Apa Artinya Bagi Saya?

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

"Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku!" Dengan kata-kata ini, Yesus memulai suatu gerakan yang telah mengubah dunia. Selama tiga tahun, Yesus mencurahkan hidup-Nya ke dalam hidup beberapa orang biasa yang bersahaja. Mereka ada bersama-sama dengan Dia ketika Ia menenangkan laut, memberi makan ribuan orang dengan makanan siang yang dibawa oleh seorang anak laki-laki, membangkitkan orang yang sudah mati, dan kemudian la sendiri bangkit dari antara orang mati. Ia mengatakan kepada orang-orang sederhana itu bahwa mereka akan melakukan hal-hal yang lebih besar lagi, dan sementara Yesus meninggalkan mereka dengan kata-kata itu, mereka siap untuk bergerak!

Jadikan Bangsa Murid Yesus

Dengan kuasa Roh Kudus, mereka menyembuhkan orang sakit, memberi hidup kepada orang-orang yang sudah mati, dan telah menggemparkan seluruh dunia sedemikian rupa, sehingga mereka dituduh telah "mengacaukan seluruh dunia" (Kisah Para Rasul 17:6). Alangkah menggairahkannya, seandainya kita hidup pada masa itu dan menjadi salah seorang pengikut Yesus yang pertama!

Akan tetapi, ratusan tahun telah berlalu dan gerakan itu terus maju. Sekarang, kita hidup dalam abad ke-20. Baru-baru ini, seorang ateis yang terkemuka berkata, "Jika kalian orang Kristen ingin menunjukkan kepada kami bahwa Allah telah menebus kalian, sebaiknya kalian mulai bertindak seperti orang-orang yang telah ditebus." Lebih mudah bagi ateis itu untuk mengemukakan masalahnya daripada bagi orang-orang Kristen untuk merumuskan "bagaimana" bertindak menjadi orang-orang yang telah ditebus -- teristimewa di dunia kita yang kacau balau ini. Zaman telah berubah. Keadaan tidak pernah seburuk seperti sekarang ini. Kita tidak dapat membaca koran atau menonton televisi tanpa dijejali dengan berbagai hal yang tidak beres dengan dunia ini. Kejahatan semakin meningkat. Di sebagian besar dunia, jumlah perceraian melebihi jumlah perkawinan. Di mana-mana ada peperangan, sengketa antara buruh dan majikan menjadi-jadi, kemiskinan dan masalah-masalah ekonomi bukannya membaik malahan makin memburuk.

Namun, dalam banyak hal, dunia kita ini sebenarnya tidak begitu berbeda dengan dunia pada masa Yesus. Masalah-masalah yang kita hadapi tampaknya lebih gawat hanya karena masalah-masalah itu adalah masalah-masalah kita, dan juga karena jumlah kita sekarang jauh lebih besar. Akan tetapi, masalah-masalah itu tetap ada karena cara orang-orang masa kini memecahkan masalah sama saja seperti cara orang-orang pada masa Yesus. Dan, usaha mereka sekarang tidak lebih baik daripada dahulu. Masyarakat harus mempunyai hukum, dan hukum harus ditegakkan untuk melindungi orang-orang terhadap diri sendiri, tetapi hukum dan penegakan hukum hanya sekadar menangani gejala-gejalanya, sedangkan inti masalahnya diabaikan, yaitu hati manusia yang berdosa. Kita dapat mengawasi dan membatasi orang jahat dan membuat keadaan lebih baik, tetapi tidak ada hukum yang dapat mengubah hati yang berdosa.

Hanya pembedahan yang radikal yang dapat sampai pada akar persoalan -- dan itu berarti transplantasi hati. Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6). Itulah pembedahan yang radikal. Itulah hati yang baru.

Yohanes 14:6

Manusia dapat membuat hukum sebagai cara untuk menguasai gejala, tetapi hanyalah Yesus yang dapat mengubah manusia dari bagian dalam sehingga ia mengalami perubahan di bagian luar -- berubah dalam hubungannya dengan orang lain. Ia menjadi ciptaan baru, dan manusia yang berubah berarti masyarakat yang berubah.

Orang Kristen adalah satu-satunya orang yang membawa suntikan untuk penyakit dosa, dan Allah ingin memakai hidup anak-anak-Nya untuk mengubah masyarakat. Ikut terlibat dalam tugas ini sungguh-sungguh merupakan hak istimewa.

Perintah Agung

Tema utama dalam Alkitab dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu ialah tema pendamaian, yaitu memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Dalam Kitab Kejadian, Allah menjadikan manusia (Kejadian 1:27) dalam keadaan mulia sehingga ia dapat hidup dalam hubungan yang terus-menerus dengan Allah Bapa. Kemudian, dalam Kejadian 3:6, manusia dicobai dan jatuh ke dalam dosa. Dengan demikian, terputuslah persekutuannya dengan Allah. Sejak saat itu, tema utama dari seluruh Alkitab ialah pemulihan manusia kepada keadaannya yang semula, di mana ia terus-menerus bersekutu dengan Allah Bapa.

Perjanjian Lama menunjukkan bagaimana Allah menyiapkan dunia untuk tindakan-Nya yang akan membawa pendamaian. Bangsa Yahudi dipilih oleh Allah untuk menyatakan janji-janji dan nubuat-nubuat mengenai Mesias yang akan datang, yang akan mati untuk dosa segenap umat manusia dan memungkinkan manusia untuk memulihkan hubungannya dengan Allah Bapa. Perjanjian Baru menjelaskan rencana Allah untuk mendamaikan kita dan bagaimana Ia mengundang dunia untuk menerima apa yang telah disediakan oleh-Nya. Perjanjian Lama melihat ke muka ke arah Salib, sedangkan Perjanjian Baru melihat ke belakang ke arah Salib. Tema utama dari Alkitab ialah mendamaikan dunia yang telah terpisah dari Allah oleh karena dosa supaya mereka kembali mempunyai hubungan yang baik dengan Allah (Yohanes 4:42).

Dalam 2 Korintus 5:17-19, Paulus mengatakan kepada Jemaat di Korintus bahwa Allah dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dan bahwa pelayanan pendamaian dipercayakan kepada gereja. Salah satu tujuan utama gereja dalam dunia masa kini ialah membawa pria dan wanita kepada pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus. Dan, bidang tugas itu ialah seluruh dunia ini (Matius 28:19-20). Tugas pendamaian itu disebut Perintah Agung. Yang mengherankan ialah bahwa Allah akan melaksanakan Perintah Agung ini dengan perantaraan orang-orang seperti Anda dan saya! Hal ini sangat menggembirakan, tetapi hal ini pula yang dapat menjadi masalah kita yang terbesar.

Perkembangan Watak Pribadi

Masalah yang sebenarnya dalam melaksanakan Perintah Agung ialah bahwa umat Allah tidak menjalani kehidupan orang yang telah ditebus. Allah telah memanggil kita kepada pelayanan pemuridan. Pada waktu seseorang menyambut panggilan ini, lalu berkembang sebagai seorang murid dan mulai memuridkan orang-orang lain, unsur-unsur dalam wataknya mulai mengalami perubahan yang menyolok.

Perkembangan watak yang terjadi dalam hidup seorang murid akan memengaruhi dan menguntungkan hal-hal seperti mata pencahariannya dan juga banyak bidang lain dalam kehidupannya.

Dalam menelaah watak yang terbentuk sementara seseorang berkembang sebagai seorang murid, kita akan melihat bahwa kedewasaan rohani mempunyai hubungan langsung dengan dunia nyata tempat kita hidup.

Perkembangan Kepercayaan Batiniah

Salah satu kekuatan terbesar yang dihadapi oleh orang percaya dewasa ini ialah tekanan lingkungan. Tekanan dari tetangga atau teman yang dapat menyebabkan dia kehilangan identitasnya. Ada tekanan untuk melakukan apa yang dilakukan oleh kelompok dan pergi ke tempat mereka pergi; atau kalau tidak, ia menghadapi risiko menjadi orang luar atau orang yang terasing.

Pada waktu seorang murid tumbuh dalam hubungannya dengan Kristus, ia mempunyai kesempatan untuk dibebaskan dari segala tekanan lingkungan ini. Ia tidak lagi memandang kepada sekelompok teman untuk mendapat kepuasan dan tidak lagi berusaha menyenangkan hati mereka dalam segala-galanya, melainkan ia memandang kepada Kristus untuk memperoleh damai dan kepuasan yang diberikan-Nya. Kenyataan ini memungkinkan dia untuk benar-benar hidup sebagai seorang pribadi. Ia tidak usah menjadi serupa dengan orang-orang di sekelilingnya karena ia hidup bagi Yesus dan bukan bagi mereka. Ia menjadi orang sebagaimana secara khusus ia telah diciptakan, yaitu menjadi seorang pribadi yang mempunyai keinginan untuk menyenangkan Allah.

Pada waktu seseorang berkembang sebagai murid dan melihat perubahan dalam hidupnya, ia mulai memandang dirinya sebagai seorang pribadi yang tidak usah takut membela kebenaran karena ia mengenal kebenaran dan mengetahui bahwa Yesus tidak akan mengecewakan dia. Ia mulai menghargai dirinya dan menerima kenyataan dirinya. Mengapa tidak? Apabila Kristus dapat menerima dia dengan segala kekurangannya, tentu saja ia sendiri harus dapat menerima dirinya. Sementara ia bertumbuh dalam penerimaan diri ini, emosinya semakin stabil dan ia menjadi lebih menyenangkan bagi orang lain.

Membangun Kepemimpinan

Memimpin seperti Yesus

Seorang murid adalah seorang pengikut Kristus, tetapi ia juga sedang berkembang sebagai pemimpin. Setidak-tidaknya, ada dua macam pemimpin. Ada pemimpin karena kedudukan dan ada pemimpin karena pengaruh.

Contoh seorang pemimpin karena kedudukan ialah orang yang telah lulus dari universitas dan mendapat pangkat Letnan Dua di dalam Angkatan Darat. Ia mengikuti program latihan selama dua bulan dan segera setelah itu diserahi tugas memimpin satu peleton. Orang-orang dalam peleton itu wajib mengikut pemimpin muda itu karena kedudukannya. Mereka tidak mempunyai pilihan; mereka harus mengikut dia. Ia adalah seorang pemimpin karena kedudukan.

Contoh pemimpin macam yang kedua ialah Yesus. Orang mengikut Yesus karena kepribadian-Nya, karena perangai-Nya, dan karena Ia mengetahui arah yang dituju-Nya. Orang tidak diharuskan mengikut Yesus, tetapi mereka mengikut Yesus atas pilihan sendiri. Ia adalah seorang pemimpin karena pengaruh.

Pada waktu seseorang berkembang sebagai murid, ia berkembang dalam hubungannya dengan Allah. Sementara ia berkembang dalam hubungan itu, ia semakin menjadi seperti Yesus Kristus sendiri. Alkitab mengatakan bahwa salah satu tujuan Roh Kudus ialah menjadikan kita serupa dengan gambaran Kristus (Roma 8:29). Sementara seorang murid menjadi serupa dengan gambaran Kristus, ia semakin banyak belajar dari cara-cara kepemimpinan-Nya. Orang-orang lain akan memutuskan untuk mengikut dia karena kepribadiannya, perangainya yang sedang berkembang, dan karena ia mengetahui arah yang ditujunya.

Bertambah-Tambah dalam Hikmat

Jelaslah bahwa sementara seseorang berkembang sebagai murid, ia mengembangkan hubungannya dengan Allah dan semakin mengenal Alkitab. Sementara pengetahuannya akan Alkitab semakin bertambah, setelah beberapa waktu, ia akan memperoleh perspektif baru tentang hidup. Ia tidak hanya sekadar dikuasai oleh pancaindranya karena ia memiliki dasar yang baru untuk mengambil keputusan -- hikmat Allah.

Hikmat menimbulkan pengarahan. Apabila orang mengambil keputusan berdasarkan kebenaran yang mutlak, ia mempunyai keyakinan bahwa keputusan yang telah diambilnya itu benar. Keyakinan ini memberikan kepadanya tujuan dan harga diri.

Mengembangkan Sikap Positif dalam Hidup

Sementara seorang murid belajar untuk menyandarkan diri pada firman Allah dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh pengalaman-pengalaman negatif yang ada di sekelilingnya, sikapnya secara keseluruhan lambat laun berubah dari sikap negatif ke sikap positif. Ini adalah karena firman Allah bersifat positif. Orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus tidak dihantui oleh kekhawatiran, kerisauan, atau kemurungan yang terus-menerus karena ia telah menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan sekarang segala masalahnya menjadi masalah Tuhan. Hal ini memberi kelonggaran kepada anak Allah itu dan dapat benar-benar menambah umurnya, dan pada saat yang sama juga menjadikan tahun-tahun tambahan itu tahun-tahun yang lebih sehat.

Ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa keadaan mental seseorang dapat memengaruhi tubuh jasmaninya. Kerisauan menimbulkan penyakit kulit dan serangan jantung, sedangkan kekhawatiran menimbulkan sakit kepala dan banyak gangguan lain yang parah. Karena itu, sementara seseorang berkembang sebagai murid, dengan mendapat dorongan dari rekan-rekan sekerjanya, sikap-sikapnya yang baru akan menjadi suatu kekuatan yang positif yang dapat benar-benar memperpanjang umurnya dan memperbaiki mutu kehidupannya.

Audio Apa Gunanya bagi Saya?

Diambil dari:
Judul buku : Pedoman Pemuridan
Judul artikel : Apa Gunanya Bagi Saya?
Penulis artikel : Hartman dan Sutherland
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung 2001
Halaman : 11 -- 16
Kategori: 

Komentar