri. Namun, orang Kristen
      menyerahkan dirinya pada pengertian bahwa secara menyeluruh, Allah
      mengerti karakter manusia. Oleh karena itu, saat orang Kristen berada
      dalam ketidakpastian yang bergantung pada A